IHSG Sepekan Diprediksi Bergerak di 8.950-9.150

Kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) akan mempengaruhi laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan ini.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 19 Januari 2026, 10:32 WIB
Berikut prediksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG0 selama sepekan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Analis pasar modal sekaligus Founder Stocknow.id Hendra Wardana, memperkirakan pada perdagangan saham pekan ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di kisaran 8.950 hingga 9.150.

"IHSG diperkirakan bergerak dalam fase konsolidasi sehat di level tinggi. Untuk sepekan ke depan, rentang pergerakan indeks diproyeksikan berada di kisaran 8.950 hingga 9.150," kata Hendra dalam keterangannya, Senin (19/1/2026).

Ia menjelaskan, level 8.950-9.000 berpotensi menjadi zona penahan koreksi sekaligus area akumulasi, sementara area 9.100 hingga 9.150 menjadi resistance jangka pendek yang rawan diwarnai aksi profit taking.

"Selama indeks mampu bertahan di atas area support tersebut, tren menengah IHSG masih tergolong positif dan belum mengarah pada pembalikan tren," ujarnya.

Dari sisi sentimen, terdapat beberapa faktor utama yang memengaruhi pergerakan IHSG dalam sepekan ke depan. Dinamika kebijakan tarif Amerika Serikat akan menjadi penentu arah pasar regional dan global. 

Selain itu, arus dana investor asing masih menjadi kunci, terutama karena pergerakan IHSG belakangan lebih banyak ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar. 

Kebijakan sementara MSCI

Di sisi lain, kebijakan sementara MSCI hingga Mei 2026 justru menjadi faktor stabilisasi pasar. Dengan dikuncinya bobot saham, penggunaan free float yang lebih konservatif, serta pembatasan bobot saham baru dalam indeks, potensi guncangan akibat rebalancing besar relatif minim. 

"Kondisi ini membuat volatilitas indeks cenderung lebih terkendali dan memberikan ruang bagi investor untuk lebih fokus pada fundamental emiten," ujarnya.

Dalam kondisi indeks yang sudah berada di level tinggi, strategi selektif dan berbasis trading menjadi lebih relevan. 

 

 

 

Rekomendasi Saham

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Hendra menuturkan, saham perbankan besar seperti BBRI masih menarik dicermati dengan pendekatan trading buy dan target di area 4.000, seiring perannya sebagai penopang utama IHSG. 

Selain itu, saham BOW menarik untuk strategi buy on weakness di area 600 dengan target 700, sementara OASA dapat dicermati di area buy on weakness 378 dengan target 420. Terdapat pula peluang trading buy dengan target 560 yang lebih cocok bagi investor jangka pendek yang siap memanfaatkan fluktuasi pasar.

"Secara keseluruhan, prospek IHSG sepekan ke depan masih berada dalam koridor positif, meskipun tidak lagi berada dalam fase euforia. Pasar sedang menguji kekuatan setelah reli panjang, dengan perhatian utama tertuju pada stabilitas sentimen global dan kesinambungan arus dana asing," pungkasnya.

IHSG Sepekan Melompat 1,55% Tersengat Harga Emas

Pekerja tengah melintas di bawah layar Indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Selasa (16/5/2023). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan saham 12-15 Januari 2026. Bahkan, IHSG menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan ini. Analis menuturkan, kenaikan IHSG sepekan didorong salah satunya lonjakan harga emas.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), Jumat (16/1/2026), IHSG melonjak 1,55% dan ditutup ke posisi 9.075,40. IHSG melanjutkan kenaikan dari pekan lalu yang menguat 2,15% ke posisi 8.936,75.

Sementara itu, kapitalisasi pasar juga melambung 1,29% menjadi Rp 16.512 triliun dari pekan lalu Rp 16.301 triliun. Pada pekan ini, IHSG dan kapitalisasi pasar juga kembali catat rekor tertinggi.

“Hari Kamis, 15 Januari 2026, IHSG dan kapitalisasi pasar bursa kembali mencatatkan rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) masing-masing pada level 9.075,40 dan Rp 16.512 triliun,” ujar Sekretaris Perusahaan BEI, Kautsar Primadi Nurahmad.

Sementara itu, Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menuturkan, selama sepekan IHSG naik 1,55% dan masih didominasi oleh volume pembelian, meski cenderung menurun. Pihaknya memprediksi, IHSG dipengaruhi oleh beberapa sentimen. Pertama, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sekitar 0,21% selama sepekan.

 

   

Sentimen IHSG

Suasana di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/11/2015). Pelemahan indeks BEI ini seiring dengan melemahnya laju bursa saham di kawasan Asia serta laporan kinerja emiten triwulan III yang melambat. (Liputan6.com/Immanuel Antonius)

Kedua, menguatnya harga komoditas emas dan logam mineral lain, sehingga hal tersebut berpengaruh positif terhadap emiten-emiten yang berhubungan di IHSG.

“Ketiga, dari global masih pada sentimen geopolitik Amerika Serikat-Venezuela dan Amerika Serikat-Iran,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.

Sementara itu, peningkatkan tertinggi terjadi pada rata-rata nilai transaksi harian bursa sebesar 3,87% menjadi Rp 32,68 triliun dari Rp 31,46 triliun pada pekan lalu.

Namun, perubahan terjadi pada rata-rata volume transaksi harian bursa pada pekan ini sebesar 2,68% menjadi 60,13 miliar saham dari 61,79 miliar saham pada pekan lalu.

Rata-rata frekuensi transaksi harian melemah 3,24% menjadi 3,86 juta kali transaksi dari 3,99 juta kali transaksi pada pekan lalu.

Adapun investor asing mencatatkan nilai bersih Rp 947,45 miliar pada Kamis, 15 Januari 2026. Sepanjang 2026, investor asing beli saham Rp 7,3 triliun.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya