Liputan6.com, New Delhi - Ibu kota India, Delhi, mencatat pagi Januari paling dingin dalam tiga tahun terakhir. Kantor cuaca India melaporkan suhu turun hingga sekitar 3 derajat Celcius saat gelombang dingin melanda sebagian besar wilayah barat laut negara tersebut.
Suhu mendekati titik beku tercatat di berbagai kota di Haryana, Punjab, dan Rajasthan. Kota satelit Gurugram di wilayah ibu kota nasional bahkan mencatat angka ekstrem 0,6 derajat Celcius. Angka tersebut menjadi salah satu suhu terendah di wilayah itu dalam hampir lima dekade terakhir.
Advertisement
Penurunan suhu ekstrem tersebut menciptakan situasi terbalik yang tidak lazim, di mana bagian utara India menjadi lebih dingin dibandingkan beberapa kota perbukitan di Himalaya. Stasiun cuaca Safdarjung di Delhi merekam suhu 3,2 derajat Celcius pada Senin (12/1/2026), mendekati rekor 2,6 derajat Celcius pada 18 Januari 2023. Padahal, suhu minimum Delhi pada Januari biasanya berkisar antara 7 hingga 9 derajat Celcius.
Kondisi serupa terjadi di Amritsar dengan suhu turun hingga 1,1 derajat Celcius, Churu di Rajasthan mencatat 1,3 derajat Celcius, dan Hisar di Haryana berada di angka 2,6 derajat Celcius. Sebaliknya, stasiun perbukitan seperti Shimla dan Mussoorie justru terasa jauh lebih hangat dengan suhu masing-masing 8,8 derajat Celcius dan 7,7 derajat Celcius akibat minimnya salju di wilayah Himalaya.
Ahli meteorologi menjelaskan bahwa pola cuaca tersebut dipicu oleh langit malam yang cerah dan angin barat laut dingin di atas dataran rendah, yang membuat panas terlepas cepat setelah matahari terbenam. Sementara itu, tutupan awan di kaki bukit Himalaya bertindak seperti selimut yang menahan penurunan suhu secara tajam.
"Malam itu berawan di dataran yang lebih tinggi, itulah sebabnya suhu minimum tetap lebih tinggi di sana. Di dataran rendah, langit yang cerah menyebabkan pendinginan radiasi yang kuat,” kata Direktur Jenderal Departemen Meteorologi India, M Mohapatra, Mengutip laporan Independent, Sabtu, (17/1).
Ancaman Kesehatan dan Kualitas Udara Memburuk
Dampak gelombang dingin tersebut terlihat dari citra satelit NASA yang menunjukkan kabut menyelimuti dataran utara Gangga. Di darat, embun beku menutupi tanaman, rerumputan, hingga kaca depan mobil di sekitar Gurugram. Kabut tebal juga mengurangi jarak pandang di jalan raya secara signifikan pada pagi hari.
Cuaca ekstrem tersebut terjadi bersamaan dengan kualitas udara yang buruk secara terus-menerus. Angin yang tenang dan inversi suhu memerangkap polusi di dekat permukaan tanah, sehingga memperparah kabut asap di seluruh Delhi dan negara bagian sekitarnya.
Petugas cuaca telah mengeluarkan peringatan oranye untuk kondisi gelombang dingin hingga sangat dingin, serta memperingatkan risiko kesehatan termasuk hipotermia, penyakit pernapasan, dan tekanan pada kelompok rentan seperti lansia serta anak-anak.
Musim dingin tersebut juga tercatat sangat kering, dengan wilayah India barat laut mengalami defisit curah hujan lebih dari 80 persen pada Desember dan awal Januari, menyebabkan sedikitnya lapisan salju di perbukitan dan membiarkan udara dingin menyebar bebas di dataran rendah.
Suhu diperkirakan akan tetap rendah secara tidak normal selama beberapa hari ke depan sebelum perlahan naik seiring meningkatnya tutupan awan dan melemahnya angin.