Liputan6.com, Jakarta - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan INDEF, M. Rizal Taufikurrahman menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) belum memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek, tetapi tetap relevan jika dilihat dari manfaat jangka panjang lintas generasi.
“Kita lihat dalam rangka OGIDN atau Overlapping Generation Indonesia model ini, ketidaksignifikanan dampak makro ekonomi kan kecil ya, 0,15-an lah gitu ya,” ujar Rizal dalam diskusi daring INDEF, Kamis (8/1/2026).
Advertisement
Dia menuturkan, hasil analisis tersebut juga konsisten dengan metode lain yang digunakan INDEF. "Menggunakan CGE model begitu ya, angkanya tidak jauh berbeda sebenarnya,” katanya.
Menurut Rizal, kondisi tersebut menunjukkan dalam jangka pendek, MBG bukan alasan utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tinggi. Ia menegaskan, jika pemerintah ingin mengejar pertumbuhan ekonomi hingga 5 persen atau lebih, diperlukan faktor lain di luar MBG.
Ia menuturkan, dalam model OGIDN, kebijakan dibedakan antara yang berdampak cepat terhadap produk domestik bruto (PDB) dan kebijakan yang manfaatnya baru terasa dalam jangka panjang.
Rizal menekankan, relevansi MBG sangat bergantung pada keberhasilannya meningkatkan kualitas gizi, kesehatan, dan kapasitas belajar anak.
“Kalau misalnya MBG itu untuk menjadi program meningkatkan pertumbuhan ekonomi 5 persen begitu ya, tambahan 5 persen atau 5,5 persen, 5,6 persen, sebenarnya MBG bukan solusi untuk menjawab itu,” kata Rizal.
Program Makan Bergizi Gratis Bisa Dongkrak Ekonomi 1,94%
Sebelumnya, Chief Economist PT Bank Mandiri Tbk Andry Asmoro menjelaskan program pemerintahan baru yaitu Makan Bergizi Gratis memberikan dampak pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dan beberapa sektor turunan.
Andry menjelaskan potensi peningkatan pertumbuhan ekonomi nasional dari program makan bergizi gratis diproyeksikan mencapai 1,94 persen. Kemudian untuk potensi peningkatan output
“Potensi peningkatan nilai tambah nasional mencapai Rp 379,6 triliun dengan peningkatan tenaga kerja nasional mencapai 7,68 juta,” kata Andry dalam Economic Outlook Bank Mandiri dan Mandiri Sekuritas, Kamis (26/9/2024).
Sektor Berdampak Positif
Adapun beberapa sektor yang berdampak positif dari program ini di antaranya Penyediaan Makan Minum dengan proporsi dampak (54,6 persen), Industri Makanan dan Minuman (16,9 persen), Perdagangan Besar dan Eceran, Bukan Mobil dan Sepeda Motor (5,2 persen), Perikanan (3,3 persen), Pertanian Tanaman Pangan (3,1 persen), dan Perkebunan Semusim dan Tahunan (2,6 persen).
Kemudian sektor lainnya adalah Peternakan (2,5 persen), Pertanian Tanaman Hortikultura Semusim, Hortikultura Tahunan, dan Lainnya (2,2 persen), Jasa Perantara Keuangan Selain Bank Sentral (1,2 persen), dan Industri Kimia, Farmasi dan Obat Tradisional (0,8 persen). Adapun sektor lainnya sebesar 7,7 persen.
Pada kesempatan yang sama, Andry mengungkapkan, indeks konsumsi membaik sepanjang kuartal tiga 2024, ini meningkat dibandingkan dari kuartal sebelumnya.