UIN Satu Tulungagung Jatim Kembangkan Bioswale, Perkuat Kampus Ramah Lingkungan dan Kesadaran Ekologis

Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN Satu) Tulungagung, Provinsi Jawa Timur (Jatim) mengembangkan bioswale sebagai infrastruktur hijau kampus ramah lingkungan.

oleh Khamelia MarshaDiterbitkan 15 Januari 2026, 16:30 WIB
UIN Satu Tulungagung (Liputan6.com/Fauzan)

Liputan6.com, Jakarta - Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN Satu) Tulungagung, Provinsi Jawa Timur (Jatim) melangkah nyata dengan mengembangkan bioswale sebagai infrastruktur hijau kampus ramah lingkungan.

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi kampus dalam mengelola lingkungan secara berkelanjutan, khususnya dalam menghadapi tantangan pengelolaan air hujan dan peningkatan kualitas ruang terbuka hijau di kawasan kampus.

Melalui penerapan bioswale, UIN Satu tidak hanya mengelola air hujan secara berkelanjutan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kesadaran ekologis kepada sivitas akademika dan mahasiswa.

Berdasarkan pesan Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar mengenai pentingnya ekoteologi, penerapan bioswale di UIN Satu dipahami sebagai bentuk praktik ibadah ekologis.

Rektor UIN Satu Tulungagung, Prof. Abd. Aziz menyampaikan, pembangunan bioswale merupakan wujud konkret pengintegrasian nilai-nilai keislaman, pengembangan keilmuan, dan kepedulian terhadap lingkungan hidup ke dalam arah kebijakan kampus.

"Bioswale ini bukan sekadar fasilitas drainase, tetapi wujud kesadaran ekologis kita bersama. Kampus tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menjadi teladan dalam praktik pelestarian lingkungan," ujar Aziz, melansir Antara, Kamis (15/1/2026). 

Pembangunan bioswale merupakan komitmen kampus dalam menghadirkan praktik pelestarian lingkungan yang nyata dan berkelanjutan, sekaligus menempatkan perguruan tinggi sebagai teladan dalam pengelolaan lingkungan hidup.

Bioswale sebagai Fasilitas Ramah Lingkungan

Banyak desa di Indonesia yang masih membutuhkan air bersih, mari bersama membangun bak penampung dan pipanisasi melalui Mata Air Indosiar. (Ilustrasi: i.huffpost.com)

Bioswale dirancang sebagai saluran hijau yang memiliki fungsi utama memperlambat limpasan air hujan, menyaring polutan, serta membantu proses resapan air ke dalam tanah. 

Sistem ini memungkinkan air hujan tidak langsung mengalir ke saluran pembuangan, melainkan dikelola secara alami melalui lapisan tanah dan vegetasi tertentu. 

Selain fungsi teknis, keberadaan bioswale juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas lanskap kampus. Area bioswale menghadirkan ruang hijau yang tidak hanya berperan secara ekologis, tetapi juga memperindah lingkungan kampus melalui vegetasi hidup yang ramah lingkungan. 

Ruang terbuka hijau ini menciptakan suasana kampus yang lebih sejuk, asri, dan nyaman, sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem skala mikro di kawasan kampus.

Lebih dari sekadar infrastruktur fisik, bioswale dimanfaatkan sebagai media pembelajaran ekologis bagi mahasiswa dan sivitas akademika. 

Bioswale menjadi sarana pembelajaran kontekstual yang menanamkan kesadaran bahwa prinsip keberlanjutan harus diintegrasikan dalam setiap aspek pembangunan, termasuk di lingkungan pendidikan tinggi.

Menuju Green Campus

Ilustrasi jalan kaki di alam terbuka/copyright freepik.com/bristekjegor

Penguatan infrastruktur hijau terus menjadi fokus utama dalam transformasi kampus menuju green campus, yang diwujudkan melalui program ReliGreen

Program ini dirancang dengan prinsip-prinsip religius, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga tidak hanya menekankan aspek fisik pembangunan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai etika, keilmuan, dan tanggung jawab sosial kepada seluruh sivitas akademika. 

ReliGreen menjadi kerangka strategis untuk memastikan bahwa setiap langkah pembangunan kampus sejalan dengan praktik keberlanjutan lingkungan, dari perencanaan hingga implementasi di lapangan.

Keberadaan bioswale sebagai bagian dari infrastruktur hijau menjadi salah satu bukti nyata dari komitmen ini. 

Melalui fasilitas ini, kampus menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya terbatas pada gedung dan fasilitas, tetapi juga harus selaras dengan pelestarian lingkungan, peningkatan kualitas ruang terbuka hijau, dan penguatan kesadaran ekologis sivitas akademika.

Infografis Serba-serbi Rumah Ramah Lingkungan. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya