Liputan6.com, Jakarta - Emas kembali menjadi sorotan utama pelaku pasar global. Di tengah sinyal pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik, logam mulia ini dinilai memiliki potensi reli yang lebih kuat dan berkelanjutan dibanding siklus sebelumnya.
Perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan Federal Reserve (The Fed) menjadi fondasi utama penguatan harga emas. Data inflasi AS yang mulai melandai, disertai tanda perlambatan pasar tenaga kerja, memperkuat pandangan bahwa siklus pengetatan suku bunga mendekati akhir.
Advertisement
Kondisi tersebut berdampak langsung pada penurunan imbal hasil riil obligasi pemerintah AS. Situasi ini menguntungkan emas yang tidak menawarkan imbal hasil, karena biaya peluang untuk memegang emas menjadi lebih rendah.
“Ketika real yield mulai turun dan pasar melihat potensi pelonggaran moneter, emas secara historis selalu mendapat dorongan struktural. Kondisi saat ini sangat mirip dengan fase awal reli jangka panjang sebelumnya,” ujar Financial Analyst Finex Brahmantya Himawan dalam keterangan tertulis, Jumat (2/1/2026).
Bagi investor dan trader, termasuk pelaku pasar logam mulia, momentum ini dinilai krusial untuk membaca arah pergerakan emas di tahun baru.
Proyeksi Harga Emas dan Perak di 2026
Seiring menguatnya peran emas sebagai aset lindung nilai, perhatian investor mulai meluas ke logam mulia lain yang menawarkan peluang pertumbuhan lebih agresif. Dalam fase ketika pasar tidak hanya mencari perlindungan, tetapi juga potensi ekspansi nilai, perak mulai dilirik sebagai pelengkap strategis.
Berbeda dengan emas yang identik sebagai safe haven, perak memiliki karakter ganda. Selain sebagai logam mulia, perak juga berperan penting sebagai komoditas industri. Permintaan dari sektor energi terbarukan, kendaraan listrik, hingga teknologi menjadi pendorong utama kinerjanya.
Lonjakan kebutuhan industri tersebut membuat pergerakan harga perak dalam setahun terakhir cenderung melampaui emas. Bahkan, masuknya perak dalam daftar critical minerals di Amerika Serikat semakin memperkuat prospek jangka menengah hingga panjang.
“Perak saat ini berada di persimpangan menarik antara kebutuhan industri dan minat investasi. Kombinasi ini membuat pergerakannya cenderung lebih agresif, terutama saat siklus ekonomi mulai bergeser,” tambah Brahmantya Himawan.
Sejumlah proyeksi menyebutkan, harga emas berpotensi bergerak di kisaran USD 4.700–5.000 per troy ounce, sementara perak berpeluang mencapai USD 90–120 per troy ounce pada 2026.
Instrumen Lindung Nilai
Dengan mempertimbangkan faktor moneter, geopolitik, serta perubahan struktural global, prospek emas dan perak memasuki 2026 dinilai tetap konstruktif. Untuk investor jangka panjang, emas masih relevan sebagai instrumen lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Sementara itu, bagi trader aktif, volatilitas dan tren yang terbentuk membuka peluang strategi follow the trend, dengan catatan tetap menerapkan manajemen risiko yang disiplin.
Di tengah dinamika pasar yang semakin kompleks, pemahaman terhadap fundamental menjadi kunci utama dalam menjadikan emas sebagai bagian dari strategi keuangan yang berkelanjutan. Kombinasi analisis makro, kebijakan moneter, serta permintaan industri dinilai akan terus memengaruhi arah harga logam mulia ke depan.
Dengan kondisi global yang belum sepenuhnya stabil, emas diyakini masih akan mempertahankan posisinya sebagai salah satu aset favorit investor untuk menghadapi ketidakpastian di tahun-tahun mendatang.