Bea Cukai Pasang Alat Pemindai Berbasis AI, Menkeu Purbaya: Penyelundup Deg-degan

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah memasang alat pindai canggih berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa Bilang Begini

oleh Arief Rahman HDiterbitkan 12 Desember 2025, 12:40 WIB
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai oknum penyelundup kini tak bisa tenang. Pasalnya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah memasang alat pindai canggih berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai oknum penyelundup kini tak bisa tenang. Pasalnya, Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah memasang alat pindai canggih berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Salah satu unit pemindai dengan tenaga AI itu dipasang di Terminal Peti Kemas, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Purbaya menegaskan, hal ini merupakan perubahan layanan untuk memerangi penyelundupan.

"Agenda kita sederhana, tapi penting, Bea Cukai meresmikan pemindai peti kemas baru pada hari ini. Saya ingin adanya perubahan. Dulu urusan bea cukai bikin deg-degan, sekarang yang deg-degan justru oknum penyelundup, ini kata bea cukai," ungkap Purbaya di Termina Peti Kemas, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (12/12/2025).

Diketahui, rencana penggunaan AI dalam sistem kepelabuhanan, utamanya bea cukai telah diungkap Purbaya beberapa waktu lalu. Menurutnya, ini menjadi percepatan dan mengubah citra pelayanan di bea cukai.

"Dulu pelayanan bea cukai dinilai lambat, sekarang malah AI-nya yang diminta jangan terlalu cepat," katanya.

Bendahara Negara ini menuturkan, penggunaan AI dalam sistem Bea Cukai untuk memperlancar arus barang menjadi lebih cepat dan transparan. "Transformasi digital di kepabeanan bukan pilihan, ini adalah suatu keharusan. Kita harus menjaga kepercayaan publik, kita harus menjaga daya saing ekonomi, dan kita harus memerangi penyelundupan dengan cara yang lebih modern," tegas Purbaya.

 

Proses Pemindaian AI

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dalam konferensi pers APBN KiTa, di Jakarta, Senin (22/9/2025). (Liputan6.com/Tira)

Informasi, pemindai AI yang dimiliki Bea Cukai dibangun semacam gardu di dekat gerbang masuk terminal peti kemas Pelabuhan Tanjung Priok. Nantinya, setiap truk kontainer harus melewati gardu tersebut.

Kecanggihan AI mulai memainkan perannya ketika truk kontainer melewati gardu. Sistem akan mendeteksi isi kontainer tanpa harus dibuka terlebih dahulu. Proses ini hanya memerlukan waktu paling lama 15 detik.

Data yang dikumpukan tadi langsung disetor ke server pusat Kementerian Keuangan untuk diintegrasikan dengan data lainnya. Data tadi akan menjadi rujukan ketika pemeriksaan fisik.

Jika hasil analisa AI normal, maka pemeriksaan fisik cukup dilakukan dengan mengambil sampel. Sementara itu, jika terdapat anomali dalam pemindaian sistem, maka proses pemeriksaan bisa lebih serius ke titik anomali tadi.

 

Rencana Purbaya

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat menghadiri puncak peringatan Hari Guru Nasional di Indonesia Arena Jakarta, Jumat (28/11/2025). (Dok. YouTube Sekretariat Presiden)

Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akan memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mencegah kebocoran di Bea Cukai. Tahap awal ditargetkan bisa selesai dalam 3 bulan, tetapi secara terintegrasi butuh waktu sekitar satu tahun.

Hal tersebut diungkap Purbaya usai menyambangi kantor Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan. Fokusnya memeriksa kecanggihan sistem untuk mendeteksi praktik under-invoicing yang jadi perhatian Presiden Prabowo Subianto.

"Enggak ada kendala, cuma saya pengen lihat seberapa canggih punya Bea Cukai. Bisa enggak saya optimalkan untuk tadi mengurangi yang dikritik Pak Presiden, under-invoicing," ungkap Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (22/10/2025).

 

Monitor Online

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa melakukan kunjungan kerja ke Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai (Bea Cukai) Bandara Soekarno-Hatta. (Sumber: @menkeuri)

Under-invoicing merujuk pada praktik memasukkan nilai lebih rendah dari harga asli untuk mengurangi beban bea masuk ataupun pajak. Purbaya menyebut sistem di Bea Cukai akan disempurnakan lagi dengan bantuan AI.

"Di situ sebenernya sudah cukup bagus tapi belum ke level di mana saya bisa secara online di situ aja monitor kapalnya under-invoicing, kapalnya under-invoicing, belum sampai sana karena AI-nya belum dikembangkan. Dalam 3 bulan ke depan kita akan kembangkan sistem AI yang lebih siap di Bea Cukai," ujarnya.

"Nanti ke depannya dari command center saya harapnya bisa lihat kapal di pelabuhan lagi ngapain, isinya apa, ini apa. Jadi akan kita buat sistem yang terkoneksi betul di sana nanti," Purbaya menambahkan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya