Koalisi Arab Saudi Lancarkan Serangan ke Yaman Selatan

Apa alasan penyerangan Koalisi Arab Saudi ke Yaman?

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 07 Januari 2026, 16:04 WIB
Bendera Yaman dibentangkan saat demonstrasi mengecam pembakaran Al-Quran oleh seorang politisi Swedia di ibu kota Sanaa pada 23 Januari 2023. Ribuan warga Yaman di ibu kota Sanaa turut berunjuk rasa. (AFP/Mohammed Huwais)

Liputan6.com, Riyadh - Koalisi militer pimpinan Arab Saudi melancarkan serangan di Provinsi Dhale, Yaman selatan, dengan sasaran pasukan separatis Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC).

Serangan itu dilakukan setelah pemimpin STC, Aidarous al-Zubaidi, disebut melarikan diri alih-alih menaiki pesawat yang telah dijadwalkan membawanya ke Riyadh untuk mengikuti perundingan damai.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis Rabu (7/1/2026) pagi, koalisi menyebut al-Zubaidi seharusnya terbang dari Aden pada Selasa malam guna membahas upaya mengakhiri konflik antara STC dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Namun, menurut koalisi, al-Zubaidi tidak naik pesawat dan justru “melarikan diri ke lokasi yang tidak diketahui”.

Koalisi mengklaim menerima informasi bahwa al-Zubaidi kemudian memobilisasi pasukan dalam jumlah besar, termasuk kendaraan lapis baja dan tempur, persenjataan berat dan ringan, serta amunisi. Pasukan tersebut dilaporkan meninggalkan Aden sekitar tengah malam dan terdeteksi berada di Provinsi Dhale.

Menanggapi pergerakan tersebut, koalisi melancarkan apa yang disebut sebagai “serangan pendahuluan” pada pukul 04.00 waktu setempat untuk melumpuhkan pasukan dan menggagalkan upaya eskalasi konflik oleh STC, dikutip dari Al Jazeera, Rabu (7/1).

STC membantah tuduhan tersebut. Dalam pernyataannya, kelompok separatis itu menyerukan Arab Saudi menghentikan serangan udara dan mengklaim kehilangan kontak dengan delegasi mereka di Riyadh. STC juga menyatakan al-Zubaidi berada di Aden untuk mengawasi operasi militer dan keamanan di kota itu.

STC sebelumnya merupakan sekutu pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dalam perang melawan pemberontak Houthi di Yaman utara. Namun pada Desember lalu, kelompok itu berbalik menyerang pasukan pemerintah yang didukung Saudi, dengan tujuan mendirikan negara merdeka di Yaman selatan.

Dalam perkembangan terakhir, STC sempat menguasai sebagian besar wilayah selatan, termasuk Provinsi Hadramout dan Mahra. Kedua wilayah strategis itu berbatasan dengan Arab Saudi dan mencakup hampir setengah luas wilayah Yaman, memicu kekhawatiran Riyadh.

 

Response Arab Saudi

Ilustrasi bendera Arab Saudi (AFP Photo)

Arab Saudi merespons dengan melancarkan serangan udara di pelabuhan Mukalla pada 30 Desember, menargetkan apa yang disebut sebagai pengiriman senjata terkait Uni Emirat Arab (UEA). Riyadh juga mendukung seruan pemerintah Yaman agar pasukan Emirat ditarik dari negara tersebut.

Abu Dhabi membantah tudingan pengiriman senjata dan menegaskan komitmennya terhadap keamanan Arab Saudi, sebelum mengumumkan berakhirnya “misi kontra-terorisme” di Yaman.

Didukung serangan udara Saudi, pasukan pemerintah Yaman kemudian merebut kembali Hadramout dan Mahra. STC menyatakan kesediaannya menghadiri perundingan damai yang difasilitasi Arab Saudi, dan koalisi menyebut delegasi STC—kecuali al-Zubaidi—telah berangkat ke Riyadh pada Rabu dini hari.

Sementara itu, Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Rashad al-Alimi, mengumumkan pencopotan al-Zubaidi dari dewan tersebut atas tuduhan “pengkhianatan tingkat tinggi”. Al-Alimi juga mengatakan telah meminta Jaksa Agung Yaman membuka penyelidikan dan mengambil langkah hukum terhadap pemimpin separatis itu.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya