Liputan6.com, Jakarta - Museum Louvre, Paris, Prancis, resmi menaikkan harga tiket masuk untuk turis asing non-Eropa. Kini, pengunjung kategori itu harus membayar 32 euro (sekitar Rp627 ribu), 45 persen lebih mahal dari orang Eropa.
Kelompok yang dipandu sekarang harus membayar 28 euro (sekitar Rp550 ribu) dengan kuota maksimal 20 orang per kunjungan, menurut pihak berwenang museum. Pembedaan harga tiket masuk itu bertujuan untuk mendanai renovasi landmark Paris yang sedang kesulitan uang.
Advertisement
Museum tersebut mengatakan kenaikan harga, dari 22 euro (sekitar Rp431,7 ribu) menjadi 32 euro adalah bagian dari kebijakan nasional 'penetapan harga berbeda' yang diumumkan awal tahun lalu. Melansir Euro News, Jumat, 16 Januari 2026, kebijakan harga ganda itu dinilai sebagai langkah kontroversial.
Meski umum di negara berkembang, praktik itu hingga saat ini tidak berlaku di sebagian besar Eropa karena dianggap diskriminatif, membatasi akses ke museum yang paling banyak dikunjungi di dunia untuk sejumlah turis asing dari negara berpenghasilan rata-rata rendah.
Sejumlah turis asing yang diwawancarai AFP pada Rabu, 14 Januari 2026, menanggapi hal itu secara beragam. Kevin Flynn, seorang warga Australia berusia 60an yang menghabiskan seminggu di Paris bersama istrinya, mengatakan harga tiket baru untuk non-Eropa "dapat diterima". "Harganya sama untuk banyak hal di Italia, banyak hal di Malta… dalam skala itu," katanya.
Namun, Joohwan Tak dari Korea Selatan menganggapnya 'tidak adil'. "Kita semua manusia. Ada perbedaan besar," tambahnya.
Jika saya pergi ke India, orang India membayar lebih murah daripada orang asing, itu normal, karena mereka memiliki uang lebih sedikit," tambah Marcia Branco, seorang warga Brasil. "Tetapi karena saya berada di Paris, yang konon merupakan negara kaya, saya merasa ini tidak adil."
Rencana Penggunaan Dana Hasil Kenaikan Tiket Masuk
Kenaikan harga terakhir terjadi pada Januari 2024, ketika biaya masuk standar naik dari 17 euro menjadi 22 euro. Perubahan harga itu berlaku untuk pengunjung dari sebagian besar negara non-Uni Eropa, termasuk Amerika Serikat, yang biasanya menyumbang sebagian besar wisatawan asing ke Louvre.
Louvre mengatakan bahwa kenaikan tarif itu akan membantu mendanai investasi proyek modernisasi Louvre-New Renaissance yang diperkirakan menghasilkan tambahan 15 juta euro hingga 20 juta euro per tahun. Keputusan tersebut juga didukung pemerintah Prancis, terutama setelah kasus pencurian sejumlah perhiasan era Napoleon yang hingga kini belum ditemukan.
Berdasarkan struktur harga baru, pengunjung yang bukan warga negara atau penduduk Uni Eropa, atau Islandia, Liechtenstein, atau Norwegia, akan membayar tarif yang lebih tinggi, kata Louvre. Beberapa kategori tetap berhak mendapatkan tiket masuk gratis, terutama pengunjung di bawah usia 18 tahun.
Kenaikan Harga Tiket Versailles hingga Opera Nasional
Euro News juga melaporkan bahwa selain Louvre, sejumlah destinasi wisata sejarah lain di Prancis juga menaikkan harga tiket masuknya untuk turis non-Eropa, termasuk Istana Versailles, Château de Chambord di wilayah Loire, dan Opera Nasional Paris.
Di Versailles, tiket 'paspor' akan berharga 35 euro pada musim ramai untuk pengunjung dari negara-negara di luar Uni Eropa, Islandia, Liechtenstein, dan Norwegia. Harga itu lebih mahal tiga euro dibandingkan untuk pengunjung yang merupakan warga negara atau penduduk Eropa.
Di Sainte-Chapelle, kata pejabat warisan budaya, tiket naik menjadi 22 euro untuk pengunjung dari luar negara-negara tersebut. Harganya empat euro lebih mahal dibandingkan harga tiket untuk pengunjung yang merupakan warga negara dari negara-negara Uni Eropa.
Kebijakan penaikan harga tersebut memicu penolakan dari serikat pekerja Louvre. Mereka berpendapat bahwa koleksi museum yang luas, sekitar 500 ribu karya dengan kebanyakan berasal dari Mesir, Timur Tengah, atau Afrika itu bernilai universal. Selain itu, pekerjaan staf jadi bertambah karena harus memeriksa identitas pengunjung.
Indikasi Nasionalisme Tak Terkendali
Peneliti Prancis Patrick Poncet menganalisis kenaikan harga tiket masuk museum yang diambil Prancis dan kesamaannya dengan kebijakan 'America First' yang diluncurkan Presiden Donald Trump. Presiden Amerika Serikat itu menaikkan biaya masuk taman-taman nasional AS bagi turis asing sebesar USD 100, efektif mulai 1 Januari 2026.
"Kebijakan Prancis merupakan gejala kembalinya, seperti di tempat lain di dunia, nasionalisme yang tak terkendali," tulis Poncet di surat kabar Le Monde bulan lalu.
Di sisi lain, Indonesia lewat Museum dan Cagar Budaya juga menaikkan harga tiket masuk Museum Nasional bagi pengunjung dewasa dan turis asing. Pengunjung dewasa kini harus membayar tiket masuk Rp50.000, sedangkan turis asing ditarif Rp150 ribu.
Kepala Museum dan Cagar Budaya Museum Nasional Indonesia, Indira Estiyanti Nurjadin, mengatakan penyesuaian tarif diperlukan agar museum dapat menjalankan fungsi pelestarian koleksi secara optimal.
“Penyesuaian tarif dilakukan agar Museum Nasional Indonesia dan koleksinya dapat terus dirawat sesuai standar pemeliharaan internasional serta tetap menjadi ruang yang nyaman dan bermakna bagi masyarakat,” kata Indira dalam siaran pers yang diterima Liputan6.com.