Liputan6.com, Jakarta - Ratusan penerbangan dibatalkan pada Sabtu, 3 Januari 2025, setelah Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) menutup wilayah udara di dekat Venezuela. Ini dilakukan sebagai tanggapan atas serangan militer AS dan penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Di antara mereka yang terdampak adalah pasangan Gina Biviano dan Jacob Sapolin, yang terdampar di St. Lucia setelah bulan madu mereka. Mereka seharusnya pulang pada hari itu ketika menerima pesan dari maskapai penerbangan bahwa penerbangan pulang mereka dibatalkan.
Advertisement
"Pesan singkat yang saya terima saat bangun tidur adalah dari Delta bahwa penerbangan kami dibatalkan. Mereka tidak dapat memesan ulang penerbangan kami," kata Sapolin, melansir FOX 25, Selasa (6/1/2026). "Saya menunggu selama tiga jam."
Pasangan pengantin baru itu mendapati diri mereka tidak dapat memesan penerbangan alternatif, dengan pilihan berikutnya baru tersedia pada Kamis, 8 Januari 2026. "Untungnya, resor kami mengizinkan kami memperpanjang masa inap satu malam," kata Sapolin.
"Pagi ini, (Minggu, 4 Januari 2026), kami bangun. Mereka memberi tahu kami bahwa kami harus pergi hari ini. Mereka tidak bisa menerima kami di resor mereka, jadi kami langsung mencari tahu ke mana kami akan pergi selanjutnya," ia menambahkan.
Sapolin mengatakan, ia dan istrinya telah berbicara dengan turis lain di pulau itu tentang langkah selanjutnya. "Saya baru saja berbicara dengan seorang pria dari New York yang datang bersama anak-anak dan cucu-cucunya," ia berbagi.
Sampai Sewa Jet Pribadi
"Mereka menginap di sebuah vila, dan dia baru saja menghabiskan 80 ribu dolar AS (sekitar Rp 1,3 miliar) untuk menyewa jet pribadi. Turis lain yang telah dia ajak bicara mengatakan mereka mungkin akan menyewa kapal untuk pergi ke pulau yang lebih besar di Karibia yang memiliki lebih banyak penerbangan ke Amerika Serikat," Sapolin melanjutkan.
Jika penerbangan yang dijadwalkan ulang pada Kamis terganggu, sebutnya, itulah langkah mereka selanjutnya. "Ini bukan situasi seperti kami absen kerja karena ketiduran. Kami tidak bisa mengendalikan situasi ini," katanya. "Banyak orang menyebut keadaan ini sebagai konyol."
Pasangan itu telah mengamankan masa inap tambahan di hotel sampai mereka dapat meninggalkan pulau tersebut. Tapi, semua penjadwalan ulang ini telah membuat mereka mengeluarkan biaya ekstra 5 ribu dolar AS (sekitar Rp 84 juta). Beruntung, pasangan itu memiliki asuransi perjalanan.
Bulan Madu yang Berkesan
"Namun, sebagian besar polis asuransi perjalanan memiliki pengecualian untuk perang," kata Sapolin. "Meski konflik tersebut berjarak 600 mil (965 km), kemungkinan akan ada perdebatan tentang mendapatkan perlindungan untuk hal ini karena dapat dianggap sebagai perang."
Untuk saat ini, Sapolin mengatakan bahwa dia dan istrinya menikmati sinar matahari tambahan dan saling mendukung satu sama lain selama pengalaman tidak terduga ini. "Dua malam lalu terjadi gempa magnitudo 5,6, sebelum semua kejadian dengan Venezuela ini terjadi," katanya.
"Ini akan jadi sesuatu yang akan kami bicarakan untuk waktu yang lama. Bulan madu yang sangat berkesan. Kami hanya menjalaninya hari demi hari dan memanfaatkan situasi yang kurang menguntungkan ini sebaik mungkin," ia menambahkan.
Peringatan bagi Maskapai Penerbangan
Menyusul aksi militer AS di Venezuela, pembatalan dan gangguan penerbangan mengacaukan jadwal maskapai penerbangan di seluruh Karibia pada salah satu akhir pekan perjalanan tersibuk tahun ini, lapor CN Traveler. FAA telah membuka kembali wilayah udara di dekat Venezuela pada Minggu, 4 Januari 2026, yang memungkinkan maskapai memulai kembali penerbangan mereka ke Karibia.
Namun, badan tersebut merilis peringatan bagi pesawat penumpang AS yang akan tetap berlaku hingga 2 Februari 2026. Peringatan tersebut tidak melarang pesawat penumpang terbang di wilayah tersebut, tapi meminta mereka berhati-hati karena aktivitas militer.
Areanya berada di sekitar Curacao, San Juan, Maiquetia, dan Piarco, menurut Miami Herald. Maskapai penerbangan AS telah merespons dengan menambahkan kebijakan fleksibel bagi para pelancong yang terjebak di wilayah tersebut atau memiliki rencana perjalanan ke daerah tersebut.
Beberapa maskapai, seperti Delta dan American Airlines, telah meningkatkan kapasitas di seluruh Karibia. American Airlines, misalnya, menambahkan 43 penerbangan ekstra dengan total 7 ribu kursi untuk memberikan lebih banyak pilihan.