Indonesia Perkuat Hubungan dengan Namibia Lewat Pelatihan Tenun Nusantara

Sebanyak 16 perajin Namibia mengikuti pelatihan dasar tenun Nusantara yang digelar KBRI Windhoek.

oleh Dinny MutiahDiterbitkan 10 Desember 2025, 11:30 WIB
Sebanyak 16 peserta mengikuti pelatihan tenun nusantara yang digelar KBRI Windhoek. (dok. KBRI Windhoek)

Liputan6.com, Jakarta - Wastra nusantara bisa dimanfaatkan sebagai alat diplomasi Indonesia dengan negara sahabat. Hal itu digunakan KBRI Windhoek untuk memperkuat hubungan budaya antara Indonesia dan Namibia dengan menggelar Wastra Nusantara Weaving Workshop dalam dua sesi.

Pelatihan itu menggandeng dua pihak, yakni University of Namibia (UNAM) di Windhoek pada 1--2 Desember 2025 dan Community Skills Development Foundation (COSDEF) Arts and Crafts Center di Swakopmund pada 4--5 Desember 2025. Pelatihan ini bertujuan mengenalkan teknik dasar tenun Nusantara kepada para pengrajin, pengajar, mahasiswa, dan komunitas kreatif Namibia.

Pelatihan dipandu seorang instruktur dari Batik House Indonesia, yang memperkenalkan proses pengolahan benang, penyusunan motif, hingga filosofi wastra sebagai bagian dari warisan tekstil Indonesia. Interaksi antara peserta dan instruktur menciptakan ruang belajar yang hangat, dengan tradisi kriya kedua negara dipertemukan dan saling memperkaya.

"Wastra bukan sekadar seni, tapi warisan nilai, kreativitas, dan ketekunan. Melalui workshop ini, kami berharap lahir kolaborasi baru antara artisan Indonesia dan Namibia, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi komunitas kreatif lokal," kata Duta Besar RI untuk Namibia dan Angola, Mirza Nurhidayat, dalam sambutannya, dikutip dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Rabu (10/12/2025).

Workshop ini menunjukkan komitmen KBRI Windhoek dalam memperkuat kerja sama budaya sekaligus mendukung pengembangan keterampilan komunitas kreatif di Namibia. Inisiatif ini tidak hanya bermanfaat langsung bagi para peserta di Namibia, tetapi juga memperkuat citra positif Indonesia sebagai mitra yang aktif berbagi pengetahuan, mendukung pembangunan komunitas, dan mendorong hubungan bilateral yang saling menguntungkan.

 

 

Pelatihan Tenun Perkuat Sektor Kreatif Namibia

Sebanyak 16 peserta mengikuti pelatihan tenun nusantara yang digelar KBRI Windhoek. (dok. KBRI Windhoek)

Sebanyak 16 peserta dari Faculty of Education and Human Sciences UNAM serta para pengrajin binaan COSDEF dari sejumlah wilayah Namibia mengikuti pelatihan yang berlangsung intensif dan praktis. Pemerintah Namibia mengapresiasi inisiatif tersebut. 

Direktur Seni Kementerian Education, Innovation, Youth, Sports, Arts and Culture, M’Kariko Amagulu, menyatakan bahwa kegiatan seperti ini selaras dengan fokus pemerintahnya dalam memperkuat sektor kreatif sebagai motor ekonomi baru. Ia menilai workshop ini membuka ruang penting bagi peningkatan keterampilan dan penguatan identitas budaya.

Mewakili akademisi, Associate Dean School of Humanities, Society and Development, Martha Akawa, menyampaikan bahwa kerja sama Indonesia–Namibia telah berkembang melalui hubungan yang dibangun di ruang belajar.

"Inisiatif ini membantu membentuk generasi yang lebih terampil dan percaya diri, sekaligus mendukung upaya pemerintah memperkuat sektor kreatif Namibia," ujarnya.

Perajin Namibia Minat Dalami Tenun

Sebanyak 16 peserta mengikuti pelatihan tenun nusantara yang digelar KBRI Windhoek. (dok. KBRI Windhoek)

Pada sesi di Swakopmund, COSDEF Oyetu Project berharap agar KBRI Windhoek dapat memfasilitasi pelatihan lanjutan tenun untuk memperdalam keterampilan para perajin Namibia. Project Manager COSDEF, Samuel Sheyanena, juga menyoroti potensi besar batu alam Namibia yang belum dimanfaatkan secara optimal. Ia berharap pelatihan berikutnya dapat mencakup wire-wrapped jewellery agar batu-batu tersebut dapat diolah menjadi produk bernilai tambah bagi pengrajin lokal.

Sementara itu, Indonesia sejak 2022 sudah menominasikan tenun untuk dicatat menjadi salah satu Warisan Budaya Dunia Takbenda UNESCO. Irini Dewi Wanti selaku Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya atau BPNB Aceh dari Kemendikbudristek -sebelum berdiri Kemenbud-, menjelaskan alasan tenun harus diajukan ke UNESCO.

Setidaknya ada lima unsur yang memenuhi syarat utama pengajuan yaitu Objek Pemajuan Kebudayaan, mulai dari tradisi lisan, adat istiadat, ritus, seni, pengetahuan tradisional dan teknologi tradisional. Pada tenun tradisional tidak hanya berbicara tentang sebuah karya seni atau tekstil, tetapi di dalam tenun terkandung unsur filosofi yang tinggi sebagai sebuah kearifan kehidupan masyarakat, Tenun kaya akan simbol-simbol kehidupan mulai dari kelahiran, kebahagiaan (pernikahan, penganugerahan), dan kematian.

Infografis Penyebaran Tenun Nusantara. (Liputan6.com/Triyasni)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya