OJK: Dampak Konflik AS–Venezuela ke Pasar Keuangan Indonesia Masih Terbatas

Ketua OJK, Mahendra Siregar meminta semua lembaga jasa keuangan untuk waspadai dampak risiko geopolitik global.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 09 Januari 2026, 15:30 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar di acara OECD Asia Roundtable on Digital Finance 2025, di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali, Senin (1/12/2025). (Foto: Liputan6.com/Arief RH)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar mengatakan, konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela masih terus dicermati oleh pelaku jasa keuangan karena berpotensi meningkatkan risiko geopolitik global dan memengaruhi stabilitas sistem keuangan.

Mahendra menyampaikan, hingga saat ini pelaku jasa keuangan, termasuk di pasar keuangan, memantau secara intensif perkembangan konflik tersebut serta potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global. 

"Sampai saat ini para pelaku jasa keuangan termasuk juga di pasar keuangan masih terus mencermati perkembangan yang terjadi utamanya risiko pada geopolitik akibat apa yang terjadi di antara AS dan Venezuela serta juga mencermati potensi dampak terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global,” kata Mahendra dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Desember 2025, Jumat (9/1/2026).

Ia menuturkan, dalam jangka pendek belum terlihat adanya dampak langsung konflik AS–Venezuela terhadap perekonomian Indonesia, baik dari sisi produksi dan harga minyak dunia maupun harga komoditas utama ekspor nasional. 

Namun demikian, risiko dalam jangka menengah dan panjang tetap perlu diwaspadai karena eskalasi tensi geopolitik global telah meningkatkan ketidakpastian terhadap pertumbuhan serta stabilitas ekonomi dan keuangan dunia.

Menurut Mahendra, OJK meminta seluruh lembaga jasa keuangan untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan pemantauan secara intensif terhadap berbagai risiko yang mungkin muncul. 

"Kami tentu meminta semua lembaga jasa keuangan untuk mencermati dan melakukan pemantauan yang intensif terhadap risiko-risiko ini baik risiko pasarnya, risiko likuiditas, dan risiko kredit pembiayaan,” kata Mahendra.

 

 

OJK Cermati Dampak Geopolitik Venezuela terhadap Stabilitas Pasar Keuangan Global

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Mahendra Siregar, mengusulkan kepada pemerintah agar pelaksanaan program hapus buku dan hapus tagih di bank-bank Himbara diberlakukan kembali. (Liputan6.com/Tira Santia)

Sebelumnya, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyampaikan bahwa perkembangan geopolitik global menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian pelaku pasar pada awal 2026, termasuk dinamika politik yang terjadi di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik serta pasar keuangan global.

“Di awal tahun 2026 pelaku pasar memperhatikan perkembangan geopolitik yang terjadi di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global,” ujar Mahendra dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Desember 2025, Jumat (9/1/2026).

Mahendra menjelaskan, perhatian terhadap risiko geopolitik tersebut muncul di tengah dinamika ekonomi global yang ditandai dengan perlambatan pertumbuhan, perbedaan arah kebijakan moneter bank sentral utama, serta perubahan sentimen di pasar keuangan internasional.

Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin mencermati berbagai faktor eksternal yang berpotensi mempengaruhi stabilitas global.

 

Dinamika Pasar Keuangan Global

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar, dalam acara pembukaan bursa saham perdana di 2026. (Dok OJK)

Perbedaan kebijakan bank sentral, seperti pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dan Bank of England serta kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan, turut mempengaruhi dinamika pasar keuangan global.

Pasar saham global secara umum bergerak menguat merespons pemangkasan suku bunga acuan Amerika Serikat, meskipun disertai kekhawatiran terhadap potensi pembentukan gelembung di saham teknologi.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong pelemahan pasar obligasi pemerintah global seiring berakhirnya aktivitas carry trade yang selama ini menopang pasar.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya