Donald Trump Tunda Kenaikan Tarif Impor Furnitur hingga 2027

Donald Trump resmi menunda kenaikan tarif impor furnitur hingga 2027. Keputusan ini diambil untuk ringankan beban konsumen AS di tengah lonjakan harga barang.

oleh Muhammad IsmailDiterbitkan 02 Januari 2026, 19:00 WIB
Presiden Donald Trump saat berbicara kepada para wartawan di Ruang James Brady Press Briefing di Gedung Putih, Washington, DC pada Senin (11/8/2025). (Dok. AP/Alex Brandon)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menyesuaikan kebijakan perdagangan menjelang pergantian tahun. Gedung Putih mengumumkan bahwa Presiden Trump resmi menunda kenaikan tarif impor untuk sejumlah produk furnitur, termasuk furnitur berlapis kain, lemari dapur, dan meja rias, selama satu tahun.

Dengan keputusan ini, kenaikan tarif yang sebelumnya dijadwalkan mulai berlaku pada akhir 2025 kini digeser ke tahun 2027.

Dikutip dari CNN, Jumat (2/1/2026), penundaan ini ditetapkan hanya beberapa jam sebelum 2025 berakhir, ketika Trump menandatangani sebuah proklamasi yang menghentikan sementara lonjakan tarif yang dinilai akan semakin membebani konsumen Amerika.

Sebelumnya, tarif baru atas produk-produk tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada hari Kamis, sebagai bagian dari kebijakan proteksionis yang telah digulirkan Trump sejak awal masa jabatannya pada 2025.

Pada September lalu, Trump memerintahkan pemberlakuan tarif sebesar 25 persen untuk lemari dapur dan furnitur berlapis kain impor. Tarif itu mulai diterapkan pada Oktober, dengan rencana kenaikan lanjutan menjadi 50 persen untuk lemari dapur dan 30 persen untuk furnitur berlapis kain pada 2026.

Namun, melalui perintah terbaru ini, kenaikan tarif yang lebih tinggi tersebut ditunda, sehingga tarif tetap berada di level 25 persen untuk sementara waktu.

Kebijakan ini muncul di tengah meningkatnya kritik terhadap pemerintahan Trump terkait lonjakan harga barang kebutuhan rumah tangga. Sebelum tarif 25 persen diberlakukan, harga furnitur di AS sudah lebih dulu naik akibat bea masuk terhadap berbagai produk dari China dan Vietnam, dua negara yang menjadi pemasok utama furnitur bagi pasar Amerika Serikat (AS).

Alasan Penundaan Tarif

Dalam pernyataannya Trump menyebut penundaan ini dilakukan karena Amerika Serikat masih terlibat dalam negosiasi perdagangan dengan sejumlah mitra dagang. Dok: AP Photo/John Raoux

Dalam pernyataan resminya, Trump menyebut penundaan ini dilakukan karena Amerika Serikat masih terlibat dalam negosiasi perdagangan dengan sejumlah mitra dagang. Fokus pembicaraan mencakup isu timbal balik perdagangan serta aspek keamanan nasional yang berkaitan dengan impor produk kayu.

“Amerika Serikat terus terlibat dalam negosiasi produktif dengan mitra dagang untuk mengatasi masalah timbal balik perdagangan dan keamanan nasional terkait impor produk kayu,” demikian pernyataan tersebut.

Meski demikian, pernyataan tersebut tidak secara eksplisit menjelaskan alasan utama di balik keputusan penundaan kenaikan tarif. Hal ini memicu spekulasi bahwa kebijakan tersebut juga dipengaruhi oleh kekhawatiran atas daya beli rumah tangga Amerika, yang tertekan akibat inflasi dan harga barang impor yang terus meningkat.

Tarif, Inflasi, dan Industri Kayu

Ilustrasi kebijakan tarif Donald Trump. (Dok. Pixabay/viarami)

Trump sebelumnya membenarkan tarif terhadap produk kayu, termasuk furnitur dan kayu gelondongan, dengan alasan keamanan nasional dan perlindungan industri kayu dalam negeri. Kebijakan ini didasarkan pada hasil penyelidikan Departemen Perdagangan AS berdasarkan Pasal 232 Undang-Undang Perluasan Perdagangan.

Trump juga mengkritik Kanada sebagai salah satu pemasok utama kayu ke Amerika Serikat. Ia menilai tingginya volume impor kayu dari negara tetangga tersebut berpotensi menjadi ancaman keamanan nasional.

Di sisi lain, Trump tetap menyalahkan pemerintahan Joe Biden atas inflasi yang membebani warga Amerika. Dalam pidato-pidato terbarunya, ia berargumen bahwa kebijakan tarif justru akan memberikan manfaat jangka panjang dan pada akhirnya menurunkan biaya hidup masyarakat.

Penundaan kenaikan tarif ini dinilai pelaku industri sebagai langkah sementara yang dapat memberikan ruang bernapas bagi pasar furnitur AS, sembari menunggu arah kebijakan perdagangan Amerika Serikat selanjutnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya