Akses Terputus Jadi Hambatan Distribusi BBM ke Daerah Bencana

Saat akses utama terputus, proses distribusi energi BBM tidak hanya bergantung pada perbaikan jalan, tetapi juga pada kemampuan mencari jalur alternatif.

oleh Tim BisnisDiterbitkan 06 Desember 2025, 13:33 WIB
Pertamina Patra Niaga melalui Pertamina Patra Niaga Region Sumatera Bagian Utara melakukan penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) menggunakan pesawat perintis ke wilayah Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah, Provinsi Aceh.

Liputan6.com, Jakarta - Distribusi bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah wilayah yang terdampak bencana di tiga provinsi Sumatera mulai menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Meski sempat terganggu akibat akses jalan yang terputus dan kondisi medan yang sulit, pemulihan secara bertahap mulai terlihat.

Pengamat energi Marwan Batubara menilai salah satu tantangan terbesar dalam penyaluran BBM di wilayah bencana adalah hambatan akses menuju lokasi-lokasi yang membutuhkan suplai.

“Krisis distribusi BBM yang dihadapi Pertamina sebenarnya bukan disebabkan oleh keterbatasan stok, karena stok aman. Namun akses distribusinya yang bermasalah,” jelas dia, seperti ditulis Sabtu (6/12/2025).

Dengan mempertimbangkan kondisi di lapangan, dia memperkirakan pemulihan total distribusi dapat tercapai dalam waktu sekitar dua minggu.

Upaya Pertamina dalam menangani krisis energi di daerah bencana dinilai segera bisa membuat situasi kembali stabil dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Saat akses utama terputus, proses distribusi tidak hanya bergantung pada perbaikan jalan, tetapi juga pada kemampuan mencari jalur alternatif.

“Jika akses utama terhambat, akses-akses alternatif harus dicari. Selain itu, perlu dicari modus pengiriman lain yang bisa dioptimalkan, meskipun biayanya lebih mahal,” jelas dia.

Penggunaan armada kecil, pengalihan jalur melalui pelabuhan terdekat, atau pendistribusian bertahap ke titik-titik penyangga menjadi beberapa opsi yang biasanya dipilih dalam kondisi darurat.

Terkait kondisi antrian di sejumlah SPBU di wilayah terdampak, Marwan menilai kesigapan Pertamina menjadi kunci agar antrian akan menurun.

"Mereka sudah berpengalaman menangani krisis serupa, sehingga responsnya relatif cepat,” ucapnya.

Marwan juga optimistis bahwa Pertamina mampu menyelesaikan masalah distribusi BBM ini lebih cepat dibandingkan estimasi waktu pemulihan standar.

Stabilisasi suplai energi

SPBU di Medan. PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) terus memastikan pendistribusian BBM di wilayah Medan dan sekitarnya berjalan lancar. Dok Pertamina.

Menurutnya, pengalaman Pertamina dalam menangani berbagai kondisi darurat di masa lalu menjadi modal penting dalam mempercepat stabilisasi suplai energi.

“Melihat totalitas dalam menangani krisis di tiga provinsi ini, saya yakin Pertamina bisa menyelesaikan masalah lebih cepat. Mereka sudah punya protokol, pengalaman, dan tim yang siap diterjunkan kapan saja,” tegasnya.

Lebih jauh, ia menekankan bahwa strategi paling penting untuk memastikan kelancaran suplai BBM bukan hanya pada sisi teknis distribusi, tetapi juga kolaborasi antarinstansi.

“Koordinasi dan sinergi antar lembaga adalah kunci. Semua sumber daya harus dikonsolidasikan secara optimal untuk menghasilkan solusi yang cepat, efisien, dan efektif. Dukungan sosialisasi, penyuluhan, serta pemanfaatan media sosial juga penting agar masyarakat mendapat informasi yang benar,” jelasnya.

 

Tindak Penimbunan

Di sisi lain, Marwan menyoroti fenomena kenaikan harga eceran BBM dan praktik penimbunan yang kerap muncul saat bencana terjadi. Hal ini dinilai perlu ada ketegasan dari aparat penegak hukum agar situasi tidak semakin sulit bagi masyarakat.

“Penegak hukum harus bersikap tegas dengan penerapan sanksi yang setimpal. Ini penting untuk menjaga stabilitas pasokan dan mencegah pihak-pihak tertentu memanfaatkan keadaan,” ujarnya.

Dengan berbagai langkah yang ditempuh, Marwan yakin bahwa Pertamina pada akhirnya mampu melewati tantangan ini dan memastikan distribusi BBM kembali normal di wilayah-wilayah terdampak.

“Saya yakin masalah ini bisa teratasi. Tinggal memastikan koordinasi, disiplin lapangan, dan pengawasan berjalan optimal,” tutupnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya