Liputan6.com, Jakarta - PT Solusi Tunas Pratama Tbk (SUPR) menyampaikan informasi terkait transaksi material berupa perpanjangan fasilitas pinjaman senilai Rp 2,5 triliun.
Melansir keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (22/12/2025), transaksi material ini dilakukan melalui penandatanganan surat perubahan atas Perjanjian Fasilitas yang sebelumnya telah disepakati pada 23 Desember 2024.
Advertisement
Perjanjian tersebut melibatkan PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo), PT Iforte Solusi Infotek (Iforte), PT Solusi Tunas Pratama Tbk, dan PT Inti Bangun Sejahtera Tbk (IBST) sebagai pihak peminjam, dengan MUFG Bank Ltd Cabang Jakarta sebagai pemberi pinjaman.
Nilai fasilitas pinjaman tersebut sebesar Rp 2,5 triliun atau setara dalam mata uang dolar AS atau yen Jepang, dengan perpanjangan jangka waktu fasilitas hingga 31 Desember 2026.
Manajemen menyampaikan perpanjangan jangka waktu fasilitas ini memberikan fleksibilitas bagi para peminjam dalam memperoleh sumber pembiayaan untuk mendukung kegiatan usaha masing-masing.
Dalam keterbukaan informasi tersebut dijelaskan transaksi ini merupakan transaksi afiliasi, mengingat Protelindo merupakan pemegang saham pengendali Perseroan secara langsung dan tidak langsung sebesar 97,33%.
Sementara Iforte dan IBST merupakan entitas anak dalam grup Protelindo. Adapun MUFG Bank disebut tidak memiliki hubungan afiliasi dengan Perseroan.
Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan menyatakan bahwa transaksi ini bukan merupakan transaksi benturan kepentingan sebagaimana diatur dalam Peraturan OJK Nomor 42 Tahun 2020.
Selain itu, pelaksanaan perjanjian fasilitas tersebut dinyatakan tidak menimbulkan dampak material yang merugikan terhadap kegiatan operasional, kondisi keuangan, aspek hukum, maupun kelangsungan usaha Perseroan.
Manajemen juga menjelaskan bahwa transaksi ini memenuhi kriteria transaksi material karena nilainya melebihi 20% namun tidak melampaui 50% dari ekuitas Perseroan berdasarkan laporan keuangan audit per 31 Desember 2024. Meski demikian, transaksi tersebut termasuk dalam kategori transaksi material yang dikecualikan dari kewajiban persetujuan RUPS sebagaimana diatur dalam Pasal 11 huruf (b) POJK 17.
Kinerja IHSG pada 15-19 Desember 2025
Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan 15-19 Desember 2025. Pergerakan IHSG sepekan ini dinilai dipengaruhi kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the fed) dan Bank Indonesia (BI) soal suku bunga.
Mengutip data Bursa Efek Indonesia (BEI), ditulis Sabtu, (20/12/2025), IHSG merosot 0,59% ke posisi 8.609,55. Pada pekan lalu, IHSG naik terbatas 0,32% ke posisi 8.660,49. Kapitalisasi pasar juga merosot 0,59% menjadi Rp 15.788 triliun dari pekan sebelumnya Rp 15.882 triliun.
Senior Market Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta menuturkan, pergerakan IHSG dipengaruhi prospek penurunan suku bunga the Fed pada 2026. "Prospek penurunan suku bunga tahun depan hanya satu kali. Namun, ada peluang the Fed menurunkan suku bunga bisa dua kali,” kata dia saat dihubungi Liputan6.com.
Transaksi Harian Saham
Selain itu, Nafan menambahkan, Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga 4,75% seiring langkah BI yang pro stabilitas juga mempengaruhi IHSG. “BI cenderung pro stability ketimbang growth dengan menahan BI Rate membuat market kita relatif mengalami koreksi,” kata dia.
BEI juga mencatat rata-rata frekuensi transaksi harian merosot 12,59% menjadi 2,80 juta kali transaksi dari 3,20 juta kali transaksi pada pekan lalu.
Sementara itu, rata-rata volume transaksi harian bursa anjlok 20,80% menjadi 47 miliar saham dari 59,35 miliar saham pada pekan lalu. Investor asing membeli saham Rp 3,27 triliun selama sepekan. Aksi beli saham oleh investor asing ini lebih besar dari pekan lalu sebesar Rp 1,42 triliun. Seiring hal itu, sepanjang 2025, investor asing lepas saham Rp 22,39 triliun.
Adapun peningkatan tercatat pada rata-rata nilai transaksi harian BEI sebesar 13,23% menjadi Rp 34,29 triliun dari pekan lalu Rp 30,29 triliun.