Korea Selatan Bakal Hapus Penggunaan Gelas Plastik Sekali Pakai Gratis, Konsumen Wajib Bayar Ekstra

Pemerintah Korea Selatan sudah menetapkan harga minimum yang dikenakan kepada konsumen bila ingin memakai gelas plastik sekali pakai.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 19 Desember 2025, 06:00 WIB
Ilustrasi gelas plastik. (dok. Farhad Ibrahimzade/Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Korea Selatan (Korsel) mengumumkan rencana pelarangan penggunaan gelas plastik sekali pakai gratis sebagai upaya mengurangi limbah plastik di negara itu. Dengan begitu, konsumen wajib membayar ekstra untuk mendapatkannya.

Melansir Korea Times, Kamis (18/12/2025), Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan mengumumkan hal itu dalam pengarahan kebijakan presiden pada Rabu, 17 Desember 2025. Mereka menyatakan upaya tersebut akan dimasukkan dalam peta jalan pengurangan plastik yang komprehensif, yang dijadwalkan akan dirilis awal tahun depan.

Berdasarkan rencana tersebut, kafe dan bisnis lainnya akan diwajibkan mengenakan biaya kepada pelanggan untuk setiap gelas plastik sekali pakai. Menteri Iklim Kim Sung Hwan akan mengizinkan masing-masing pemilik bisnis menetapkan sendiri harga untuk gelas sekali pakai, dengan menetapkan batas harga minimun sekitar 100--200 won (sekitar Rp1.100--Rp2.200).

Penetapan harga dasar itu merujuk pada biaya produksi dan mencegah penggunaan yang berlebihan. Pengumuman ini muncul ketika pemerintah terus mengevaluasi kembali sistem deposit gelas sekali pakai, yakni pelanggan membayar deposit yang dapat dikembalikan sebesar 300 won saat menerima minuman dalam gelas sekali pakai dan menerima uang kembali setelah mengembalikannya.

Sistem ini dipromosikan di bawah pemerintahan Presiden Moon Jae In dan awalnya dijadwalkan untuk implementasi nasional pada Juni 2022. Namun, program ini dibatasi karena ditentang pemilik usaha kecil. Sejak itu, penerapannya dibatasi pada program percontohan di Kota Sejong dan Pulau Jeju, sehingga program ini praktis tidak aktif.

Kritik atas Sistem Deposit Gelas Plastik

Ilustrasi gelas plastik sekali pakai. (dok. Sandie Clarke/Unsplash)

Meskipun sistem deposit diperkenalkan untuk mengurangi penggunaan gelas sekali pakai dan memungkinkan daur ulang berkualitas tinggi, para kritikus berpendapat bahwa sistem ini memberikan beban yang tidak proporsional pada usaha kecil tanpa secara signifikan mengurangi konsumsi secara keseluruhan. Namun demikian, daerah seperti Jeju menunjukkan tingkat pengembalian gelas yang lebih tinggi, yang menyoroti potensi efektivitasnya.

Sementara peredaran gelas plastik akan diperketat, kementerian mengatakan sedotan plastik sekali pakai dapat terus diberikan secara gratis atas permintaan pelanggan. Pemerintah juga berencana untuk memperkenalkan kerangka kerja desain ramah lingkungan ala Korea, yang mendorong produsen untuk meminimalkan dampak lingkungan di seluruh siklus hidup produk, mulai dari produksi dan distribusi hingga penggunaan dan pembuangan.

Pihak kementerian ditargetkan merilis draf rencana pengurangan plastik pada awal minggu depan dan mengadakan audiensi publik untuk mengumpulkan umpan balik sebelum menyelesaikan kebijakan tersebut.

Risiko Tercemar Mikroplastik dari Gelas Plastik Sekali Pakai

Ilustrasi gelas plastik. (Photo created by upklyak on www.freepik.com)

Sementara, peneliti dari Fakultas Kelautan dan Perikanan (FKP), Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, bekerja sama dengan lembaga FMCG Insights mengungkap bahwa air minum dalam kemasan (AMDK) gelas plastik yang ternyata paling banyak terkontaminasi mikroplastik, dibandingkan di dalam AMDK botol dan galon plastik. 

"Dari hasil uji statistik, diketahui bahwa mikroplastik lebih banyak ditemukan pada AMDK  gelas plastik jika dibandingkan dengan kemasan botol dan galon plastik," kata Khusnul Yaqin, salah satu peneliti utama yang bersama timnya meneliti dan mengambil sampel di Makassar, Sulawesi Selatan, dikutip dari kanal Regional Liputan6.com.

Penelitian tim Khusnul dilakukan terhadap beberapa merek AMDK dalam berbagai bentuk kemasan, yaitu botol, galon, dan gelas. Merek AMDK yang dipilih yaitu Aqua, Le Minerale, Vit, Cleo, dan JS.

Dari tiap-tiap merek dan kemasan diambil sampel empat buah. Identifikasi polimer dalam penelitian ini menggunakan Fouier-Transform Infrared Spectrometer (FTIR) 8400S Shimadzu. 

 

Hasil Riset Terkait Gelas Plastik Sekali Pakai

Ilustrasi sampah gelas plastik (pixabay)

Hasil penelitian ini kemudian mendapati bahwa hanya ada lima dari total 48 sampel yang tidak terkontaminasi oleh mikroplastik. "Dengan kata lain, ada 89,6 persen sampel AMDK yang terkontaminasi  mikroplastik," lanjut dia.

Konsentrasi partikel mikroplastik yang ditemukan berkisar antara 1,67–12,00 partikel/L. Konsentrasi partikel mikroplastik dengan kuantitas seperti ini, menurut Khusnul, masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan yang pernah ditemukan oleh sejumlah penelitian.

Dibandingkan botol dan galon plastik, gelas plastik ternyata menjadi kemasan terbanyak yang terkontaminasi mikroplastik. "Umumnya bentuk mikroplastik yang ditemukan adalah fiber dan fragmen. Fiber jumlahnya lebih banyak jika dibandingkan dengan fragmen secara statistik," sambunngnya.

Hasil riset mereka mendapatkan bahwa jumlah fiber mencapai 92,19 persen dari mikroplastik yang ditemukan dan sisanya adalah fragmen (7,81 persen). Ukuran mikroplastik yang ditemukan untuk fiber yaitu 94,46-4.496,34 µm. Ukuran mikroplastik dalam bentuk fragmen yaitu 58,01-574,16 µm.

Infografis  Siklus Hidup Sampah Botol Plastik    

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya