Bitcoin Melonjak ke USD 93.000 Tanggapi Serangan AS ke Venezuela

Harga Bitcoin melonjak ke USD 93.000 setelah ketegangan geopolitik AS–Venezuela meningkat.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 Januari 2026, 12:00 WIB
Konflik AS dan Venezuela mendorong Bitcoin menguat ke level tertinggi dalam tiga pekan. Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin melonjak tajam hingga menyentuh level USD 93.000 atau sekitar Rp 1,5 miliar (estimasi kurs Rp 16.743 per USD), menjadi posisi tertinggi dalam tiga pekan terakhir. Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela pada 5 Januari 2026.

Dikutip dari coinmarketcap, Selasa (6/1/2026), peristiwa geopolitik semacam ini sebelumnya kerap memengaruhi pergerakan pasar Bitcoin. Kondisi krisis global sering mendorong investor melirik Bitcoin sebagai aset lindung nilai (safe haven), meski lonjakan harga juga berpotensi memicu volatilitas jangka pendek.

Lonjakan Bitcoin kali ini sejalan dengan pola historis, di mana konflik geopolitik berdampak langsung pada valuasi aset kripto. Aksi militer AS terhadap Venezuela memicu spekulasi di kalangan pelaku pasar mengenai peran Bitcoin sebagai pelindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik.

Dampak langsung juga terlihat di berbagai pasar keuangan, termasuk komoditas dan aset digital lainnya. Saat ketidakstabilan meningkat, sebagian investor cenderung mengalihkan dana ke Bitcoin, sehingga mendorong kenaikan harga dalam jangka pendek dan memengaruhi aset kripto terkait.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Bitcoin Jadi Aset Lindung Nilai?

Ilustrasi Bitcoin (iStockPhoto)

Secara finansial, kondisi ini berpotensi memperkuat adopsi Bitcoin sebagai aset lindung nilai. Ketegangan politik global dinilai terus membentuk lanskap pasar kripto, terutama dalam memengaruhi strategi investasi dan komposisi portofolio para pelaku pasar.

Namun, sejarah menunjukkan bahwa konflik geopolitik juga dapat meningkatkan volatilitas dan memengaruhi likuiditas kripto. Regulator diperkirakan akan semakin mencermati penggunaan aset kripto dalam konteks geopolitik, yang pada akhirnya bisa berdampak pada dinamika pasar dan perkembangan teknologi blockchain.

Seorang pengamat industri mencatat, “Tampaknya tidak ada kutipan spesifik dari pemain kunci, pimpinan, atau pakar mengenai ketegangan geopolitik terbaru dan dampaknya terhadap Bitcoin dalam data yang tersedia. Oleh karena itu, saya tidak dapat menghasilkan format keluaran yang diminta karena tidak ada kutipan yang dapat diambil.”

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya