Liputan6.com, Jakarta - Penyaluran Bantuan Langsung Tunai Kesejahteraan Rakyat (BLT Kesra) kembali digelar pemerintah di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari upaya menjaga daya beli keluarga rentan.
Program bantuan sosial tunai yang berada di bawah koordinasi Kementerian Sosial RI ini disalurkan kepada jutaan keluarga penerima manfaat (KPM) melalui mitra resmi pemerintah, salah satunya Pos Indonesia atau PosIND, yang menjalankan mandat negara hingga ke tingkat paling dekat dengan warga.
Advertisement
Di Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pelaksanaan BLTS Kesra berlangsung dalam situasi yang tidak biasa. Sejumlah wilayah, termasuk Kecamatan Malalak, baru saja terdampak bencana banjir dan longsor.
Jalan terputus tak lagi bisa dilewati, jembatan rusak bahkan lenyap diterjang banjir, dan yang pasti banjir dan longsor yang melanda kawasan ini memutus akses antar nagari dan warga di dalamnya. Aktivitas pertanian sangat terganggu, serta menekan ekonomi keluarga yang sebagian besar bergantung pada hasil sawah dan ladang.
Sebagian warga kehilangan penghasilan karena sawah dan ladang tak lagi bisa digarap, sementara kebutuhan hidup sehari-hari tetap berjalan.
Dalam kondisi tersebut, Pos Indonesia tetap menjalankan tugasnya sebagai pelaksana penyaluran BLTS Kesra, sekaligus ikut terlibat dalam distribusi bantuan logistik kebencanaan yang dikirimkan dari berbagai daerah. Penyaluran bantuan tunai dari pemerintah dan distribusi bantuan darurat berjalan beriringan, menandai hadirnya negara melalui dua jalur sekaligus: perlindungan sosial dan tanggap darurat bencana. Keduanya berjalan bersamaan, menyentuh warga di waktu yang sama.
Bagi warga terdampak, BLTS Kesra bukan sekadar bantuan uang. Ia hadir sebagai penyangga sementara di tengah ketidakpastian, sementara bantuan logistik menjawab kebutuhan paling mendesak.
Executive Manager (EM) Kantor Pos Indonesia Cabang Bukittinggi Robby Riyanto menjelaskan bahwa untuk wilayah terdampak bencana, Pos Indonesia menyesuaikan skema penyaluran.
“Untuk daerah terdampak, kami lebih banyak melakukan penyaluran door to door dan berbasis komunitas,” ujarnya.
Koordinasi dilakukan dengan nagari untuk menentukan titik lokasi penerima. Kendala utama, menurut Robby, adalah akses jalan.
“Dalam kondisi normal, daerah ini mudah dijangkau. Tapi sekarang infrastruktur jalan menjadi tantangan,” katanya.
Meski demikian, Pos Indonesia menargetkan kinerja penyaluran mendekati 100 persen. “Prinsip kami mempermudah masyarakat mendapatkan bantuan,” tegasnya.
Penyaluran BLTS Kesra
Hal senada disampaikan Branch Manager KCP Bukittinggi Pasar Atas, Robert Chaniago. Di Kecamatan Malalak, penyaluran BLTS Kesra dilakukan di kantor wali nagari karena jalur transportasi rusak.
“Karena banyak jalan putus atau amblas, penyaluran kami lakukan di kantor wali nagari yang mudah diakses,” ujarnya.
Untuk Malalak, penyaluran disebut hampir rampung, dengan kendala utama jarak rumah penerima, kondisi sakit, dan usia lanjut, yang kemudian diatasi dengan layanan antar.
Logistik Bencana: Jalur Lain Kehadiran Negara
Sementara BLTS Kesra memberi ruang bernapas ekonomi, distribusi logistik bencana menjawab kebutuhan darurat. Rahmad Lasmono, Kepala BPBD Kabupaten Agam, menjelaskan bahwa BPBD berperan sebagai leading sector kebencanaan.
“Semua bantuan, logistik, kesehatan, hingga trauma healing, kami kumpulkan di posko, lalu didistribusikan ke kecamatan dan nagari,” katanya.
Bantuan tidak dibagikan langsung dari posko agar tepat sasaran. Kolaborasi dengan Pos Indonesia dinilai mempermudah alur bantuan, terutama dari donatur luar daerah.
“Dengan Pos, masyarakat dari wilayah jauh bisa lebih leluasa menyalurkan bantuannya,” ujar Rahmad.
BPBD juga menyesuaikan bantuan dengan kebutuhan spesifik warga, anak-anak, ibu hamil, lansia. “Kebutuhan berbeda-beda dan harus cepat dipenuhi,” katanya.
Bantuan Tunai sebagai Jembatan Pemulihan
Di wilayah bencana, BLTS Kesra berfungsi sebagai jembatan pemulihan ekonomi. Tidak seperti logistik yang sifatnya seragam, bantuan tunai memberi fleksibilitas. Warga bisa memilih: membeli beras, membayar sekolah, atau menutup kebutuhan mendesak lain.
Di Kecamatan Malalak dan sebgian wilayah kabupaten Agam, pemulihan masih berjalan perlahan. Jalan dan jembatan belum sepenuhnya pulih, sawah membutuhkan waktu untuk kembali digarap, dan sebagian warga masih hidup dalam bayang-bayang trauma bencana. Namun di tengah situasi tersebut, bantuan negara terus hadir melalui proses yang berkelanjutan.
Bagi para korban banjir dan longsor di Agam, kehadiran pemerintah melalui berbagai skema bantuan adalah pengingat bahwa mereka tidak dibiarkan menghadapi krisis sendirian. Negara hadir melalui kebijakan, melalui anggaran, dan melalui orang-orang yang bekerja di lapanga, dari petugas kebencanaan, relawan, hingga petugas Pos Indonesia yang tetap menjalankan mandat penyaluran bantuan sebagai bentuk tanggung jawab pelayanan publik.
Di tengah medan yang sulit, tugas itu dijalankan tanpa hiruk-pikuk. Bantuan diantarkan, data diverifikasi, dan warga didatangi satu per satu. Dari proses itulah, pemulihan sosial dan ekonomi perlahan dibangun kembali, tidak dengan janji besar, tetapi melalui kehadiran yang konsisten.
BLTS Kesra dan bantuan bencana berjalan bersamaan, satu menjaga hari ini, satu membuka jalan menuju esok. Di tengah lumpur dan longsor, kehadiran itu menjadi penanda bahwa warga terdampak tidak sepenuhnya sendiri.