Liputan6.com, Washington, DC - Ia hidup di pengasingan selama hampir 50 tahun. Ayahnya, Shah Iran Mohammad Reza Pahlavi, begitu dibenci secara luas hingga jutaan orang turun ke jalan pada 1979 dan memaksanya lengser dari kekuasaan. Namun kini, Putra Mahkota Iran Reza Pahlavi berusaha memosisikan dirinya sebagai salah satu aktor penting dalam masa depan negaranya.
Pahlavi berhasil mendorong para pengunjuk rasa turun ke jalan pada Kamis (8/1/2026) malam, sebuah eskalasi besar dari gelombang protes yang menyapu Iran. Demonstrasi awalnya dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi Iran, namun kini telah berkembang menjadi tantangan serius terhadap sistem teokrasi negara itu. Pemerintahan Iran sendiri telah diguncang oleh bertahun-tahun protes nasional serta konflik bersenjata selama 12 hari pada Juni lalu yang dilancarkan Israel, di mana Amerika Serikat (AS) turut mengebom fasilitas pengayaan nuklir Iran.
Advertisement
Yang masih belum diketahui adalah seberapa besar dukungan nyata yang dimiliki Pahlavi, yang kini berusia 65 tahun dan hidup di pengasingan di AS, di dalam negeri Iran. Apakah para pengunjuk rasa benar-benar menginginkan kembalinya Takhta Merak, sebutan bagi masa pemerintahan ayahnya? Ataukah mereka sekadar menginginkan apa pun selain teokrasi syiah yang saat ini berkuasa?
Pahlavi menyerukan agar rakyat Iran kembali turun ke jalan pada Jumat (9/1) malam melalui seruan yang disiarkan ulang oleh saluran berita satelit berbahasa Persia serta situs-situs yang berbasis di luar negeri. Seruan tersebut diikuti oleh para demonstran dan Pahlavi juga telah mengajak dilakukannya demonstrasi lanjutan pada akhir pekan lalu.
"Selama satu dekade terakhir, gerakan protes dan komunitas pembangkang Iran semakin bernuansa nasionalis, baik dari segi nada maupun pendekatan," tutur Behnam Ben Taleblu, pakar Iran dari lembaga pemikir Foundation for Defense of Democracies yang berbasis di Washington, lembaga yang dikenai sanksi oleh Teheran seperti dikutip dari laporan Associated Press.
"Semakin Iran gagal, semakin kuat pula lawan ideologisnya. Keberhasilan putra mahkota dan timnya terletak pada kemampuannya menampilkan kontras tajam antara kenormalan masa lalu dan janji masa depan, dibandingkan dengan mimpi buruk dan kondisi sulit yang menjadi realitas bagi begitu banyak warga Iran saat ini."
Profil Pahlavi kembali meningkat pada masa jabatan pertama Presiden AS Donald Trump. Namun demikian, Trump dan para pemimpin dunia lainnya tetap berhati-hati untuk secara terbuka merangkulnya, mengingat banyaknya kisah peringatan di Timur Tengah dan wilayah lain tentang pemerintah Barat yang menaruh harapan pada tokoh-tokoh pengasingan yang telah lama terputus dari tanah air mereka.
Media pemerintah Iran, yang selama bertahun-tahun mengejek Pahlavi sebagai sosok yang tidak peka terhadap realitas dan korup, menyalahkan apa yang mereka sebut sebagai "elemen teroris monarkis" atas demonstrasi pada Kamis malam. Dalam aksi itu, sejumlah kendaraan dibakar dan pos-pos polisi diserang.
Lahir dalam Kemewahan
Pahlavi lahir pada 31 Oktober 1960 dan tumbuh dalam dunia kemewahan sebagai putra mahkota.
Adapun ayahnya, Mohammad Reza, mewarisi takhta dari Reza Shah Pahlavi, seorang perwira militer yang merebut kekuasaan dengan dukungan Inggris. Kekuasaan Mohammad Reza kemudian diperteguh oleh kudeta yang didukung CIA pada 1953. Ia bekerja sama erat dengan AS, yang menjual senjata senilai miliaran dolar kepada penguasa otoriter tersebut dan menggunakan Iran sebagai basis pengintaian terhadap Uni Soviet.
Pahlavi muda menempuh pendidikan di Sekolah Reza Pahlavi yang dinamai sesuai namanya sendiri, yang didirikan di dalam kompleks Istana Niavaran di Teheran utara. Seorang penulis biografi ayahnya mencatat bahwa sang putra mahkota pernah memutar musik rock di istana saat kunjungan Tahun Baru Presiden AS saat itu, Jimmy Carter, ke Teheran. Namun di balik kesan modern tersebut, fondasi kekuasaan monarki Iran disebut mulai goyah.
Meskipun berhasil memanfaatkan lonjakan harga minyak pada 1970-an, ketimpangan ekonomi yang dalam berkembang selama masa pemerintahan shah, sementara badan intelijen SAVAK yang ditakuti menjadi terkenal karena praktik penyiksaan terhadap para pembangkang.
Jutaan orang di seluruh Iran ikut serta dalam demonstrasi menentang shah, menyatukan kaum kiri sekuler, serikat buruh, kalangan profesional, mahasiswa, dan ulama. Ketika krisis mencapai puncaknya, shah terjerumus oleh ketidakmampuannya bertindak dan keputusan-keputusan buruk yang diambilnya, sementara ia diam-diam berjuang melawan kanker stadium akhir.
