Sony Masuk Pasar Stablecoin, Dorong Pembayaran Digital di Game dan Layanan Anime

Melalui stablecoin baru, Sony ingin memperkuat ekosistem digital dan mengurangi biaya transaksi kartu kredit.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 06 Desember 2025, 14:00 WIB
Sony Bank dilaporkan tengah menyiapkan stablecoin baru. Ilustrasi Stablecoin. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Sony Bank dilaporkan tengah menyiapkan stablecoin baru yang dipatok 1:1 dengan dolar Amerika Serikat dan akan dirilis di AS paling cepat pada tahun fiskal 2026. Langkah ini menjadi salah satu ekspansi terbesar perusahaan Jepang ke pasar stablecoin berbasis USD, seperti diberitakan Nikkei.

Dikutip dair coinmarketcap, Sabtu (6/12/2025), Stablecoin tersebut dirancang untuk mempermudah pembayaran digital di berbagai layanan Sony, mulai dari pembelian game PlayStation, judul mobile, konten anime, hingga layanan berlangganan.

Dengan adanya stablecoin, Sony menargetkan proses transaksi lintas negara menjadi lebih efisien serta mengurangi biaya yang biasanya dikenakan jaringan kartu kredit.

Meski detail teknis dan jaringan blockchain yang digunakan belum diumumkan, Sony menegaskan stablecoin ini akan menjadi opsi pembayaran tambahan bagi pelanggan di Amerika Serikat. Sony Bank juga telah mengajukan izin perbankan di AS untuk mendirikan anak usaha khusus stablecoin dan menggandeng Bastion, penerbit stablecoin berbasis AS, sebagai penyedia infrastruktur. Sony Ventures bahkan ikut berinvestasi dalam pendanaan Bastion senilai USD 14,6 juta.

Inisiatif ini dilakukan karena konsumen Sony di AS menyumbang sekitar 30% dari penjualan eksternal perusahaan. Dengan memanfaatkan ekosistem stablecoin dolar yang kapitalisasinya menembus USD 291 miliar, Sony berharap dapat memperkuat posisi di pasar digital global.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Integrasi Ekosistem Sony

Ilustrasi kripto (Foto By AI)

Stablecoin dolar yang dikembangkan Sony nantinya akan digunakan untuk berbagai transaksi dalam ekosistem perusahaan. Pengguna dapat memakainya untuk membeli game, item dalam permainan, konten video, hingga pembayaran langganan. Token ini juga berpotensi menjadi solusi pembayaran lintas negara bagi komunitas game dan anime di seluruh dunia.

Sony Bank sebelumnya membentuk divisi khusus Web3 untuk mengeksplorasi layanan berbasis blockchain, termasuk dompet digital untuk aset kripto dan NFT. Rencana stablecoin ini dijalankan bersamaan dengan tren global, di mana sejumlah institusi besar juga mulai mengembangkan token serupa—mulai dari Western Union hingga bank-bank besar di Eropa.

Meski belum merinci tokenomics, Sony menegaskan fokus stablecoin mereka adalah fungsi pembayaran, bukan spekulasi. Token akan dipatok 1:1 terhadap dolar AS agar nilai tetap stabil dan mudah digunakan untuk transaksi digital.

 

Belum Sepenuhnya Mulus

Ilustrasi berbagai macam aset kripto. (Foto By AI)

Stablecoin ini juga menjadi bagian dari strategi Web3 Sony yang semakin agresif. Perusahaan sebelumnya memperkenalkan Soneium, blockchain Layer 2 berbasis Ethereum yang ditujukan bagi kreator konten, komunitas, serta ekosistem hiburan digital. Dengan stablecoin, Sony berharap pembayaran dalam ekosistem Web3 dapat lebih praktis dan terintegrasi.

Namun, proyek ini belum sepenuhnya mulus. Regulasi jadi tantangan utama, terutama di Amerika Serikat. Independent Community Bankers of America (ICBA) memperingatkan bahwa stablecoin Sony berpotensi menyerupai produk rekening giro namun tidak memiliki perlindungan asuransi FDIC. Hal ini dinilai bisa menimbulkan risiko bagi konsumen bila persyaratan regulasi belum terpenuhi.

Meski begitu, Sony tetap percaya diri bahwa stablecoin dapat meningkatkan efisiensi pembayaran digital, memperkuat loyalitas pengguna, dan membuka peluang baru dalam industri game serta anime global. Proyek ini diharapkan menjadi fondasi pembayaran masa depan dalam ekosistem digital Sony.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya