Liputan6.com, Jakarta - Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi sejak akhir pekan lalu tak beriringan dengan posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih bertahan di atas level psikologis 9.000. Co-Head of JANA and Asia South, Investment Banking Coverage Citi, Kaustubh Kulkarni, menilai fenomena tersebut tidak bisa dilihat secara parsial.
Menurut dia, Indonesia justru berada dalam pola yang sama dengan sejumlah pasar besar Asia, sehingga belum bisa langsung disimpulkan sebagai red flag, apalagi red alarm.
Advertisement
Kulkarni menjelaskan kondisi indeks saham mencetak rekor tertinggi di tengah pelemahan mata uang juga terjadi di banyak negara Asia. Ia menyebut dinamika serupa terlihat di Jepang, Korea Selatan, hingga India, di mana indeks saham utama berada di level tinggi sementara mata uang domestik justru tertekan.
""Kita lihat di sini adalah Indonesia bukanlah satu-satunya pasar di mana Anda melihat tema ini. Bahkan, jika Anda melihat pasar di Asia Utara dan Selatan, jadi Jepang, Korea, kita memiliki dinamika yang sangat mirip," kata Kulkarni dalam Asia South Investment Banking Outlook 2026, Kamis (15/1/2026).
Menurut dia, situasi ini dipengaruhi oleh respons bank sentral dan pemerintah masing-masing negara dalam menghadapi tekanan global, termasuk eskalasi isu tarif perdagangan.
"Alasannya adalah bagaimana beberapa ekonomi ini dan bank sentral di ekonomi ini menanggapi seluruh tekanan tarif yang sedang meningkat dan bagaimana negara-negara tersebut dapat menyerapnya," ujar dia.
Dalam konteks tersebut, nilai tukar kerap dijadikan instrumen untuk menyerap guncangan eksternal agar tekanan tidak langsung memukul sektor riil maupun pasar keuangan.
"Dan di negara-negara ini, mata uang secara efektif telah menjadi alat penyerap guncangan dan karenanya mata uang secara efektif telah bergerak ke arah yang berlawanan dari perspektif depresiasi," ujarnya.
Likuiditas Domestik Menopang Pasar Saham
Kulkarni menilai kekuatan pasar saham di negara-negara tersebut, termasuk Indonesia, ditopang oleh faktor domestik yang solid. Konsumsi dalam negeri yang kuat, likuiditas domestik yang besar, serta tingginya partisipasi investor ritel menjadi fondasi utama aliran dana ke pasar saham.
"Namun, masing-masing ekonomi ini, karena konsumsi domestik yang kuat, likuiditas domestik yang substansial, sentimen ritel yang sangat kuat, investasi ritel di pasar keuangan yang juga sangat kuat," ujarnya.
Ia menambahkan, sentimen ritel yang positif dan meningkatnya investasi masyarakat di instrumen keuangan membuat likuiditas tetap mengalir ke bursa. Kondisi ini pada akhirnya menopang valuasi saham, meskipun mata uang berada dalam tren melemah.
Pertumbuhan Laba Jadi Kunci Kepercayaan Pasar
Selain likuiditas, faktor paling krusial yang menopang indeks saham adalah pertumbuhan kinerja emiten. Kulkarni menyoroti bahwa di Korea, Jepang, India, hingga Indonesia, pertumbuhan laba perusahaan sepanjang tahun ini tergolong sangat baik dan diperkirakan berlanjut pada tahun depan.
"Oleh karena itu, saya pikir Anda mengatakan pasar yang kuat dan mata uang yang lemah, yang juga memberi kita kepercayaan diri dalam hal mengapa aktivitas penggalangan modal ekuitas di sejumlah pasar ini akan sangat kuat karena kondisi pasar saat ini," ujarnya.
Ia menegaskan, kombinasi pasar saham yang kuat dan mata uang yang melemah justru memberi keyakinan bahwa aktivitas penggalangan dana, termasuk pasar modal ekuitas, berpotensi tetap bergairah di kawasan ini.