Liputan6.com, Jakarta - Miliarder sekaligus pendiri hedge fund Bridgewater Associates Ray Dalio selalu hati-hati terhadap kripto. Ia meski memiliki sedikit bitcoin (BTC), lebih memilih menempatkan portofolio di emas.
Dalam sebuah podcast baru-baru ini, pendiri hedge fund ini mengungkapkan mengapa bank sentral juga cenderung tidak akan menerimanya.
Advertisement
Bersikap Pesimistis terhadap Mata Uang Fiat, tetapi Tetap Hati-Hati terhadap Kripto
Dalio meski skeptis tentang bitcoin (BTC) sebagai aset cadangan, ia menegaskan kehati-hatiannya tidak berasal dari kepercayaan pada uang yang diterbitkan pemerintah.
Ia kembali menegaskan tetap pesimistis dengan mata uang fiat. Ia menuturkan, utang yang terus menerus dan pencetakan uang mengikis nilainya dari waktu ke waktu.
Pandangan itu menjelaskan mengapa ia masih memegang beberapa Bitcoin, meskipun itu memainkan peran kecil dalam portofolionya. "Saya memiliki sedikit Bitcoin,” kata Dalio.
"Tetapi bagi saya, itu tidak semenarik emas,” Dalio menambahkan, dikutip dari Yahoo Finance, Senin (22/12/2025).
Mengapa Bank Sentral Mungkin Menghindari Bitcoin?
Dalam Podcast WTF Nikhil Kamath, yang dirilis pada 20 Desember, investor legendaris tersebut mengatakan desain dan risiko struktural Bitcoin membuatnya tidak mungkin diadopsi secara luas oleh bank sentral sebagai aset cadangan, meskipun pasokannya tetap dan persepsinya sebagai bentuk uang semakin meningkat.
"Bitcoin memiliki pasokan terbatas, dan dianggap sebagai uang, sebagai penyimpan kekayaan, yang tidak mungkin dipegang secara signifikan oleh bank sentral dan banyak pihak lainnya.”
Menurut Dalio, salah satu masalah inti adalah kontrol dan transparansi. Tidak seperti emas fisik, transaksi Bitcoin dicatat di blockchain publik dan dapat dipantau.
"Pemerintah dapat memantau transaksi apa saja yang terjadi. Dan pemerintah dapat mengganggu transaksi tersebut,” ujar Dalio.
"Emas adalah satu-satunya aset yang dapat Anda miliki yang tidak dapat mereka ganggu dan kendalikan...itu tidak berlaku untuk Bitcoin.”
Prioritas Aset
Bagi bank sentral, yang memprioritaskan aset yang berfungsi andal selama krisis dan tekanan geopolitik, perbedaan itu penting.
Dalio juga menunjuk pada risiko teknologi dan keamanan. Ia menyampaikan kekhawatiran tentang kemungkinan Bitcoin suatu hari nanti dapat "diretas, dirusak, atau dikendalikan," membandingkan ketidakpastian tersebut dengan gagasan alternatif sintetis yang dapat merusak kelangkaan, mirip dengan bagaimana berlian sintetis ada berdampingan dengan berlian alami.
Komentar Dalio muncul pada saat Bitcoin mengalami peningkatan volatilitas, terutama dalam beberapa bulan terakhir. Pada saat pelaporan, Bitcoin turun menjadi USD 87.944,77, penurunan 0,2% dalam 24 jam terakhir dan penurunan 22,1% dalam tiga bulan terakhir, menurut CoinGecko.
Stablecoin Gagal Sebagai Penyimpan Nilai
Stablecoin juga gagal sebagai penyimpan nilai
Dalio memperluas kritiknya ke stablecoin, mencatat bahwa karena dipatok pada mata uang fiat, stablecoin memiliki kelemahan jangka panjang yang sama.
"Stablecoin terikat pada mata uang fiat, jadi nilainya akan turun seperti mata uang fiat. Dan stablecoin tidak memberikan suku bunga," kata Dalio.
Stablecoin adalah mata uang kripto yang nilainya tetap stabil dan biasanya dipatok pada aset dunia nyata seperti dolar AS.
Dali menuturkan, meskipun stablecoin mungkin berguna untuk transaksi yang cepat dan efisien, stablecoin belum berfungsi sebagai penyimpan kekayaan yang andal dan biasanya tidak menawarkan imbal hasil yang berarti.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual saham. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.