Panas Bumi Jadi Tulang Punggung Transisi Energi, Begini Prediksi Prospek PGEO

Perusahaan ini dinilai berada pada posisi yang solid untuk memanfaatkan momentum tersebut. Dengan pipeline ekspansi yang jelas dan terukur, emiten ini dinilai berpotensi memperkuat kontribusi EBT nasional.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 30 Desember 2025, 18:00 WIB
PGE Lumut Balai Unit 2 (Foto: Pertamina Geothermal Energy)

Liputan6.com, Jakarta - Keberadaan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dinilai berperan dalam mendorong transisi energi di Indonesia. Energi panas bumi yang dikelola PGE dipandang mampu menjaga keandalan sistem kelistrikan sekaligus mendukung peningkatan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT), sebagai sumber listrik bersih yang berkarakter baseload.

Analis pasar modal dari Bahana Sekuritas Jeremy Mikael menilai dari sisi pasar, saham PGE dinilai juga memiliki potensi yang positif dengan pertumbuhannya yang lebih terukur. Perusahaan ini dinilai berada pada posisi yang solid untuk memanfaatkan momentum tersebut. Dengan pipeline ekspansi yang jelas dan terukur, emiten ini dinilai berpotensi memperkuat kontribusi EBT nasional.

“Dengan target pengembangan kapasitas menuju 1 gigawatt (GW) dan produksi 5,5–6,0 gigawatt hour (GWh) pada 2028, PGEO menawarkan kombinasi pertumbuhan yang terukur dan profil bisnis yang relatif defensif, terutama jika dibandingkan dengan sejumlah emiten EBT lain maupun sektor seperti pertambangan mineral dan logam,” ujar Jeremy dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (16/12/2025).

Jeremy menambahkan, karakteristik bisnis panas bumi yang cenderung stabil membuat pertumbuhan pendapatan dan laba PGE relatif lebih konsisten.

Ditambah dengan target PGE untuk menjadi 1 GW company melalui pengembangan sejumlah proyek strategis, hal ini menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang berminat investasi ke sektor energi hijau dengan risiko yang lebih terkendali.

Dia juga meyakini peluang pertumbuhan PGE dalam beberapa tahun ke depan akan sangat terbuka. “Kami melihat dalam tiga tahun ke depan, setidaknya pada 2028, kapasitas PGEO berpotensi mencapai 1 GW. Hal ini dapat mendorong total produksi listrik menjadi sekitar 5.5–6.0 GWh. EBITDA diproyeksikan dapat mencapai USD 484 juta pada 2028 (CAGR 2024–2028 sebesar 11%), sementara laba bersih diperkirakan mencapai USD 201 juta pada 2028 (CAGR 2024–2028 sebesar 5.8%),” jelasnya.

Dari sisi fundamental, Jeremy juga menyoroti neraca keuangan PGE yang dinilai masih cukup sehat.

“PGEO memiliki growth story yang jelas dari sisi penambahan kapasitas secara organik. Dari sisi valuasi, PGEO juga masih relatif reasonable dibandingkan pemain panas bumi lainnya di Indonesia. Selain itu, PGEO memiliki neraca yang sehat, dengan gearing ratio di bawah rata-rata industri, sehingga masih memiliki debt head room apabila dibutuhkan untuk ekspansi,” katanya.

 

Perkuat Peran Panas Bumi dalam Bauran Listrik Nasional

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) melakukan sinkronisasi perdana Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 2 di Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan, pada Sabtu, 14 Juni 2025. DOk PGE

Jeremy menilai prospek sektor EBT di Indonesia akan semakin menguat seiring dengan target pemerintah dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034.

Dalam dokumen tersebut, kontribusi listrik dari EBT ditargetkan mencapai 30% pada 2034, dengan tambahan kapasitas terpasang EBT sebesar 52,8 GW.

Dari jumlah tersebut, panas bumi diproyeksikan berkontribusi sekitar 5,2 GW, meningkat signifikan dari kapasitas eksisting saat ini. Kemudian pangsa pasar EBT berdasarkan kapasitas terpasang ditargetkan meningkat menjadi 37,5% pada 2034, naik dari sekitar 9,6% saat ini.

“Melihat pergerakan beberapa saham di sektor EBT, tampaknya minat investor terhadap sektor EBT mulai terlihat. Sementara itu, untuk PGEO, saat ini sahamnya terlihat berada dalam fase koreksi setelah mengalami kenaikan pada kuartal kedua dan ketiga tahun ini. Namun, secara fundamental, prospek jangka menengahnya masih tetap menarik,” katanya.

 

Eksekusi proyek

Terkait aspek eksekusi proyek, Jeremy menilai sinergi antar pemangku kepentingan menjadi faktor penting. Peran Danantara dalam mendukung kesepakatan kerja sama antara PGEO dan PT PLN (Persero), termasuk dengan anak usaha PLN Indonesia Power, melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU).

Kerja sama tersebut mencakup pengembangan 19 proyek panas bumi dengan total potensi tambahan kapasitas hingga 530 megawatt (MW). “Dengan keterlibatan Danantara, kami melihat koordinasi antara PGEO dan PLN sebagai offtaker tunggal dapat berjalan lebih selaras dalam pengembangan proyek ke depan,” pungkasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terbaru

    Berita Terkini Selengkapnya