Liputan6.com, Teheran - Iran kembali membuka wilayah udaranya pada Kamis (15/1/2026) pagi setelah sempat ditutup selama beberapa jam di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat, yang memicu kekhawatiran akan potensi serangan militer dan meningkatkan risiko bagi maskapai penerbangan.
Pembatasan penerbangan tersebut berlaku selama sekitar lima jam dan berakhir pada pukul 03.30 waktu setempat. Penutupan sementara itu melarang sebagian besar penerbangan masuk dan keluar wilayah udara Iran, dikutip dari laman CNBC, Jumat (16/1).
Advertisement
Data pelacak penerbangan FlightRadar24 menunjukkan bahwa pada pukul 04.00 waktu setempat. Sebagian besar pesawat kembali melintasi wilayah udara Iran, meski sejumlah maskapai domestik baru secara bertahap melanjutkan operasionalnya.
Dalam perintah awal, otoritas penerbangan Iran mengecualikan penerbangan internasional dari dan menuju Teheran, dengan syarat maskapai memperoleh persetujuan terlebih dahulu dari otoritas penerbangan sipil.
Penutupan wilayah udara terjadi seiring meningkatnya ketegangan politik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan melakukan intervensi menyusul penindakan keras terhadap demonstrasi anti-pemerintah di Iran. Trump secara terbuka menyatakan akan “datang menyelamatkan” para demonstran jika kekerasan terus berlanjut.
Di saat yang sama, Amerika Serikat mulai memindahkan sebagian personel dan peralatan dari pangkalan militernya di Timur Tengah, menyusul ancaman Iran untuk menyerang fasilitas tersebut apabila Washington melancarkan serangan.
Namun, Trump kemudian tampak melunakkan sikapnya. Dalam pernyataannya di Gedung Putih pada Rabu malam, ia mengaku mendapat jaminan bahwa pembunuhan terhadap demonstran telah berhenti dan mengatakan akan “mengamati dan melihat” sebelum mengambil langkah lebih lanjut terkait opsi militer.
Situasi keamanan tersebut berdampak langsung pada sektor penerbangan. Sejumlah maskapai membatalkan atau mengubah rute penerbangan ke Teheran dalam beberapa hari terakhir. Maskapai terbesar India, IndiGo, menyatakan pada Kamis bahwa sejumlah penerbangan internasionalnya terdampak oleh penutupan wilayah udara Iran.
Peringatan Jerman
Awal pekan ini, pemerintah Jerman juga memperingatkan maskapai nasionalnya untuk tidak memasuki wilayah udara Iran. Lufthansa Group menyatakan akan menghindari wilayah udara Iran dan Irak hingga pemberitahuan lebih lanjut, dengan beberapa penerbangan dibatalkan.
Amerika Serikat sendiri telah melarang seluruh penerbangan komersial AS melintasi wilayah udara Iran. Maskapai internasional lain, termasuk Emirates, Qatar Airways, dan Turkish Airlines, turut membatalkan sejumlah penerbangan ke Iran dalam sepekan terakhir.
Gelombang protes di Iran meletus pada akhir tahun lalu setelah nilai tukar rial anjlok ke level terendah sepanjang sejarah, memperparah krisis biaya hidup. Aksi tersebut kemudian berkembang menjadi gerakan yang lebih luas menentang pemerintahan teokratis Iran dan berujung bentrokan brutal. Kelompok pemantau hak asasi manusia HRANA yang berbasis di Amerika Serikat mencatat sedikitnya 2.571 orang tewas dalam kerusuhan tersebut.