Liputan6.com, Jakarta - Rencana ekspansi PT JSI Sinergi Mas ke sektor energi dan pertambangan, termasuk komoditas silika, mendorong PT Leyand International Tbk (LAPD) menyiapkan sejumlah strategi untuk menyelaraskan arah bisnis kedua perusahaan. Upaya ini dinilai membutuhkan pondasi permodalan yang lebih solid.
Dalam rangka itu, Leyand International tengah mengkaji kemungkinan aksi korporasi sebagai langkah memperkuat struktur modal. Per September 2025, ekuitas perseroan tercatat sebesar Rp 26,7 miliar, sedikit menurun dibandingkan akhir 2024 yang mencapai Rp 28,3 miliar. Pelemahan ini terjadi akibat defisiensi modal yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp 21,1 miliar.
Advertisement
Melihat kondisi tersebut, Direktur Utama Leyand International Bambang Rahardja Burhan menegaskan komitmennya untuk memperkuat pondasi keuangan perusahaan.
"Tujuannya agar mendukung strategi dan kelangsungan usaha perseroan," ujar Bambang dalam keterangan resmi, Kamis, (4/12/2025).
Jajaki Berbagai Skema
Ia menambahkan skema dan rincian rencana aksi korporasi masih dalam tahap penjajakan dan kajian internal. Perseroan juga harus memperoleh persetujuan pemegang saham, terutama dari JSI sebagai pemegang kendali yang baru.
Bambang menjelaskan rencana tersebut juga mempertimbangkan berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi makro, dinamika pasar modal, regulasi yang berlaku, perkembangan ekonomi global, hingga faktor lain yang berpotensi memengaruhi kelangsungan usaha perusahaan.
Meski masih dikaji, Bambang memastikan bahwa perseroan akan menyampaikan keterbukaan informasi kepada publik dan otoritas apabila rencana tersebut sudah final.
Perluas Portofolio Bisnis
Adapun JSI, selaku pengendali baru, tengah memperluas portofolio bisnisnya di sektor energi dan pertambangan termasuk pasir silika. Bambang melihat langkah JSI ini sebagai peluang pendapatan baru yang menjanjikan bagi Leyand International.
Jika perusahaan nantinya terlibat dalam bisnis JSI, ia menegaskan komitmen untuk mematuhi ketentuan POJK No. 17/POJK.04/2020 mengenai Transaksi Material dan Perubahan Kegiatan Usaha.
Ia juga menilai sektor energi dan pertambangan pasir silika memiliki prospek untuk memperbaiki kinerja keuangan perusahaan. Namun seluruh rencana tetap bergantung pada keputusan JSI sebagai pengendali utama perseroan.