Liputan6.com, Kyiv - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dijadwalkan bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Florida pada Minggu (28/12/2025) untuk membahas isu-isu teritorial yang menjadi hambatan utama dalam upaya mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Pertemuan itu berlangsung di tengah penyusunan kerangka perdamaian 20 poin serta perjanjian jaminan keamanan yang disebut hampir rampung, dikutip dari laman Japan Today, Sabtu (27/12).
Advertisement
Mengumumkan agenda tersebut, Zelenskyy mengatakan bahwa banyak keputusan penting berpotensi diambil sebelum pergantian tahun, seiring dorongan Washington untuk menghentikan perang skala penuh Rusia di Ukraina—konflik paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia II.
“Mengenai isu-isu sensitif, kami akan membahas Donbas dan pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia. Tentu akan ada isu-isu lain juga,” kata Zelenskyy kepada wartawan dalam pernyataan melalui WhatsApp.
Zelenskyy berharap dapat meyakinkan Trump untuk membatalkan proposal AS yang mengharuskan pasukan Ukraina menarik diri sepenuhnya dari Donbas.
Menurut laporan Axios, jika upaya tersebut tidak berhasil, Zelenskyy menyatakan bersedia mengajukan rencana perdamaian 20 poin yang dipimpin Washington ke referendum nasional—dengan syarat Rusia menyetujui gencatan senjata selama 60 hari agar Ukraina dapat mempersiapkan dan menyelenggarakan pemungutan suara.
Moskow menuntut Ukraina mundur dari bagian wilayah Donetsk timur yang belum berhasil dikuasai pasukan Rusia selama hampir empat tahun perang, sebagai bagian dari upaya menguasai penuh Donbas yang mencakup wilayah Donetsk dan Luhansk. Sebaliknya, Kyiv menginginkan pertempuran dihentikan di sepanjang garis depan saat ini.
Amerika Serikat, yang berupaya mencari titik temu, mengusulkan pembentukan zona ekonomi bebas jika Ukraina meninggalkan wilayah tersebut. Namun, proposal itu belum merinci mekanisme dan operasional zona dimaksud.
Isu teritorial tetap menjadi batu sandungan utama dalam negosiasi. Zelenskyy menegaskan, setiap kompromi terkait wilayah harus diputuskan oleh rakyat Ukraina melalui referendum.
Selain Donbas, pembangkit listrik tenaga nuklir Zaporizhzhia—yang terbesar di Eropa—juga menjadi topik pembahasan. Fasilitas tersebut berada di garis depan pertempuran dan saat ini dikuasai pasukan Rusia.
Tujuan Lain dari Pertemuan
Zelenskyy mengatakan pertemuannya dengan Trump bertujuan untuk “memperbaiki” draf kesepakatan yang ada serta membahas potensi kerja sama ekonomi bagi Ukraina. Ia belum memastikan apakah kesepakatan apa pun akan ditandatangani selama kunjungan tersebut, namun menegaskan Kyiv terbuka terhadap kemungkinan itu.
Menurut Zelenskyy, perjanjian jaminan keamanan antara Ukraina dan AS hampir selesai, sementara draf rencana perdamaian 20 poin telah rampung sekitar 90 persen. Ukraina menginginkan kesepakatan yang kuat dan mengikat secara hukum, mengingat kegagalan jaminan keamanan dari sekutu di masa lalu dalam mencegah agresi Rusia.
Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas pernyataan Zelenskyy. Trump sebelumnya menyatakan kesediaannya bertemu Zelenskyy jika terdapat peluang kemajuan diplomatik yang signifikan, di tengah keluhannya atas lambannya proses negosiasi.
Zelenskyy juga menyebut para pemimpin Eropa kemungkinan akan bergabung dalam pembicaraan secara daring. Pada Jumat, ia mengaku telah membahas “kemajuan signifikan” dalam upaya perdamaian dengan Presiden Finlandia Alexander Stubb.