Presiden Prabowo Bakal Buka Perdagangan Perdana Bursa pada 2 Januari 2026

Presiden Prabowo Subianto akan membuka perdagangan saham pada Jumat, 2 Januari 2026.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 29 Desember 2025, 15:30 WIB
Suasana kantor Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/11). Dari 538 saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, 181 saham menguat, 39 saham melemah, 63 saham stagnan, dan sisanya belum diperdagangkan. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dijadwalkan hadir dan meresmikan pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) tahun 2026. Agenda tersebut akan digelar pada Jumat, 2 Januari 2026, bertempat di Main Hall Gedung BEI, Jakarta.

Melansir undangan resmi PT Bursa Efek Indonesia kepada wartawan pasar modal, yang diterima Liputan6.com, Senin (29/12/2025) dalam agenda tersebut, Presiden Prabowo akan membuka perdagangan BEI tahun 2026, sekaligus menandatangani sertifikat pembukaan perdagangan.

Selain prosesi pembukaan perdagangan, Presiden Prabowo juga dijadwalkan menyampaikan pidato arahan kepada para pelaku pasar modal dan pemangku kepentingan yang hadir. 

Acara pembukaan perdagangan ini akan didampingi oleh sejumlah pejabat tinggi negara, termasuk Gubernur Bank Indonesia, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Menteri Keuangan, serta Direktur Utama BEI.

Pembukaan perdagangan BEI 2026 merupakan bagian dari rangkaian acara pasar modal nasional, yang sebelumnya diawali dengan penutupan perdagangan BEI tahun 2025. 

Sebelum pembukaan perdagangan tahun 2026, BEI juga akan menggelar penutupan perdagangan tahun 2025. Penutupan perdagangan BEI 2025 dijadwalkan berlangsung pada Selasa, 30 Desember 2025, dan rencananya diresmikan oleh Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Inarno Djajadi

Rangkaian acara penutupan perdagangan BEI 2025 mencakup laporan Direktur Utama BEI, pemberian apresiasi kepada investor ke-20 juta, serta penandatanganan sertifikat penutupan perdagangan. Acara ini menandai berakhirnya aktivitas perdagangan pasar modal sepanjang tahun 2025.

 

 

Kinerja IHSG

Pejalan kaki melintas dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di kawasan Jakarta, Senin (13/1/2020). IHSG sore ini ditutup di zona hijau pada level 6.296 naik 21,62 poin atau 0,34 persen. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kinerja positif sepanjang 2025. Sejumlah sentimen baik internal dan eksternal mewarnai laju IHSG. Sentimen yang mendorong kinerja IHSG antara lain pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) dan tarif dagang Amerika Serikat (AS).

Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Minggu (28/12/2025), IHSG melesat 20,59% ke posisi 8.537,91 secara year to date (ytd). Kinerja IHSG tersebut berada di posisi ketiga di kawasan ASEAN dan posisi tujuh di kawasan Asia Pasifik. Di ASEAN, bursa saham Vietnam berada di posisi pertama dengan pertumbuhan 38,89% sedangkan posisi kedua dicatat bursa saham Singapura yang menguat 22,41% secara ytd.

Namun, di tengah pertumbuhan kinerja IHSG, investor asing cenderung melakukan aksi jual saham. Tercatat sepanjang 2025, investor asing melepas Rp 18,36 triliun.

Fund Manager Syailendra Capital Rendy Wijaya menuturkan, ada sejumlah faktor yang mengangkat IHSG sepanjang 2025. Pertama, penurunan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) sebesar 125 basis poin (bps) sejak September 2024. Saat ini, suku bunga acuan BI berada di posisi 4,75%.

Selain itu, saham konglomerasi juga menguat sepanjang 2025 sehingga berkontribusi terhadap laju IHSG. Tercatat porsi saham konglomerasi naik 2,4% pada 2021 menjadi 20,8% per Juli 2025.

 

Sentimen IHSG

Karyawan melintasi layar yang menampilkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat acara Penutupan Perdagangan Bursa Efek Indonesia Tahun 2022 di Jakarta, Jumat (30/12/2022). PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat ada 59 perusahaan yang melakukan Initial Public Offering (IPO) atau pencatatan saham sepanjang 2022. Pada penutupan perdagangan akhir tahun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup lesu 0,14% atau 9,46 poin menjadi 6.850,62. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, pengamat pasar modal Reydi Octa mengatakan, kenaikan IHSG ditopang sejumlah sentimen terutama dari domestik. Hal itu antara lain reshuffle kabinet, suntikan likuiditas dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, pertumbuhan ekonomi yang solid dan inflasi terjaga.

Namun, sepanjang 2025, Reydi menilai, aksi jual investor asing masih jadi faktor dominan penghamat kenaikan IHSG. "Perang tarif dan konflik geopolitik buat investor wait and see. Saat itu juga suku bunga masih sempat diproyeksikan higher for longer, kenaikan IHSG sempat didominasi oleh saham konglomerasi,” ujar Reydi saat dihubungi Liputan6.com.

Hal senada disampaikan Rendy. Rendy mengatakan, ketidakpastian dan sentimen risk-off global terutama isu tarif dagang Amerika Serikat (AS) menekan IHSG. Ditambah pelemahan rupiah yang memicu tekanan aliran keluar dari investor asing serta kekhawatiran pelebaran fiskal akibat adanya perubahan menteri keuangan.

 

Kinerja Sektor Saham pada 2025

Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Di tengah pertumbuhan kinerja IHSG, sektor saham teknologi, industri dan infrastruktur mencatat kinerja yanng melesat signifikan. Tercatat pertumbuhan sektor saham itu masing-masing 143,55%, 103,75% dan 71,30%.

Rendy melihat, saham teknologi menguat seiring lonjakan saham DCII. Saham DCII menguat 438,35% ytd. Sedangkan sektor saham infrastruktur melesat didorong peningkatan dari subsector telekomunikasi dan infrastruktur digital.

"Sedangkan untuk industri atau IDX industri kami melihat peningkatan lebih ditekankan oleh perbaikan indikator ekonomi seperti aktivitas manufaktur (PMI) serta adanya penurunan suku bunga yang diharapkan terdapat peningkatan purchasing power sehingga meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) domestik,” kata dia.

Sementara itu, sektor saham consumer nonsiklikal dan keuangan menguat terbatas di antara 11 sektor saham lainnya pada 2025. Tercatat sektor saham consumer nonsiklikal naik 8,58% dan sektor saham keuangan bertambah 9,25% secara ytd.

 

Kinerja Sektor Saham Lainnya

Layar komputer menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Jakarta, Kamis (9/9/2021). IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Kamis sore ditutup menguat 42,2 poin atau 0,7 persen ke posisi 6.068,22 dipicu aksi beli oleh investor asing. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Reydi menuturkan, sektor saham consumer nonsiklikal masih menghadapi tekanan daya beli masyarakat dan margin usaha sehingga ruang pertumbuhan kinerjanya relatif terbatas.

Sedangkan sektor keuangan, ia menilai perbankan besar bergerak lebih moderat seiring normalisasi pertumbuhan kredit, kenaikan biaya dana, serta valuasi yang sudah relatif matang. “Investor asing juga belum mengakumulasi perbankan sehingga potensi kenaikannya tidak seagresif sektor lain,” tutur Reydi.

Sedangkan Rendy menilai sektor saham keuangan dan consumernonsiklikal tumbuh terbatas karena minim katalis pada 2025 dan terjadi rotasi sektor. “Loan growth yang tumbuh single digit, funding risk dan foreign exchange volability merupakan beberapa faktor yang membuat sektor keuangan tumbuh tidak signifikan dibandingkan dengan sektor lainnya,” kata dia.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya