Liputan6.com, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Mahendra Siregar menyampaikan bahwa perkembangan geopolitik global menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian pelaku pasar pada awal 2026, termasuk dinamika politik yang terjadi di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik serta pasar keuangan global.
“Di awal tahun 2026 pelaku pasar memperhatikan perkembangan geopolitik yang terjadi di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik dan pasar keuangan global,” ujar Mahendra dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Desember 2025, Jumat (9/1/2026).
Advertisement
Mahendra menjelaskan, perhatian terhadap risiko geopolitik tersebut muncul di tengah dinamika ekonomi global yang ditandai dengan perlambatan pertumbuhan, perbedaan arah kebijakan moneter bank sentral utama, serta perubahan sentimen di pasar keuangan internasional. Kondisi tersebut membuat pelaku pasar semakin mencermati berbagai faktor eksternal yang berpotensi mempengaruhi stabilitas global.
Perbedaan kebijakan bank sentral, seperti pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dan Bank of England serta kenaikan suku bunga oleh Bank of Japan, turut mempengaruhi dinamika pasar keuangan global.
Pasar saham global secara umum bergerak menguat merespons pemangkasan suku bunga acuan Amerika Serikat, meskipun disertai kekhawatiran terhadap potensi pembentukan gelembung di saham teknologi.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga di Jepang mendorong pelemahan pasar obligasi pemerintah global seiring berakhirnya aktivitas carry trade yang selama ini menopang pasar.
AS Sita Dua Kapal Tanker Terkait Ekspor Minyak Venezuela di Atlantik dan Karibia
Sebelumnya, Amerika Serikat menyita dua kapal tanker yang diduga terlibat dalam ekspor minyak Venezuela dalam dua operasi terpisah di Samudra Atlantik Utara dan Laut Karibia. Penyitaan ini menjadi bagian dari upaya Washington untuk memperketat sanksi dan memutus jalur ekspor minyak mentah Venezuela.
Militer AS mengumumkan bahwa kapal tanker pertama, Marinera—yang sebelumnya dikenal sebagai M/V Bella 1—dinaiki pasukan AS setelah pengejaran hampir dua pekan di perairan antara Islandia dan Skotlandia. Kapal tersebut disebut berlayar dengan bendera Rusia. Dalam operasi itu, Angkatan Laut Kerajaan Inggris memberikan dukungan logistik melalui aset udara dan laut.
Kapal tanker kedua, M/T Sophia, dinaiki pasukan AS di kawasan Karibia. Menurut otoritas AS, kapal tersebut melakukan “aktivitas ilegal” di perairan internasional dan kemudian dikawal oleh Penjaga Pantai AS ke Amerika Serikat untuk proses lebih lanjut, dikutip dari BBC, Kamis (8/1/2026).
Langkah ini dilakukan di tengah upaya AS untuk memblokade ekspor minyak Venezuela yang dikenai sanksi, hanya beberapa hari setelah pasukan khusus AS menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam operasi kilat di Caracas.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan kebijakan tersebut tetap berlaku. “Blokade terhadap minyak Venezuela yang dikenai sanksi dan ilegal tetap diberlakukan sepenuhnya—di mana pun di dunia,” tulisnya melalui akun X.
Rusia dan China Bereaksi
Pemerintah Rusia mengecam penyitaan kapal tanker yang berlayar di bawah benderanya. Moskow menuntut agar AS memperlakukan awak kapal warga Rusia secara layak dan segera memulangkan mereka.
Kementerian Transportasi Rusia menyatakan kapal tersebut memiliki “izin sementara” untuk menggunakan bendera Rusia dan menegaskan tidak ada negara yang berhak menggunakan kekerasan terhadap kapal yang terdaftar secara sah di yurisdiksi negara lain. Rusia juga mengklaim pasukan AS menaiki Marinera sekitar pukul 15.00 waktu Moskow, setelah itu komunikasi dengan kapal terputus.
Sementara itu, China, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi pembeli terbesar minyak Venezuela, mengecam langkah AS dan menuduhnya mengancam keamanan energi global.