Trump Dorong Rakyat Iran Terus Demo: Ambil Alih Institusi, Bantuan dalam Perjalanan

Sekutu Trump memberikan gambaran bagaimana kemungkinan serangan AS terhadap Iran akan terjadi.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 14 Januari 2026, 07:24 WIB
Dalam foto yang diperoleh The Associated Press ini, warga Iran dilaporkan mengikuti aksi demonstrasi anti-pemerintah di Teheran, Iran, Jumat, 9 Januari 2026. (Dok. UGC via AP)

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Selasa (13/1/2026) menyerukan kepada rakyat Iran untuk terus melakukan demonstrasi. Dia menyatakan bahwa "bantuan sedang dalam perjalanan".

Pernyataan tersebut dinilai sebagai sinyal bahwa Trump mungkin segera memberi otorisasi untuk melancarkan serangan militer terhadap para pemimpin Iran.

"Warga Iran yang Patriotik, TERUSLAH MELANCARKAN AKSI PROTES – AMBIL ALIH INSTITUSI KALIAN!!!" tulis Trump dalam unggahan di Truth Social.

"Catat nama-nama para pembunuh dan pelaku kekerasan. Mereka akan membayar dengan harga yang sangat mahal. Saya telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal ini BERHENTI. BANTUAN SEDANG DALAM PERJALANAN."

Trump telah berulang kali mengancam akan mengambil tindakan militer terhadap Iran jika kepemimpinan negara itu terus melakukan penindasan terhadap para demonstran. Namun, ketika diminta menjelaskan maksud pernyataannya saat melakukan tur di sebuah pabrik otomotif di Michigan pada Selasa sore, Trump menolak memberikan kejelasan.

"Kalian harus mencari tahu sendiri," ujarnya seperti dikutip dari laporan TIME.

Gelombang demonstrasi di Iran bermula dua pekan lalu di bazar-bazar, yaitu pusat perdagangan tradisional, di Teheran sebagai bentuk protes terhadap inflasi yang merajalela. Seiring waktu, aksi tersebut berkembang menjadi protes yang lebih luas di berbagai wilayah Iran dan menentang Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei beserta rezimnya, yang telah berkuasa sejak Revolusi Islam tahun 1979.

Pemadaman internet secara nasional telah menghambat komunikasi efektif dengan dunia luar. Meski demikian, sejumlah perkiraan mengenai jumlah korban tewas akibat tindakan keras aparat keamanan menyebutkan angka hingga ribuan orang.

Sebuah kelompok analis sukarelawan yang bekerja berdasarkan laporan rumah sakit di Teheran mengatakan kepada TIME bahwa jumlah korban tewas secara nasional bisa mencapai 6.000 orang. Gambar-gambar yang beredar dari dalam Iran memperlihatkan sebuah kamar jenazah di wilayah Teheran yang dipenuhi ratusan jenazah hanya dari Kamis malam saja.

 

Penjelasan Sekutu Trump soal Serangan ke Iran

Cuplikan gambar dari video yang beredar di media sosial menunjukkan para pengunjuk rasa kembali turun ke jalan-jalan di Teheran pada Sabtu (10/1/2026), meski aparat keamanan memperketat penindakan dan akses Iran terhadap dunia luar—termasuk komunikasi—dibatasi. (Dok. UGC via AP)

Selama akhir pekan, Trump dilaporkan telah menerima paparan mengenai sejumlah opsi militer untuk menyerang Iran, meskipun belum mengambil keputusan akhir.

Senator Lindsey Graham dari South Carolina, sekutu dekat Trump yang berpengaruh dalam pembentukan kebijakan Iran, menyampaikan pandangannya mengenai seperti apa kemungkinan serangan terhadap Iran.

"Tidak akan ada pengerahan pasukan darat. Sebagai gantinya, AS akan melancarkan serangan yang sangat dahsyat terhadap rezim Iran, sebagaimana telah dijanjikan karena rezim tersebut dinilai telah melanggar seluruh garis merah. Gelombang besar serangan militer, siber, dan psikologis inilah yang menjadi inti dari pernyataan 'bantuan sedang dalam perjalanan'," tulis Graham di platform media sosial X.

Ia mengatakan bahwa tujuan yang ia harapkan adalah menghancurkan infrastruktur yang memungkinkan terjadinya pembantaian terhadap rakyat Iran, sekaligus menyingkirkan para pemimpin yang dinilai bertanggung jawab atas pembunuhan tersebut.

Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf pada Minggu (11/1) memperingatkan bahwa Israel serta seluruh pusat militer, pangkalan, dan kapal AS di kawasan akan menjadi target sah jika terjadi serangan.

"Kami tidak akan hanya bereaksi setelah serangan terjadi, tetapi akan bertindak lebih awal jika terdapat indikasi ancaman yang jelas," ujarnya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya