ASII Bakal Buyback Saham Rp 2 Triliun

PT Astra International Tbk (ASII) menyiapkan Rp 2 triliun untuk melakukan buyback saham. Buyback saham dilakukan pada 19 Januari-25 Februari 2026.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 17 Januari 2026, 12:45 WIB
PT Astra International Tbk (ASII) akan buyback saham mulai 19 Januari 2026. (Foto: Astra)

Liputan6.com, Jakarta - PT Astra International Tbk (ASII) mengumumkan akan membeli kembali atau buyback saham pada 19 Januari-25 Februari 2026. Pembelian kembali saham yang dilakukan perseroan maksimal Rp 2 triliun dan dilakukan seraca bertahap dan penuh.

Mengutip keterbukaan informasi ke Bursa Efek Indonesia (BEI), Sabtu (17/1/2026), buyback saham oleh Astra International tidak akan melebihi 20% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan serta jumlah saham free float setelah pelaksanaan pembelian kembali saham tidak akan menjadi kurang dari 7,5% dari modal ditempatkan dan disetor perseroan.

"Pelaksanaan pembelian kembali saham tidak memiliki dampak negatif yang material bagi kinerja keuangan dan kegiatan usaha perseroan,” demikian seperti dikutip. Untuk melakukan buyback saham ini, perseroan akan menunjuk satu perusahaan efek. 

Selain itu, perseroan berharap buyback saham yang dilakukan dapat menstabilkan harga saham perseroan dalam kondisi pasar yang fluktuatif, selain memberikan keyakinan kepada investor atas nilai saham perseroan secara fundamental.

“Pembelian kembali saham juga memberikan fleksibilitas bagi perseroan dalam mengelola modal jangka panjang di mana saham treasuri dapat dijual pada masa yang akan datang dengan nilai yang optimal jika perseroan memerlukan penambahan modal,” demikian seperti dikutip dari keterbukaan informais BEI.

Adapun buyback saham ASII akan dilakukan sesuai ketentuan Peraturan OJK Nomor 13 Tahun 2023 tentang kebijakan dalam menjaga kinerja dan stabilitas pasar modal pada kondisi pasar yang berfluktuasi signifikan, surat OJK Nomor S-102/D.04/2025 tanggal 17 September 2025 perihal Kebijakan Pelaksanaan Pembelian Kembali Saham yang Dikeluarkan oleh Perusahaan Terbuka dalam Kondisi Pasar yang Berfluktuasi signifikan. Selain itu, Peraturan OJK Nomor 29 Tahun 2023 tentang pembelian kembali saham yang dikeluarkan oleh perusahaan terbuka.

Pada penutupan perdagangan saham Kamis, 15 Januari 2026, harga saham ASII turun 1,05% ke posisi Rp 7.050 per saham. Harga saham ASII dibuka naik ke posisi Rp 7.200 per saham. Saham ASII berada di level tertinggi Rp 7.200 dan terendah Rp 7.000. Total frekuensi perdagangan 11.111 kali dengan volume perdagangan saham 417.964 saham. Nilai transaksi Rp 295,2 miliar.

ASII Fokus ke Bisnis Inti, Layanan Kesehatan dan Infrastruktur Jadi Andalan

Gedung

Sebelumnya, PT Astra International Tbk (ASII) menegaskan seluruh tujuh lini bisnis yang dimiliki perseroan merupakan sektor inti yang akan terus dioptimalkan. Perseroan juga menyoroti sektor layanan kesehatan dan infrastruktur sebagai area dengan potensi pertumbuhan kuat ke depan.

Head of Corporate Investor Relations Astra International, Tira Ardianti, mengatakan ketujuh portofolio bisnis utama meliputi otomotif dan mobilitas, jasa keuangan, alat berat dan pertambangan, agribisnis, infrastruktur, teknologi informasi, serta properti.

“Tujuh core portfolio ini akan terus kami optimalisasikan, baik melalui pengembangan internal maupun melalui investasi-investasi yang berhubungan dengan bisnis-bisnis inti tersebut. Semuanya inti, tujuh lini bisnis kami, kami tidak membedakan antara inti dan non-inti,” ujarnya dalam acara Astra Media Day, Selasa (23/9/2025).

Ia menambahkan, Astra juga mulai mengembangkan area yang berdekatan dengan bisnis inti, termasuk investasi di sektor layanan kesehatan, telemedicine, rumah sakit, asuransi kesehatan, hingga peralatan medis. 

Selain itu, sektor infrastruktur dinilai memiliki prospek cerah, dengan delapan konsesi jalan tol sepanjang 396 kilometer dan laba bersih lebih dari Rp 1 triliun pada tahun sebelumnya.

“Kami melihat bahwa sektor layanan kesehatan dan infrastruktur ini punya potensi pertumbuhan yang sangat baik ke depannya. Infrastruktur itu penting untuk pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan layanan kesehatan kami yakini akan menjadi sektor yang terus berkembang,” jelas Tira.

 

Strategi Perseroan

Gedung PT Astra International Tbk (Foto: Astra)

Astra menegaskan strategi ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang perusahaan untuk memperkuat posisinya di berbagai sektor yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebelumnya, ASII melalui, United Tractors, terus memperluas diversifikasi bisnis di sektor mineral non-batubara. Direktur Astra, Frans Kesuma, menyampaikan perseroan kini telah memiliki portofolio di dua komoditas utama, yakni emas dan nikel.

“United Tractors berfokus pada mineral dan kita juga sama-sama paham saat ini ada 2 mineral yaitu emas dan nikel. Di mana emas itu ada 2 perusahaan juga dan nikel juga mengakuisisi 2 perusahaan, yang pertama 20%, yang kedua 90%,” ujar Frans dalam konferensi pers, Rabu (27/8/2025).

Ia menambahkan, langkah ke depan perseroan tidak hanya berhenti pada dua komoditas tersebut. United Tractors tengah menjajaki peluang masuk ke mineral lain, khususnya tembaga yang kerap dikaitkan dengan emas.  

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya