Bupati Aceh Utara Mengeluh Tak Pernah Dikunjungi Prabowo: Apa Tak Tahu Ada Banjir

Bupati Aceh Utara, Ismail Jalil mengeluhkan wilayahnya sama sekali tidak pernah dikunjungi Presiden Prabowo Subianto saat meninjau penandangan banjir bandang di Sumatera.

oleh Delvira HutabaratDiterbitkan 30 Desember 2025, 17:51 WIB
Anak-anak memakan makanan yang dibagikan di Babo, Aceh Tamiang, pada Senin 15 Desember 2025. Ancaman gangguan kesehatan menghantui anak-anak korban bencana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di berbagai wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. (Yasuyoshi CHIBA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Bupati Aceh Utara, Ismail Jalil mengeluhkan wilayahnya sama sekali tidak pernah dikunjungi Presiden Prabowo Subianto saat meninjau banjir bandang di Sumatera. Dia mengaku heran dan mempertanyakan, apakah Kepala negara tidak mengetahui bahwa Aceh Utara juga terdampak bencana.

Keluhan tersebut disampaikan Ismail di hadapan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam rapat koordinasi satgas pemulihan pascabencana di Aceh, Selasa (30/12/2025).

"Mungkin di Aceh Utara selama ini Pak Presiden selalu ke Tamiang dan Takengon Aceh Tengah dan juga hadir di Pidie Jaya. Termasuk Wapres. Tapi di Aceh Utara kayaknya kemana saya rasa, apa (Prabowo) nggak tahu ada banjir," kata Ismail dalam rapat. 

Ismail menyatakan, mayoritas kecamatan di Aceh Utara porak-poranda terkena banjr bandang. Namun, ia menduga kabar tentang Aceh Utara tidak viral karena putusnya jaringan internet di sana.

Ismail bahkan  sempat menangis dan memohon bantuan helikopter ke pemerintah pusat untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakatnya.

"Kami bisa melihat saja bagaimana rumah hanyut. Kemudian bagaimana sarana ibadah hanyut. Kemudian manusianya hanyut dibawa arus kami hanya bisa melihat di atap-atap," kata dia.

 

Pemerintah Pusat Dinilai Tutup Mata

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya bersama tim SAR gabungan masih melakukan pendataan serta upaya evakuasi warga yang terjebak banjir. Petugas juga berusaha membuka jalur alternatif terkait jembatan nasional yang rusak. Tampak foto udara menunjukkan sebuah ekskavator sedang membersihkan lumpur dari banjir bandang di jalan utama yang menghubungkan Aceh dan Sumatera Utara di Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, pada Jumat 28 November 2025. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Menurut Ismail, kerusakan dan keparahan akibat bencana banjir dan longsor di Aceh Utara kali ini melebihi Tsunami Aceh.

"Tapi pusat kayaknya tutup mata akibat kami tidak ada sinyal hp dan mati lampu maka tidak viral mungkin itu alasan tidak hadir," pungkasnya.

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengungkapkan 22 desa di Sumatera hilang karena bencana banjir bandang dan longsor beberapa waktu lalu. Sebanyak 13 desa di Provinsi Aceh hilang tersapu banjir, 8 desa di Sumatera Utara, 1 desa di Sumatera Barat.

"Data kami menunjukkan bahwa ada desa yang hilang itu totalnya 22. Di Aceh ada 13 hilang, tersapu. Di Sumatera Utara ada 8. Sumatera Barat ada 1," kata Tito dalam konferensi pers perkembangan penanganan bencana Sumatera di Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma Jakarta, Senin (29/12/2025).

Selain itu, kata dia, sebanyak 1.580 kantor desa di wilayah Sumatera yang mengalami kerusakan sehingga pemerintahannya tidak dapat berjalan. Tito mengungkapkan sebanyak 800 desa berada di Kabupaten Aceh Tamiang dan Aceh Utara.

"Kalau kita lihat lagi dari kantor desa yang terdampak, artinya desanya enggak jalan ini pemerintahannya, totalnya 1.580 di tiga provinsi. 1.455 itu di Aceh. Kemudian Sumatera Utara 93, dan Sumatera Barat 32," jelasnya.

"Jadi memang agak jauh bedanya, dan paling banyak itu adalah di Aceh Utara 800 lebih dan Aceh Tamiang," sambung Tito.

Infografis Biaya Perbaikan Dampak Banjir Sumatera. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya