Thailand Setop Pengiriman Bahan Bakar via Laos Buntut Memanasnya Konflik dengan Kamboja

Thailand dan Kamboja telah lama berkonflik akibat sengketa perbatasan. Namun, skala dan intensitas bentrokan terbaru disebut belum pernah terjadi dalam sejarah modern.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 15 Desember 2025, 15:51 WIB
Data terbaru yang dirilis pada Jumat (12/12/2025), menunjukkan sedikitnya 20 orang tewas sepanjang pekan ini. Tampak dalam foto, para pengungsi beristirahat di kamp sementara di provinsi Banteay Meanchey, Kamboja, pada Sabtu 13 Desember 2025, di tengah bentrokan di sepanjang perbatasan Kamboja-Thailand. (TANG CHHIN SOTHY/AFP)

Liputan6.com, Bangkok - Militer Thailand pada hari Senin (15/12/2025) menyatakan telah menghentikan pengiriman bahan bakar yang melintasi pos pemeriksaan perbatasan dengan Laos. Langkah tersebut diambil karena kekhawatiran bahwa pasokan bahan bakar itu dialihkan ke Kamboja, yang saat ini tengah terlibat konflik perbatasan sengit dengan Thailand.

Militer Thailand dan Kamboja terlibat bentrokan di berbagai lokasi sepanjang perbatasan darat kedua negara yang membentang sejauh 817 kilometer. Pertempuran belum menunjukkan tanda-tanda mereda meskipun terdapat berbagai upaya internasional untuk menegosiasikan gencatan senjata, termasuk seruan dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Akibat pertempuran tersebut, lebih dari setengah juta orang terpaksa mengungsi. Sedikitnya 38 orang di kedua belah pihak dilaporkan tewas selama delapan hari terakhir.

Sementara itu, pertemuan khusus para menteri luar negeri Asia Tenggara — yang dijadwalkan berlangsung pada hari Selasa (16/12) dan berpotensi mempertemukan diplomat tingkat tinggi dari kedua pihak — ditunda hingga 22 Desember atas permintaan Thailand. Penundaan tersebut disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri Malaysia, seperti dikutip dari CNA.

Klaim Thailand

Penting diketahui, negara bertetangga ini berselisih mengenai demarkasi perbatasan sepanjang 800 kilometer yang berasal dari era kolonial Prancis. Tampak dalam foto, warga pengungsi beristirahat sambil berlindung di pusat pengungsian selama bentrokan di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja di Provinsi Sa Kaeo, Thailand, pada Rabu 10 Desember 2025. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)

Militer Thailand telah membatasi pergerakan seluruh pasokan bahan bakar yang melewati pos perbatasan Chong Mek menuju Laos setelah menerima informasi intelijen bahwa pasokan tersebut diarahkan ke pasukan Kamboja. Hal ini disampaikan juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand Laksamana Muda Surasant Kongsiri.

"Tujuan kami bukan untuk menimbulkan dampak terhadap rakyat atau pemerintah Laos," ujarnya dalam sebuah konferensi pers.

Kementerian Luar Negeri Laos tidak segera menanggapi email yang meminta komentar.

Militer Thailand juga sedang mempertimbangkan untuk membatasi pergerakan kapal-kapal Thailand ke wilayah berisiko tinggi di perairan Kamboja, tempat kapal-kapal tersebut berpotensi menjadi sasaran tembakan, kata seorang pejabat angkatan laut, seraya menambahkan bahwa langkah-langkah ini tidak akan berdampak pada pengiriman dari negara lain.

Sebagian besar impor bahan bakar olahan Kamboja, seperti bensin, gasoil, dan bahan bakar jet, masuk melalui jalur laut, menurut sejumlah sumber perdagangan, meskipun persentase pangsa pasar yang pasti tidak dapat dikonfirmasi.

Singapura saat ini merupakan pemasok terbesar bahan bakar ke Kamboja, berdasarkan data pelacakan kapal Kpler, dengan total volume sekitar 915.000 metrik ton sejauh tahun ini.

Menurut data tersebut, volume pengiriman dari Thailand telah turun menjadi sekitar 30.000 ton tahun ini, dari kurang dari 180.000 ton tahun lalu.

Dalam pernyataan yang dirilis pada hari Jumat (12/12), Kementerian Energi Thailand mengatakan bahwa tidak ada ekspor minyak ke Kamboja setelah bulan Juli.

Saling Tuduh

Mereka berlindung di beberapa lokasi yang dianggap aman, seperti pagoda, sekolah, dan tempat lainnya. Tampak dalam foto, petani Thailand, Boonkerd Yudeerum, duduk di dalam bunker bersama keluarganya di provinsi Surin pada Rabu 10 Desember 2025, selama bentrokan di sepanjang perbatasan Thailand-Kamboja. (Lillian SUWANRUMPHA/AFP)

Pertempuran, ungkap Surasant, terus berlanjut di sedikitnya sembilan lokasi sepanjang perbatasan, dengan baku tembak hebat terjadi di empat provinsi perbatasan, termasuk wilayah pesisir.

Kamboja mengatakan bahwa pasukan Thailand telah menggunakan drone dan artileri berat di berbagai wilayah, serta mengerahkan jet tempur F-16 untuk melakukan serangan udara di Provinsi Siem Reap, yang merupakan lokasi kota terbesar kedua di negara itu dan pusat wisata utama Angkor Wat.

"Perlu dicatat pula bahwa jumlah jet tempur dan bom cluster yang digunakan oleh militer Thailand untuk menyerang Kamboja telah meningkat secara signifikan," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Kamboja Maly Socheata.

Militer Thailand jauh lebih unggul dibandingkan Kamboja. Keunggulan tersebut mencakup angkatan laut yang jauh lebih besar, serta salah satu angkatan udara yang paling lengkap dan terlatih di Asia Tenggara, dengan armada 28 jet tempur F-16 dan 11 jet tempur Gripen buatan Swedia.   

Thailand dan Kamboja saling menuduh bahwa tindakan pihak lawan menjadi penyebab runtuhnya gencatan senjata yang dimediasi oleh Trump pada bulan Juli. Gencatan senjata tersebut kemudian diperluas pada bulan Oktober menjadi kesepakatan yang lebih luas untuk membantu menyelesaikan konflik.   

Bangkok menegaskan bahwa setiap upaya mengakhiri pertempuran saat ini harus dimulai dengan penghentian permusuhan oleh pihak lawan serta adanya proposal gencatan senjata yang jelas, sementara Phnom Penh tetap menyatakan bahwa mereka hanya membela diri dari tindakan militer negara tetangganya. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya