Pasar Obligasi 2025 Dikuasai Non-BUMN, Penerbitan Tembus Rp 133,15 Triliun

PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) mencatat struktur pasar obligasi korporasi 2025 menunjukkan perbaikan kualitas.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 16 Desember 2025, 13:10 WIB
Nilai penerbitan surat utang korporasi atau obligasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencapai Rp 198,81 triliun.(Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Direktur Utama PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) Irmawati Amran, menilai pasar obligasi korporasi Indonesia sepanjang 2025 menunjukkan pergeseran struktur pendanaan.

Hingga November 2025, nilai penerbitan surat utang korporasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencapai Rp 198,81 triliun. Dari total tersebut, penerbitan surat utang oleh korporasi non-BUMN mencapai Rp 133,152 triliun, jauh melampaui kontribusi BUMN yang sebesar Rp 65,658 triliun.

"Totalnya sampai dengan November itu adalah Rp 198,8 triliun. Di mana untuk BUMN yang menerbitkan surat utang itu totalnya ada Rp 65,658 triliun. Dan yang non-BUMN ini Rp 133,152 triliun," kata Irma dalam Media Forum PEFINDO, Selasa (16/12/2025).

Ia menilai dominasi non-BUMN ini sebagai sinyal positif bagi pendalaman pasar modal domestik. Menurutnya, korporasi swasta kini semakin percaya diri memanfaatkan instrumen obligasi sebagai sumber pembiayaan utama.

"Jadi, ini menunjukkan aktivitas penggalangan dana di pasar obligasi ini," ujarnya.

Kondisi tersebut mencerminkan meningkatnya peran sektor swasta dalam penggalangan dana jangka menengah dan panjang. Pasar obligasi tidak lagi didominasi oleh emiten pelat merah, melainkan mulai menjadi arena kompetitif bagi seluruh pelaku usaha.

"Untuk yang non-BUMN ini dari tahun ke tahun sudah menunjukkan peningkatan yang sangat baik ya cukup signifikan dibandingin tahun-tahun sebelumnya," ujarnya.

 

 

Struktur Pasar Obligasi Korporasi 2025

Karyawan memfoto layar pergerakan IHSG, Jakarta, Rabu (3/8/2022). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Rabu (3/08/2022), ditutup di level 7046,63. IHSG menguat 58,47 poin atau 0,0084 persen dari penutupan perdagangan sehari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Lebih lanjut, Irma menyampaikan struktur pasar obligasi korporasi 2025 juga menunjukkan perbaikan kualitas. Pada 2024, rasio nilai jatuh tempo terhadap penerbitan masih mencapai 96%, yang berarti mayoritas penerbitan digunakan untuk refinancing utang lama.

Namun pada 2025, penerbitan surat utang telah melampaui nilai yang jatuh tempo. Kondisi ini mencerminkan adanya ekspansi pendanaan baru, bukan sekadar penggantian kewajiban lama, sehingga aktivitas pasar obligasi dinilai semakin sehat.

"Kalau kita lihat resio perbandingan penerbitan terhadap jatuh tempo, pada bulan tahun 2024 itu jumlah yang jatuh tempo itu dibandingkan penerbitan adalah 96%. Nah kalau di tahun 2025 ini penerbitan surat utang itu melebihi dari nilai yang jatuh tempo. Nah ini menunjukkan aktivitas yang sangat baik bagi penerbitan surat utang di Indonesia khususnya di pasar corporate bond di Indonesia," ujarnya.

 

Catatkan Rekor

Aktivitas pekerja di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Adapun pasar obligasi korporasi Indonesia mencatatkan kinerja historis sepanjang 2025. Hingga November 2025, nilai penerbitan surat utang korporasi yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencapai Rp 198,81 triliun, melonjak signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 126,73 triliun.

"Pada tahun 2024 sampai dengan November itu penerbitan surat utangnya itu sebesar Rp 126,73 triliun, dan sekarang (2025) sampai November itu penerbitannya sudah mencapai Rp198,81 triliun. Ini adalah surat utang korporasi yang diterbitkan, yang dicatatkan di Bursa Efektif Indonesia," ujarnya.

Irma menyebut capaian tersebut sebagai rekor tertinggi sepanjang sejarah penerbitan obligasi korporasi nasional. Menurutnya, lonjakan ini mencerminkan kondisi pasar yang lebih solid dan lingkungan pendukung yang semakin kondusif bagi korporasi.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya