Perangkat Wearable Kesehatan Dipediksi Hasilkan Sejuta Ton e-Waste pada 2050

Lonjakan penggunaan perangkat wearable kesehatan secara global diperkirakan akan memicu peningkatan drastis limbah elektronik dan emisi karbon 2050 jika tidak diimbangi dengan produksi yang lebih ramah lingkungan.

oleh Meila Alfauzi SukmawanDiterbitkan 09 Januari 2026, 13:05 WIB
Perangkat wearable Galaxy Watch8 dari Samsung selain tampil stylish dan menyenangkan, keduanya adalah perangkat berbasis AI yang mampu menghadirkan pengalaman edukasi dan peningkatan diri. / Foto: dok Samsung.

Liputan6.com, Jakarta - Perusahaan teknologi di ajang teknologi terbesar dunia, Costumer Electronics Show (CES) 2026 menampillkan beragam inovasi perangkat kesehatan wearable terbaru, mulai dari pemantauan glukosa, pelacak tekanan darah, hingga fitness tracker.

Menurut laporan Tech Crunch, Selasa 6 Januari 2026, meskipun menawarkan kemajuan yang signifikan dalam pemantauan kesehatan, dampak lingkungan dari penggunaan perangkat ini jarang menjadi sorotan utama.

Berdasarkan studi terbaru dari Cornell University dan University of Chicago, permintaan perangkat kesehatan wearable diperkirakan melonjak tajam hingga mencapai 2 miliar unit per tahun pada 2050. Angka ini setara dengan peningkatan 42 kali lipat dibandingkan permintaan saat ini.

Untuk mengurangi dampak tersebut, para peneliti merekomendasikan dua solusi untuk perubahan material perangkat dan perubahan desain.

Pertama, dengan mengembangkan chip yang memanfaatkan logam umum seperti tembaga, menggantikan mineral langka seperti emas. Kedua, membuat perangkat desain modular agar papan sirkuitnya bisa digunakan kembali, sementara bagian luar perangkat bisa diganti.

"Ketika perangkat-perangkat ini digunakan dalam skala global, pilihan desain yang tampak kecil bisa berdampak sangat besar," tulis salah satu penulis studi tersebut, melansir Antara, Kamis (08/01/2025).

Ancaman e-Waste dan Emisi Karbon Proses Produksi

Seorang pria di sebuah toko barang bekas elektronik di Jakarta. Foto diambil pada Jumat 13 Januari 2017 (AP Photo/Tatan Syuflana)

Para penulis studi tersebut juga menyebutkan  jika pola produksi wearable ini tidak berubah, maka gawai-gawai tersebut berpotensi menghasilkan lebih dari satu juta ton limbah elektronik (e-waste) serta 100 juta ton emisi karbon dioksida pada periode yang sama.

Menurut studi yang dipublikasikan jurnal Nature Juga mengingatkan masalah utamanya bukan pada plastik, melainkan papan sirkuit cetak (printed circuit board/PCB) yang disebut penyumbang sekitar 70 persen dari total jejak karbon, terutama karena proses penambangan dan manufaktur yang sangat intensif.

Perangkat wearable kesehatan sendiri mencakup berbagai perangkat yang dikenakan di tubuh untuk memantau kondisi kesehatan, seperti jam tanga pintar (smartwatch) dan fitness tracker yang mengukur detak jantung, aktivitas , dan kualitas tidur, alat pemantau glukosa kontinu (CGM), pengukur tekanan darah dan EKG berbasis wearable, cincin pintar yang melacak tidur dan kebugaran, hingga patch kesehatan yang menempel pada kulit untuk pemantauan data biometrik secara real time.

Lonjakan tersebut sejalan dengan meningkatnya perkembangan teknologi sensor yang semakin terjangkau dan mudah digunakan.

Daur Ulang Limbah Elektronik Dinilai Mampu Dorong Ekonomi Sirkular Indonesia

Sebuah langkah kolaboratif dan proaktif berbagai pihak untuk mengelola limbah elektronik khususnya gawai yang sudah tidak terpakai, telah digalakkan dengan menyediakan fasilitas kotak pengumpulan atau drop box sebagai langkah awal menuju ekonomi sirkular.

Dalam konferensi pers bertajuk Gerakan Jaga Bumi di Jakarta pada Kamis, 27 Februari 2025, perusahaan gawai Erafone mengundang komunitas, aktivitis, lingkungan, dan masyarakat luas untuk menyerahkan perangkat elektronik bekas ke drop box yang sudah disediakan sebanyak 25-30 unit di lima wilayah kerja agar perangkat tersebut dapat diolah kembali.

"Melalui Erafone Jaga Bumi, kami berharap dapat meningkatkan kesadaran masyarakat serta membangun kebiasaan konsumsi elektronik yang lebih bertanggung jawab demi masa depan yang lebih berkelanjutan," ujar Head of CSR Erajaya Grup Rezza Lazuardi Pramata.

Rezza menjelaskan dengan cara ini, masyarakat bisa memiliki cara yang aman untuk membuang perangkat elektroniknya, yang nantinya limbah yang terkumpul akan diproses secara ramah lingkungan oleh mitra daur ulang yang kompeten.

"Sampah elektronik yang kelak terkumpul di sejumlah titik drop box Erafone akan didaur ulang melalui proses yang ramah lingkungan. Kami menunjuk mitra-mitra yang kompeten untuk mengelola limbah elektronik. Mereka akan melaporkan kembali perkembangan daur ulang yang dilakukan," ujar dia.

Infografis 7 Penyebab Sampah Makanan. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya