Liputan6.com, Jakarta - Sampah rumah tangga masih menjadi persoalan yang akrab dalam kehidupan sehari-hari. Tumpukan sisa makanan dan kulit buah yang keluar dari dapur setiap hari, sebagian besar berakhir di tempat pembuangan. Tidak banyak yang sempat memikirkan bahwa limbah itu sebenarnya masih bisa memberi manfaat.
Advertisement
Namun, di satu sudut permukiman padat di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, seorang ibu rumah tangga mencoba menghadirkan perubahan kecil. Namanya Lily Ulyani (64).
Sejak 2021, ia memperkenalkan eco enzyme, cairan hasil fermentasi limbah organik yang dapat digunakan untuk perawatan luka hingga pembersih rumah, kepada para tetangganya.
Perjalanan Lily mengenal eco enzyme bermula dari kegemarannya mengikuti berbagai komunitas. Salah satunya EE Nusantara, komunitas yang aktif mengedukasi masyarakat tentang pengolahan sisa buah dan sayur menjadi cairan serbaguna ramah lingkungan.
Dari sana, Lily belajar bahwa limbah dapur tak harus menjadi beban, bagaimana limbah yang dibuang bisa kembali bernilai.
"Eco-enzyme kan dibuat dari limbah dapur. Jadi apa yang sudah tidak terpakai bisa dimanfaatkan lagi,” ujarnya saat ditemui Liputan6.com, Kamis (4/12/2025).
Usai belajar, Lily mulai mempraktikkan pembuatan eco enzyme di rumah. Tantangannya bukan pada proses, melainkan pada pengumpulan sampah organik yang sesuai. Ia bahkan pernah gagal pada percobaan pertama. “Karena kan nggak semua sampah buah atau sayur itu bisa dipakai,” tuturnya.
Namun ia tidak berhenti. Setiap kali bertemu tetangga, entah sedang berkumpul sepulang kajian atau saat anak-anak bermain di depan rumah, Lily selalu membagikan cerita tentang manfaat eco enzyme.
Suatu hari, seorang anak kecil terjatuh dari sepeda di dekat rumahnya. Luka itu langsung ia semprot dengan ecoenzyme.
“Waktu itu ada anak kecil luka pas jatuh dari sepeda, lukanya langsung saya semprot pakai eco enzyme biar cepat kering dan nggak berbekas,” cerita Lily.
Pelan-pelan Menjadi Kebiasaan Warga
Awalnya, banyak warga meragukan manfaat cairan beraroma tajam itu. Tapi setelah melihat hasilnya, keraguan pelan-pelan memudar.
“Kalau ada tetangga kena musibah luka, kena air panas, badan gatal, atau kaki kram, saya obatin pakai eco-enzyme. Alhamdulillah sembuh,” kata Lily.
Dari situ, rasa penasaran tumbuh. Ada yang mencoba membuat sendiri, ada pula yang meminta langsung kepada Lily. Ia memilih pendekatan paling sederhana: demonstrasi.
"Begitu mereka lihat sendiri, jadi percaya," tambahnya.
Dampak Nyata untuk Lingkungan
Manfaatnya tak hanya terasa pada tubuh manusia. Got di dekat rumah yang dahulu berbau menyengat menjadi lebih bersih setelah Lily menuangkan eco-enzyme ke dalamnya. Lantai rumah warga juga lebih kesat dan bebas serangga ketika dipel memakai cairan tersebut.
“Lingkungan dan udara sekarang lebih bersih. Sampah rumah tangga juga berkurang,” ujarnya.
Sebelum membagikannya ke warga, Lily selalu mencoba sendiri di rumah—baik untuk luka anggota keluarga maupun sebagai cairan pembersih. Baginya, eco-enzyme bukan sekadar alternatif produk rumah tangga, tetapi solusi sederhana, murah, dan berdampak besar.
“Eco-enzyme is the best. Sangat membantu dalam rumah tangga. Semua ibu rumah tangga harus coba, karena manfaatnya banyak dan tidak perlu biaya besar,” pesannya.
Namun ia memberi catatan penting, eco enzyme tidak boleh diminum.
"Karena hasil fermentasi selama tiga bulan, ini tidak bisa diminum ya, hanya untuk luka luar saja,” tegasnya.
Dari halaman rumah seorang ibu, lahirlah gerakan kecil yang memberi napas baru di lingkungan. Tanpa spanduk besar atau program pemerintah, Lily menunjukkan bahwa menjaga bumi bisa dimulai dari dapur, dan dari kepedulian sederhana.
Kadang, perubahan tidak selalu datang dari panggung besar. Ia tumbuh pelan-pelan, dari tangan seorang ibu rumah tangga yang percaya bahwa setiap limbah punya peluang untuk berguna kembali.