Liputan6.com, Hong Kong - Jumlah korban tewas kebakaran di kompleks apartemen Wang Fuk Court Hong Kong pada 27 November 2025, naik menjadi 160 setelah satu jenazah tambahan berhasil diidentifikasi. Demikian disampaikan polisi pada Selasa (9/12/2025). Mereka juga menyebutkan bahwa enam orang masih tercatat hilang.
Kebakaran yang melalap kompleks apartemen bertingkat tinggi itu terjadi akhir bulan lalu dan menjadi kebakaran gedung hunian paling mematikan di dunia sejak 1980.
Advertisement
Pekan lalu, pihak berwenang melaporkan 159 korban tewas setelah seluruh bangunan terdampak selesai diperiksa. Namun, menurut Komisaris Polisi Joe Chow pada Selasa, jumlah tersebut bertambah satu setelah uji forensik menunjukkan bahwa sisa-sisa jenazah yang sebelumnya dianggap milik satu orang ternyata berasal dari dua korban yang berbeda.
"Petugas kini telah menyelesaikan pembersihan perancah yang runtuh di sekitar menara bangunan. Dalam proses itu, mereka menemukan satu bagian yang diduga tulang manusia, yang masih menunggu hasil pemeriksaan lebih lanjut," tambah Chow seperti dikutip CNA.
Sebelumnya, pihak berwenang menjelaskan bahwa kebakaran di kawasan yang sedang menjalani renovasi besar-besaran itu kemungkinan diperparah oleh jaring pelindung pada perancah yang tidak memenuhi standar ketahanan api.
Jaring tersebut, bersama papan busa yang dipasang pada jendela selama pengerjaan, menurut mereka turut mempercepat penyebaran api.
Chow mengatakan bahwa polisi akan mulai melepas perancah dan jaring yang masih menempel pada bangunan, sekaligus memeriksa apakah masih ada jenazah yang tertinggal.
Tsang Shuk-yin, pejabat yang memimpin unit penyelidikan korban, mengatakan bahwa enam orang yang dilaporkan hilang masih belum ditemukan. Ia menambahkan bahwa polisi cukup yakin tiga dari mereka tinggal di kompleks Wang Fuk Court.
Pekan lalu, Pemimpin Eksekutif Hong Kong John Lee mengumumkan pembentukan sebuah komite independen yang dipimpin oleh seorang hakim untuk menyelidiki kebakaran tersebut.
Polisi juga telah menangkap 15 orang dari berbagai perusahaan konstruksi atas tuduhan kelalaian yang mengakibatkan kematian, serta enam orang lainnya terkait alarm kebakaran yang tidak berbunyi.