Pada 1978, putra mahkota meninggalkan Iran untuk mengikuti sekolah penerbangan di sebuah pangkalan udara AS di Texas. Setahun kemudian, ayahnya melarikan diri dari Iran di tengah pecahnya apa yang kemudian dikenal sebagai Revolusi Islam. Para ulama syiah kemudian menyingkirkan faksi-faksi anti-shah lainnya dan membentuk pemerintahan teokratis baru yang mengeksekusi ribuan orang setelah revolusi dan hingga kini tetap menjadi salah satu negara dengan tingkat eksekusi tertinggi di dunia.
Setelah kematian ayahnya, sebuah istana kerajaan di pengasingan mengumumkan bahwa Reza Pahlavi mengambil peran sebagai shah pada 31 Oktober 1980, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-20.
"Saya memahami dan bersimpati atas penderitaan serta gejolak batin yang Anda alami," ungkap Pahlavi saat berpidato kepada rakyat Iran. "Saya meneteskan air mata yang terpaksa Anda sembunyikan. Namun saya yakin selalu ada cahaya di balik kegelapan, dan jauh di dalam hati, Anda dapat percaya bahwa mimpi buruk ini—seperti yang lainnya dalam sejarah kita—akan berlalu."
Alih-alih kembali berkuasa, yang terjadi hingga saat ini adalah ia masih di pengasingan.
Puluhan Tahun di Pengasingan
Meski demikian, Pahlavi berupaya membangun pengaruh di luar negeri. Pada 1986, The Washington Post melaporkan bahwa CIA memasok para sekutu Pahlavi dengan "pemancar televisi mini" untuk siaran gelap berdurasi 11 menit ke Iran, yang membajak sinyal dua stasiun televisi lokal. Dalam siaran itu, Pahlavi dilaporkan mengatakan, "Saya akan kembali dan bersama-sama kita akan membuka jalan bagi kebahagiaan dan kemakmuran bangsa melalui kebebasan."
Hal itu tidak pernah terwujud. Pahlavi sebagian besar hidup di AS, terutama di Los Angeles dan Washington, DC., sementara ibunya, Shahbanu Farah Pahlavi, menetap di Paris.
Lingkaran kecil pendukung monarki Iran di pengasingan selama bertahun-tahun terus memupuk impian kembalinya Dinasti Pahlavi ke tampuk kekuasaan. Namun Pahlavi menghadapi berbagai hambatan untuk meraih dukungan yang lebih luas, termasuk kenangan pahit atas pemerintahan ayahnya, anggapan bahwa ia dan keluarganya tidak memahami kondisi Iran saat ini, serta penindasan di dalam negeri yang bertujuan membungkam segala bentuk oposisi.
Pada saat yang sama, generasi muda Iran yang lahir puluhan tahun setelah berakhirnya pemerintahan shah tumbuh dalam pengalaman yang berbeda—di bawah pembatasan sosial dan penindasan brutal oleh pemerintah, serta kekacauan ekonomi akibat sanksi internasional, korupsi, dan salah urus.
Pahlavi berusaha menyuarakan pandangannya melalui video-video di media sosial dan saluran berita berbahasa Persia seperti Iran International menyoroti seruannya untuk melakukan protes. Saluran tersebut juga menayangkan kode QR yang mengarahkan pemirsa ke informasi bagi anggota aparat keamanan di Iran yang ingin bekerja sama dengannya.
Mahmood Enayat, direktur jenderal Volant Media—pemilik Iran International—mengatakan bahwa saluran tersebut menayangkan iklan Pahlavi dan lainnya secara pro bono sebagai bagian dari misi untuk mendukung masyarakat sipil Iran.
Dalam sejumlah wawancara beberapa tahun terakhir, Pahlavi mengemukakan gagasan monarki konstitusional. Ia juga membuka kemungkinan sistem dengan penguasa yang dipilih melalui pemilu, bukan secara turun-temurun. Namun ia menegaskan bahwa keputusan sepenuhnya berada di tangan rakyat Iran.
"Rezim ini pada dasarnya tidak dapat direformasi karena sifat dan DNA-nya memang demikian," kata Pahlavi kepada Associated Press pada 2017. "Rakyat telah meninggalkan gagasan reformasi dan meyakini bahwa harus ada perubahan mendasar. Sekarang, bagaimana perubahan itu bisa terjadi adalah pertanyaan besarnya."
Di lain sisi, ia menghadapi kritik atas dukungannya terhadap Israel, terutama setelah konflik bersenjata pada Juni lalu. Pahlavi mengunjungi Israel pada 2023 dan bertemu dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang dikenal sebagai tokoh keras terhadap Iran dan kritiknya terhadap kesepakatan nuklir Iran 2015 turut mendorong keputusan Trump menarik AS dari perjanjian tersebut. Netanyahu juga memimpin perang 12 hari melawan Iran.
"Fokus saya saat ini adalah membebaskan Iran dan saya akan mencari segala cara yang memungkinkan tanpa mengorbankan kepentingan nasional dan kemandirian, dengan siapa pun yang bersedia membantu kami—baik itu AS, Arab Saudi, Israel, atau siapa pun," ujar Pahlavi pada 2017.