Korban Tewas dalam Operasi Militer AS di Venezuela Mencapai 80 Orang

Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino menyatakan bahwa sebagian besar tim pengamanan Nicolas Maduro tewas dalam operasi militer AS tersebut.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 05 Januari 2026, 19:17 WIB
Bahkan, putra Nicolas Maduro yang merupakan anggota Kongres menyerukan pada Minggu 4 Januari 2026 agar warga Venezuela turun ke jalan setelah ayahnya ditangkap oleh pasukan AS dan dipindahkan ke penjara New York. Tampak dalam foto, pendukung mantan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, saat menggelar aksi unjuk rasa di Caracas pada Minggu 4 Januari 2026. (Juan BARRETO/AFP)

Liputan6.com, Caracas - Jumlah korban tewas akibat operasi militer Amerika Serikat di Venezuela pada Sabtu (3/1/2026) dilaporkan mencapai 80 orang. Laporan itu disampaikan The New York Times pada Minggu, mengutip keterangan seorang pejabat senior Venezuela.

Menurut pejabat tersebut, angka korban masih berpotensi bertambah seiring berlanjutnya proses evakuasi dan pendataan di lapangan, dikutip dari laman Anadolu Agency, Senin (5/1).

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino menyatakan bahwa sebagian besar tim pengamanan Presiden Venezuela Nicolas Maduro tewas dalam operasi militer AS tersebut. Namun, Padrino tidak merinci jumlah korban jiwa.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan operasi militer di Venezuela berujung pada penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Trump juga menyatakan Amerika Serikat akan mengambil alih kendali sementara atas Venezuela dan tidak menutup kemungkinan mengerahkan pasukan AS untuk menjaga stabilitas.

Maduro dan Flores dilaporkan tiba di New York pada Sabtu malam dan langsung ditahan di Metropolitan Detention Center, Brooklyn. Keduanya menghadapi dakwaan federal Amerika Serikat terkait perdagangan narkoba serta dugaan kerja sama dengan kelompok kriminal yang ditetapkan Washington sebagai organisasi teroris.

Maduro membantah seluruh tuduhan tersebut. Sementara itu, sejumlah pejabat Venezuela di ibu kota Caracas mengecam penangkapan tersebut dan menyerukan pembebasan segera terhadap presiden dan ibu negara Venezuela.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya