BPS Beberkan Penyebab Inflasi di Wilayah Bencana Aceh dan Sumatera

BPS melaporkan bencana hidrometeorologi memicu lonjakan inflasi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada Desember 2025.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 05 Januari 2026, 13:30 WIB
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini, dalam Konferensi Pers BPS, Senin (5/1/2026). (Liputan6.com/Tira)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sejumlah provinsi terdampak bencana hidrometeorologi mengalami lonjakan inflasi pada Desember 2025.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Pudji Ismartini, menyebut Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kembali mencatat inflasi setelah pada November 2025 sempat mengalami deflasi.

"Tinjauan khusus inflasi di wilayah bencana hidrometeorologi Yang Pertama, untuk provinsi Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ini mengalami inflasi di Desember setelah sebelumnya deflasi di November 2025," kata Pudji dalam Konferensi Pers BPS, Senin (5/1/2026).

Menurut Pudji, ketiga provinsi tersebut masuk dalam kelompok wilayah dengan tingkat inflasi relatif tinggi secara nasional. Kondisi ini terjadi seiring dampak lanjutan bencana hidrometeorologi yang melanda pada akhir November 2025 dan memicu gangguan distribusi serta pasokan sejumlah komoditas penting.

"Ketiga provinsi ini termasuk dalam kelompok provinsi dengan tingkat inflasi tinggi. Penyebab terjadinya inflasi di tiga wilayah tersebut dikarenakan kenaikan harga komoditas yang disebabkan efek bencana hidrometeorologi pada akhir November 2025," jelasnya.

BPS mencatat, secara umum kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi di wilayah terdampak bencana. Gangguan produksi dan distribusi akibat cuaca ekstrem membuat pasokan sejumlah bahan pangan menipis, sehingga mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.

Di Provinsi Aceh, inflasi terutama dipicu oleh lonjakan harga beras. Komoditas pangan pokok ini mengalami kenaikan signifikan seiring terhambatnya distribusi dari daerah sentra produksi akibat banjir dan cuaca buruk.

"Secara umum, komoditas kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi di wilayah tersebut, seperti di Aceh yang utamanya didorong oleh kenaikan harga beras," ujarnya.

 

 

Penyebab Inflasi di Sumut dan Sumbar

Pembeli memilih sayuran saat berbelanja di sebuah pasar di Jakarta, Rabu (1/4/2020). Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pada Maret 2020 terjadi inflasi sebesar 0,10 persen, salah satunya karena adanya kenaikan harga sejumlah makanan, minuman, dan tembakau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, di Sumatera Utara, inflasi Desember 2025 didorong oleh kenaikan harga cabai rawit. Adapun di Sumatera Barat, BPS mencatat bawang merah menjadi penyumbang utama inflasi.

Harga komoditas tersebut melonjak akibat pasokan yang berkurang dan distribusi yang belum sepenuhnya pulih pascabencana.

"Di Sumatera Utara didorong oleh kenaikan harga cabai rawit, serta inflasi di Sumatera Barat yang utamanya didorong oleh bawang merah," ujar Pudji.

 

Aceh Inflasi Tertinggi Desember 2025

Di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh, proses pemulihan berjalan lambat lantaran infrastruktur yang terputus, lumpur yang tak kunjung surut, dan tumpukan kayu sisa material banjir yang menutupi sebagian wilayah tersebut. Tampak dalam foto pemandangan udara menunjukkan sisa-sisa pepohonan yang tumbang di pesantren dan masjid Darul Mukhlisin setelah banjir bandang di Aceh Tamiang, pada Rabu 10 Desember 2025. (Aditya Aji/AFP)

Adapun BPS mencatat pada Desember 2025 seluruh 38 provinsi di Indonesia mengalami inflasi secara bulanan (m-to-m). Artinya, tidak ada satu pun wilayah yang mencatat deflasi pada akhir tahun.

Pudji mengatakan secara regional, Aceh menjadi provinsi dengan inflasi tertinggi nasional sebesar 3,60%, jauh di atas rata-rata wilayah lain. Sebaliknya, Maluku Utara mencatat inflasi terendah hanya 0,05%.

"Jika dilihat sebaran inflasi bulanan menurut wilayah, maka secara bulanan seluruh provinsi mengalami inflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Aceh, yaitu sebesar 3,60%. Dan inflasi terendah terjadi di Maluku Utara, yaitu sebesar 0,05%," pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya