Liputan6.com, Jakarta - Build A Bear Workshop pernah menjadi contoh klasik saham ritel yang terpuruk. Toko mainan yang dikenal lewat pengalaman interaktif merakit dan menghias boneka ini sempat kehilangan pamor setelah krisis keuangan global 2008.
Namun, lebih dari satu dekade, Build A Bear justru bertransformasi menjadi salah satu pemenang di sektor ritel.
Advertisement
Perubahan besar itu terjadi sejak Sharon Price John mengambil alih posisi CEO pada 2013. Saat itu, Build A Bear tengah menghadapi tekanan berat. Perusahaan membukukan kerugian hingga USD 49 juta atau Rp 822,83 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.792) pada 2012, dan saham Build A Bear terperosok ke level rendah yang membuatnya masuk kategori saham murah.
Meski demikian, Price John melihat masalah Build A Bear bukan pada kekuatan merek, melainkan pada bisnisnya. Ia menilai ikatan emosional konsumen terhadap merek tersebut masih sangat kuat.
"Ketika saya pertama kali datang pada 2013, penilaian terhadap merek ini sangat kuat. Kami tidak memiliki merek yang rusak, kami memiliki bisnis yang rusak,” ujar Sharon Price John kepada CNBC, dikutip Selasa, (23/12/2025).
Beralih dari Mal ke Strategi Omnichannel
Pada awal 2000-an, Build A Bear sempat menikmati masa kejayaan di pusat perbelanjaan. Namun, perubahan perilaku konsumen, penurunan trafik mal, dan tekanan biaya membuat strategi lama tidak lagi relevan.
Di bawah kepemimpinan Price John, Build A Bear mulai berinvestasi besar-besaran di e commerce. Perusahaan juga mengubah rantai pasok dengan mengalihkan pemenuhan pesanan ke toko-toko fisik, bukan hanya mengandalkan pusat distribusi.
Selain itu, Build A bear memperluas lokasi penjualan, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada mal. Langkah ini membantu menekan biaya sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.“Tujuan utama kami adalah menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan menguntungkan. Namun, profitabilitas tetap menjadi prioritas,” kata Price John.
Saham Melonjak, Toko Kembali Menguntungkan
Strategi tersebut mulai membuahkan hasil. Saat ini, hampir seluruh toko Build A Bear telah kembali mencatatkan laba. Kinerja keuangan yang solid turut mendorong lonjakan harga saham perusahaan.Pada September lalu, saham Build A Bear sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran USD 76 per saham.
Meski sempat terkoreksi, saham perusahaan masih melonjak lebih dari 125 persen dalam dua tahun terakhir, mengungguli banyak ritel lainnya.
Analis menilai kebangkitan Build A Bear tidak lepas dari ciri khas bisnisnya. Di tengah persaingan ketat industri mainan, Build-A-Bear menawarkan pengalaman personal yang sulit ditiru pesaing.
"Anda bisa membeli boneka di mana saja, mulai dari Target hingga FAO Schwarz,” kata analis Small Cap Consumer Research, Eric Beder. “Namun di Build A Bear, boneka itu benar-benar milik Anda karena Anda ikut membuatnya.”
Tantangan Tarif
Meski kinerjanya solid, Build A Bear tidak sepenuhnya kebal dari tekanan global. Perusahaan mengimpor lebih dari 90 persen produk dari China dan Vietnam, sehingga kebijakan tarif menjadi tantangan tersendiri.
Dalam laporan keuangan kuartal ketiga, perusahaan memperkirakan dampak tarif dapat menekan laba hingga USD 11 juta pada 2025. Selain itu, penutupan pemerintahan di AS pada Oktober lalu juga sempat menurunkan lalu lintas pelanggan.
Akibat tekanan tersebut, beberapa analis menurunkan kinerja dan memangkas target harga saham. Eric Beder bahkan memangkas target harga Build A Bear sebesar USD 10 setelah pendapatan kuartalan tercatat di bawah ekspektasi.
Menuju Pendapatan USD 500 Juta
Meski menghadapi tantangan, Build A Bear tetap diproyeksikan mencetak pencapaian baru. Perusahaan diperkirakan akan menembus pendapatan tahunan sebesar USD 500 juta untuk pertama kalinya.
Kisah Build A Bear menjadi contoh bagaimana transformasi strategi, fokus pada pengalaman pelanggan, dan disiplin kinerja laba dapat mengubah perusahaan ritel yang terpuruk menjadi pemain yang kembali bersinar di pasar saham.