Liputan6.com, Moskow - Presiden Vladimir Putin menyatakan keyakinan atas kemenangan Rusia di Ukraina. Hal itu disampaikannya dalam pidato tahunan Malam Tahun Baru yang pada Rabu (31/12/2025).
Rusia menyambut pergantian tahun dalam kondisi perang untuk tahun keempat berturut-turut sejak invasi ke Ukraina dimulai.
Advertisement
Pidato berdurasi sedikit lebih dari tiga menit tersebut menutup tahun yang diwarnai kemajuan bertahap pasukan Rusia di medan perang, meningkatnya korban militer di kedua belah pihak, serta upaya diplomatik yang dipimpin Amerika Serikat (AS) untuk menghentikan pertempuran.
Di tengah situasi ini, Rusia menuding Ukraina telah meluncurkan puluhan drone ke salah satu kediaman Putin pada awal pekan ini. Namun, Kyiv membantah tudingan tersebut dan menyebut klaim Moskow sebagai rekayasa yang dimaksudkan untuk memanipulasi proses perdamaian.
Sementara itu mengutip laporan CNA, utusan khusus AS Steve Witkoff mengatakan pada Rabu bahwa ia telah berbicara dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy serta para penasihat keamanan Eropa mengenai langkah-langkah untuk mengembalikan upaya perdamaian ke jalurnya. Ia menyebut masih ada "pekerjaan penting" yang harus dilakukan.
Putin tidak menyinggung insiden drone, namun menyapa prajurit Rusia di Ukraina dalam pidato Tahun Baru-nya.
"Kami berupaya menebarkan kehangatan dan kebahagiaan dengan menunjukkan kepedulian kepada mereka yang membutuhkan dukungan. Pada saat yang sama, kami juga berdiri bersama para pahlawan kami—mereka yang terlibat dalam operasi militer khusus—tidak hanya lewat kata-kata, tetapi juga melalui tindakan nyata.
Anda telah memilih untuk memikul tanggung jawab besar: berjuang demi tanah air, demi kebenaran, dan demi keadilan. Pada malam pergantian tahun ini, jutaan warga Rusia berada bersama Anda—mereka memikirkan Anda, merasakan apa yang Anda rasakan, dan menggantungkan harapan mereka kepada Anda. Kita semua dipersatukan oleh cinta yang tulus dan penuh pengabdian kepada Rusia.
Saya mengucapkan selamat Tahun Baru kepada seluruh prajurit dan para komandan. Kami percaya kepada Anda dan kami percaya pada kemenangan kita," ujar Putin.
Putin selama ini secara konsisten menyampaikan kepada rakyat Rusia bahwa militer akan berusaha merebut seluruh wilayah Ukraina yang telah ia nyatakan sebagai bagian dari Rusia, termasuk dengan kekuatan militer jika perundingan gagal mencapai kesepakatan.
Hingga kini, Rusia telah menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina. Dalam kurun waktu tersebut, Rusia melancarkan serangan hampir setiap hari menggunakan rudal dan drone, menewaskan ribuan warga sipil Ukraina serta memaksa jutaan orang meninggalkan rumah mereka.
Rusia Bersikukuh pada Klaim Serangan ke Kediaman Putin
Di sisi lain, diplomasi yang dipimpin AS untuk mengakhiri perang menunjukkan peningkatan dalam beberapa pekan terakhir. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dijadwalkan menghadiri pertemuan puncak bersama negara-negara sekutu di Prancis pada 6 Januari, setelah sebelumnya mengadakan pembicaraan dengan Presiden Donald Trump di Florida.
Namun demikian, Rusia belum menunjukkan tanda-tanda akan melonggarkan tuntutan terkait Ukraina.
Pada Rabu, Uni Eropa turut menuduh Rusia berupaya menggagalkan proses perundingan melalui klaim bahwa Ukraina mencoba menyerang kediaman Putin di wilayah barat laut Rusia.
Kremlin mengklaim bahwa Ukraina meluncurkan puluhan drone ke kediaman tepi danau milik Putin di wilayah Novgorod, yang terletak di antara Moskow dan Saint Petersburg, pada 28 Desember malam.
Pada hari yang sama, Moskow merilis rekaman video sebuah drone yang diklaim dikirim oleh Kyiv ke arah kediaman tersebut.
Rusia menyebut insiden itu sebagai "serangan teroris" dan "serangan pribadi" terhadap Putin, serta mengatakan bahwa pihaknya akan memperkeras sikap dalam perundingan perang Ukraina.
Video yang direkam pada malam hari itu memperlihatkan sebuah drone dalam kondisi rusak tergeletak di atas salju di kawasan berhutan. Kementerian Pertahanan Rusia menyatakan bahwa dugaan serangan tersebut bersifat terarah, direncanakan secara matang, dan dilakukan secara bertahap.
Namun, Institute for the Study of War (ISW) yang berbasis di Amerika Serikat menyebut pada Selasa bahwa mereka tidak menemukan rekaman atau laporan yang biasanya menyertai serangan jarak jauh Ukraina yang dapat menguatkan klaim Kremlin mengenai ancaman terhadap kediaman Putin di Oblast Novgorod.
Putin belum memberikan komentar publik mengenai dugaan serangan tersebut. Kremlin hanya menyatakan bahwa Putin telah memberi tahu Presiden Trump tentang insiden itu melalui sambungan telepon, sementara Moskow tidak mengungkapkan di mana Putin berada saat peristiwa tersebut terjadi.