Prediksi Rupiah terhadap Dolar AS Hari Ini 5 Desember 2025, Bakal Sentuh Level Segini

Berikut sentimen yang akan pengaruhi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat, (5/12/2025).

oleh Tira SantiaDiterbitkan 05 Desember 2025, 07:49 WIB
Karyawan menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di Jakarta, Rabu (30/12/2020). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 80 poin atau 0,57 persen ke level Rp 14.050 per dolar AS. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menproyeksikan rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di level Rp 16.690 pada perdagangan Jumat, (5/12/2025). Sejumlah faktor akan mempengaruhi kurs dolar AS terhadap rupiah, salah satunya sentimen the Federal Reserve (the Fed).

"Sedangkan untuk perdagangan, 5 Desember 2025 mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang  Rp 16.650- Rp 16.690," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat, 5 Desember 2025.

Sebelumnya, pada perdagangan Kamis, 4 Desember 2025, mata uang rupiah ditutup melemah di level Rp 16.653. Menurut dia, rupiah semakin melemah jika dibandingkan pada perdagangan Rabu, 3 Desember 2025 yang berada di level Rp 16.628.

"Pada perdagangan sore ini (Kamis, 4 Desember 2025) mata uang rupiah ditutup melemah 25 poin sebelumnya sempat melemah 30 point di level Rp 16.653 dari penutupan sebelumnya di level Rp 16.628," ujar dia.

Ibrahim pun membeberkan sejumlah faktor yang mempengaruhi pelemahan rupiah, di antaranya data AS mendukung spekulasi pelonggaran The Fed. Penurunan ini terjadi meskipun pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin hampir 90% pada pertemuan The Fed 9-10 Desember, menurut perangkat CME FedWatch.

Sehingga data terbaru di AS memperkuat sentimen terhadap penurunan suku bunga. Jumlah tenaga kerja swasta menyusut 32.000 pada November menurut laporan ketenagakerjaan ADP, penurunan yang signifikan dari revisi kenaikan 47.000 pekerjaan pada Oktober dan jauh di bawah ekspektasi pertumbuhan positif.

Sementara itu, indeks jasa Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan ekspansi moderat pada bulan November, tetapi data yang mendasarinya menunjukkan penurunan.

"Investor kini menunggu sinyal yang lebih pasti dari Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan September yang tertunda, tolok ukur inflasi pilihan The Fed, yang akan dirilis Jumat, untuk mengonfirmasi seberapa agresif kemungkinan penurunan suku bunga," ujarnya.

Lebih lanjut, kata Ibrahim, yang menambah ketidakpastian adalah laporan media pemerintahan Trump tiba-tiba membatalkan wawancara dengan beberapa kandidat pengganti Jerome Powell, memperkuat spekulasi bahwa Kevin Hassett dapat muncul sebagai ketua The Fed berikutnya. Laporan tersebut telah memperkuat ekspektasi akan sikap The Fed yang lebih dovish di bawah kepemimpinan baru.

Perang Ukraina dan Rusia

Teller tengah menghitung mata uang rupiah dan dolar di Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (10/1). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat di perdagangan pasar spot hari ini. Rupiah berada di zona hijau. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kemudian faktor lainnya yakni, Ukraina kembali menyerang pipa minyak Druzhba di wilayah Tambov, Rusia tengah, menurut sumber intelijen militer Ukraina pada hari Rabu. 

"Ini merupakan serangan kelima terhadap pipa yang menyalurkan minyak Rusia ke Hongaria dan Slovakia," ujarnya.

Selain itu, perwakilan Presiden AS Donald Trump keluar dari perundingan damai dengan Kremlin tanpa terobosan spesifik untuk mengakhiri perang. Trump mengatakan tidak jelas apa yang terjadi sekarang.

 

Faktor Internal

Pegawai memperlihatkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, yang mempengaruhi pelemahan rupiah di dalam negeri adalah perkiraan para ekonom terkait pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya akan mencapai kisaran 5% hingga 5,1%, dan mencapai 5,2% pada 2026. 

"Proyeksi tersebut lebih rendah dari target dalam Asumsi Ekonomi Makro APBN 2025 sebesar 5,2%. Dari sisi fiskal, realisasi belanja pemerintah perlu terus diakselerasi sesuai dengan outlook fiskal yang disampaikan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025," ujarnya.

Berdasarkan perhitungannya, apabila pemerintah ingin mencapai outlook belanja fiskal APBN, maka dalam sisa dua bulan terakhir 2025 perlu direalisasikan belanja sebesar Rp 934 triliun. Besaran belanja tersebut dinilai akan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan atau akselerasi pertumbuhan ekonomi pada kuartal tersebut.

Sementara itu, pada kuartal IV 2025, pertumbuhan ekonomi diperkirakan lebih akseleratif atau tumbuh 5,08%, naik dari kuartal sebelumnya sebesar 5,04%, didorong oleh terutama periode Natal dan Tahun Baru. Namun dinamika ekonomi global masih diwarnai fluktuasi mulai dari kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) hingga perlambatan permintaan dunia.

Sejumlah data awal telah mengindikasikan perbaikan yang konsisten. Tercermin dari Purchasing Manufacturing Index (PMI) meningkat ke 53,3, sementara indeks keyakinan konsumen mencapai titik tertinggi dalam lima bulan.

   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya