Liputan6.com, Amsterdam - Gereja Vondel di Amsterdam, Belanda, yang terletak dekat salah satu taman paling populer di kota tersebut, sebagian besar rusak akibat kebakaran tepat saat perayaan Tahun Baru sedang berlangsung. Demikian dilaporkan media lokal pada Kamis (1/1/2026).
Bekas Gereja Katolik itu tingginya sekitar 50 meter, atap bangunannya runtuh dalam kobaran api tersebut. Seorang juru bicara layanan darurat mengatakan bahwa kebakaran membuat bangunan berusia 154 tahun tersebut tidak lagi dapat diselamatkan.
Advertisement
"Ini adalah kebakaran yang sangat hebat dan mengerikan di gereja monumental ini," keluh Wali Kota Amsterdam Femke Halsema seperti dikutip dari laporan DW.
Kebakaran pertama kali dilaporkan tidak lama setelah tengah malam dan dengan cepat ditetapkan sebagai insiden besar. Petugas pemadam kebakaran pun meminta bantuan dari wilayah lain di Belanda.
Angkatan Laut Belanda mengerahkan platform kerja udara—sejenis alat angkat berkeranjang—setinggi 60 meter untuk membantu upaya pemadaman kebakaran.
Sejumlah besar apartemen di sekitar lokasi dievakuasi sebagai langkah pencegahan.
Tidak ada korban luka yang dilaporkan dan para penyelidik mengatakan mereka belum mengetahui penyebab kebakaran tersebut.
Namun, spekulasi mulai bermunculan bahwa kembang api malam Tahun Baru di kota itu mungkin berperan karena kebakaran terjadi sangat dekat dengan tengah malam, setelah pesta kembang api dinyalakan.
Amsterdam melarang penjualan kembang api kepada masyarakat umum sejak 2020, tetapi banyak kembang api ilegal masih tetap dinyalakan oleh warga di seluruh kota.
Gereja Vondel merupakan bangunan bergaya neo-Gotik, yang dirancang oleh arsitek ternama Pierre Cuypers, yang juga bertanggung jawab atas Rijksmuseum dan Stasiun Pusat Amsterdam.
Bangunan tersebut tidak lagi digunakan sebagai tempat ibadah sejak 1977 dan kemudian dialihfungsikan menjadi lokasi acara.
Kebakaran gereja ini merupakan salah satu dari beberapa insiden yang mencoreng perayaan Tahun Baru di Belanda.
Perayaan Tahun Baru Menelan Korban Jiwa
Sementara itu, dua orang — seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dan seorang pria berusia 38 tahun — tewas dalam kecelakaan terkait kembang api di Belanda. Tiga orang lainnya mengalami luka serius.
Rumah sakit mata di Rotterdam mengatakan telah merawat 14 pasien, termasuk 10 anak di bawah umur, akibat cedera mata.
Asosiasi Piroteknik Belanda menyalahkan larangan yang akan diberlakukan terhadap penjualan kembang api kepada konsumen atas lonjakan penjualan, yang diduga berkontribusi pada jatuhnya korban.
Asosiasi tersebut mengatakan bahwa masyarakat yang merayakan Tahun Baru telah menghabiskan dana sebesar 129 juta euro, jumlah tertinggi yang pernah tercatat, untuk kembang api pada malam Tahun Baru.
Polisi Belanda juga menggambarkan adanya tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap polisi dan layanan darurat selama malam hingga dini hari tersebut.
Para petugas dilaporkan diserang dengan kembang api, batu, bahkan bom molotov di sejumlah tempat seperti Breda.