Klaim Pakistan Soal Kesepakatan Damai AS-Iran Tuai Kritik

Pakistan dan Qatar berperan sebagai negosiator dalam konflik AS-Iran.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 19 Juni 2026, 09:11 WIB
Momen Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani kesepakatan damai AS-Iran di Paris, Prancis, pada Rabu (17/6/2026).

Liputan6.com, Washington D.C - Pernyataan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif yang menyebut Amerika Serikat (AS) dan Iran telah menyepakati teks akhir perjanjian damai menuai kritik setelah kedua negara menegaskan bahwa proses negosiasi masih berlangsung dan belum mencapai kesepakatan final.

Sharif sebelumnya menyatakan Pakistan, yang berperan sebagai fasilitator pembicaraan, tengah bekerja sama dengan Washington dan Teheran untuk menyelesaikan tahapan akhir implementasi kesepakatan.

"Mengesampingkan berbagai kebisingan, kami dapat mengonfirmasi bahwa teks akhir kesepakatan damai telah disepakati dan Pakistan sekarang bekerja sama erat dengan kedua pihak untuk menyelesaikan langkah selanjutnya. Perdamaian belum pernah sedekat ini seperti sekarang," kata Sharif, dikutip dari laman BBC, Jumat (19/6/2026).

Namun, pernyataan tersebut segera dibantah oleh pejabat Iran dan Amerika Serikat.

Iran menegaskan pembahasan mengenai sejumlah isu penting masih berlangsung dan belum ada persetujuan atas naskah akhir. Teheran juga menyatakan tidak akan mengorbankan "garis merah" dalam perundingan.

Sementara itu, pejabat AS juga menyampaikan bahwa negosiasi belum mencapai tahap akhir sehingga belum dapat dinyatakan selesai.

Perbedaan pernyataan tersebut memunculkan kritik terhadap langkah Islamabad yang dinilai terlalu dini mengumumkan keberhasilan diplomatik sebelum seluruh pihak yang terlibat menyatakan kesepakatan telah tercapai.

Negosiasi Dialog

Pejalan kaki melewati lukisan mural yang menggambarkan pendiri Republik Islam Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini dan bendera nasional di sepanjang dinding bekas Kedutaan Amerika Serikat (AS) di Ibu Kota Teheran, Iran, Sabtu (22/6/2019). (ATTA KENARE/AFP)

Sejumlah pengamat menilai Pakistan seharusnya tetap menjalankan perannya sebagai fasilitator proses dialog, bukan tampil sebagai pihak yang mengumumkan hasil akhir negosiasi.

Pakistan diketahui dipilih sebagai fasilitator pembicaraan antara AS dan Iran di tengah situasi geopolitik yang kompleks. Posisi tersebut dinilai dapat diterima oleh kedua belah pihak, sementara negara-negara lain di kawasan memiliki kepentingan strategis masing-masing.

Meski demikian, sejumlah analis mengingatkan bahwa keberhasilan proses diplomasi sangat bergantung pada kepercayaan para pihak. Karena itu, setiap pernyataan yang dianggap mendahului hasil resmi dikhawatirkan dapat memengaruhi jalannya negosiasi.

Perundingan AS-Iran sendiri menjadi perhatian dunia karena menyangkut upaya mengakhiri konflik yang telah memengaruhi stabilitas kawasan Timur Tengah, rantai pasok global, serta pasar energi internasional.

Hingga kini, baik Washington maupun Teheran masih melanjutkan pembahasan mengenai sejumlah isu yang belum mencapai titik temu. Dengan demikian, status perjanjian damai tersebut masih menunggu kesepakatan resmi dari kedua negara.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya