Putin Tolak Sejumlah Poin Usulan AS untuk Akhiri Perang Ukraina

Upaya perdamaian ini jadi inisiatif paling intens yang dilakukan Presiden AS Donald Trump sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina hampir empat tahun lalu.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 05 Desember 2025, 11:03 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin dalam pertemuan dengan para pakar kebijakan luar negeri di Klub Diskusi Valdai, di resor Laut Hitam Sochi, Rusia, Kamis, (2/10/2025). (Dok. Mikhail Metzel, Sputnik, Foto Pool Kremlin via AP)

Liputan6.com, Moskow - Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan bahwa sejumlah poin dalam proposal Amerika Serikat untuk mengakhiri perang di Ukraina belum dapat diterima oleh Moskow.

Pernyataan ini, yang dirilis pada Kamis (4/12/2025) memberi sinyal bahwa tercapainya kesepakatan damai masih berada pada jarak yang cukup jauh.

Upaya diplomatik terbaru ini merupakan inisiatif paling intens yang dilakukan Presiden AS Donald Trump sejak invasi penuh Rusia ke Ukraina hampir empat tahun lalu.

Namun, prosesnya kembali tersendat oleh persoalan fundamental—mulai dari wacana penyerahan wilayah oleh Ukraina hingga jaminan keamanan jangka panjang dari potensi agresi Rusia di masa depan, dikutip dari Japan Today, Jumat (5/12).

Utusan khusus Trump, Steve Witkoff, bersama Jared Kushner, dijadwalkan bertemu dengan delegasi Ukraina yang dipimpin Menteri Pertahanan Rustem Umerov pada Kamis malam. Pertemuan tersebut dilakukan setelah keduanya sebelumnya berdiskusi langsung dengan Putin di Kremlin.

Pertemuan lanjutan akan digelar di Shell Bay Club, sebuah properti golf milik Witkoff di Hallandale Beach, dengan jadwal dimulai pukul 17.00 waktu AS Timur. Seorang pejabat yang mengetahui persiapan acara tersebut menyampaikan informasi ini secara anonim karena pertemuan belum diumumkan kepada publik.

Putin menggambarkan diskusinya selama lima jam dengan Witkoff dan Kushner sebagai sesuatu yang "diperlukan," "bermanfaat," namun juga "sulit." Ia mengakui bahwa beberapa usulan AS tidak dapat diterima Rusia.

Berbicara kepada India Today sebelum tiba di New Delhi untuk kunjungan kenegaraan, Putin mengatakan bahwa proposal AS—yang sebagian dikembangkan dari diskusi sebelumnya termasuk pertemuannya dengan Trump di Alaska pada Agustus—juga memuat sejumlah elemen baru.

"Kami harus membahas hampir setiap poin secara detail, itulah sebabnya pertemuan berlangsung lama," ujar Putin. "Pembicaraan itu padat, substantif, dan sangat spesifik. Ada hal-hal yang bisa didiskusikan lebih lanjut, tetapi ada juga yang tidak dapat kami setujui."

Trump, pada Rabu, menyampaikan bahwa utusannya meninggalkan pertemuan dengan keyakinan bahwa Putin ingin mengakhiri perang. “Kesan mereka sangat kuat bahwa dia menginginkan sebuah kesepakatan,” katanya.

Putin mengungkapkan bahwa proposal perdamaian awal AS yang terdiri dari 28 poin telah direvisi menjadi 27 poin dan dibagi ke dalam empat kelompok besar. Ia tidak menjelaskan bagian mana yang dapat diterima atau ditolak Moskow, dan para pejabat lain yang terlibat juga tidak memberikan rincian negosiasi.

Meski demikian, Putin memuji upaya diplomatik Trump. Ia menekankan bahwa mencari kesepakatan antara dua pihak yang tengah berperang adalah tugas yang rumit. “Terlalu dini untuk mengatakan apa yang dapat atau tidak dapat kami setujui,” kata Putin. “Pernyataan terbuka semacam itu bisa mengganggu proses yang sedang dibangun Presiden Trump.”

Putin menegaskan kembali tujuan Rusia untuk merebut seluruh wilayah Donetsk di Ukraina timur. “Semua ini bermuara pada dua kemungkinan: kami mengambil wilayah itu dengan kekuatan, atau pada akhirnya pasukan Ukraina mundur,” ucapnya.

 

Respons Eropa dan Peran Tiongkok

Presiden Donald Trump dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy saat berada di Istana Elysee pada 7 Desember 2024 serta Presiden Vladimir Putin saat berpidato di Forum Teknologi di Moskow pada 21 Februari 2025. (Dok. AP/Aurelien Morissard dan Pavel Bednyakov)

Sementara AS memimpin dialog langsung dengan Moskow dan Kyiv, para pemimpin Eropa merasa tersingkir dari proses. Beberapa di antaranya menilai bahwa Putin hanya berpura-pura tertarik pada inisiatif perdamaian Trump.

Presiden Prancis Emmanuel Macron sedang berada di Beijing untuk mengupayakan peran Tiongkok dalam mendorong gencatan senjata. Presiden Xi Jinping, yang selama ini menunjukkan dukungan diplomatik bagi Putin, tidak memberikan komitmen baru, namun menegaskan bahwa Tiongkok mendukung “setiap upaya yang mendorong tercapainya perdamaian.”

Di lapangan, kekerasan masih berlangsung. Serangan rudal Rusia di Kryvyi Rih pada Rabu malam melukai enam orang, termasuk seorang anak perempuan berusia tiga tahun, menurut pejabat kota Oleksandr Vilkul. Serangan tersebut merusak lebih dari 40 bangunan, sebuah sekolah, dan pipa gas rumah tangga.

Di Kherson, seorang anak perempuan berusia enam tahun meninggal setelah terluka akibat tembakan artileri Rusia. Wilayah itu juga mengalami gangguan pemanas setelah Pembangkit Listrik Tenaga Panas Kherson rusak akibat drone dan artileri dalam beberapa hari terakhir, memaksa pemerintah setempat mencari sumber pemanas alternatif.

Rusia juga menggempur Odessa dengan drone, melukai enam orang serta merusak infrastruktur penting.

Secara keseluruhan, pejabat Ukraina melaporkan bahwa Rusia menembakkan dua rudal balistik dan 138 drone dalam satu malam.

Sementara itu, di wilayah Kherson yang dikuasai Rusia, dua pria tewas setelah kendaraan mereka terkena serangan drone Ukraina, menurut pejabat lokal yang ditunjuk Moskow.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya