Trump Tarik Pulang Hampir 30 Diplomat Karier dari Jabatan Duta Besar, Ada Apa?

Bagaimana Kementerian Luar Negeri AS menjelaskan fenomena ini?

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 25 Desember 2025, 10:00 WIB
Presiden Donald Trump menunjuk seorang wartawan untuk mengajukan pertanyaan saat berbicara kepada media, Jumat (27/6/2025), di Gedung Putih, Washington, DC, Amerika Serikat. (Dok. AP/Jacquelyn Martin) 

Liputan6.com, Washington, DC - Pemerintahan Presiden Donald Trump menarik pulang hampir 30 diplomat karier dari jabatan duta besar dan posisi senior lainnya di berbagai kedutaan Amerika Serikat (AS). Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk membentuk ulang kebijakan diplomatik negara tersebut di luar negeri dengan menempatkan pejabat yang dinilai sepenuhnya mendukung prioritas "America First" Trump. 

Melansir Associated Press, menurut dua pejabat Kementerian Luar Negeri AS yang berbicara dengan syarat anonim untuk membahas pergerakan personel internal, para kepala perwakilan di sedikitnya 29 negara diberi tahu pekan lalu bahwa masa tugas mereka akan berakhir pada Januari.

Semua diplomat tersebut mulai menjabat pada masa pemerintahan Joe Biden, namun sempat lolos dari pembersihan awal pada bulan-bulan pertama masa jabatan kedua Trump yang terutama menargetkan para pejabat penunjukan politik. Hal itu berubah pada hari Rabu ketika mereka mulai menerima pemberitahuan dari pejabat di Washington mengenai kepulangan mereka segera.

Para duta besar bertugas atas kehendak presiden, meskipun biasanya mereka tetap berada di pos masing-masing selama tiga hingga empat tahun. Para pejabat yang terdampak perombakan ini tidak kehilangan pekerjaan mereka di kementerian luar negeri, tetapi akan kembali ke Washington untuk penugasan lain jika mereka memilih untuk menerimanya.

 

Negara Mana Saja yang Terdampak?

Kementerian Luar Negeri AS menolak mengomentari jumlah pasti atau nama duta besar yang terdampak, namun membela perubahan ini dengan menyebutnya sebagai proses standar dalam setiap pemerintahan. Kementerian itu menyatakan bahwa seorang duta besar adalah perwakilan pribadi presiden dan merupakan hak presiden untuk memastikan bahwa ia memiliki individu-individu di negara-negara tersebut yang memajukan agenda "America First".

Afrika merupakan benua yang paling terdampak oleh kebijakan ini, di mana duta besar dari 13 negara ditarik, yakni Burundi, Kamerun, Tanjung Verde, Gabon, Pantai Gading, Madagaskar, Mauritius, Niger, Nigeria, Rwanda, Senegal, Somalia, dan Uganda.

Di posisi kedua adalah Asia, dengan perubahan duta besar di enam negara yakni Fiji, Laos, Kepulauan Marshall, Papua Nugini, Filipina, dan Vietnam.

Empat negara di Eropa, yaitu Armenia, Makedonia, Montenegro, dan Slovakia terdampak. Demikian pula masing-masing dua negara di Timur Tengah, yaitu Aljazair dan Mesir; Asia Selatan dan Asia Tengah yaitu Nepal dan Sri Lanka; serta Belahan Barat, yaitu Guatemala dan Suriname.

Politico adalah media pertama yang melaporkan penarikan para duta besar ini, yang telah menimbulkan kekhawatiran dari sejumlah anggota parlemen serta serikat pekerja yang mewakili para diplomat AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya