Liputan6.com, Jakarta - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) menguat membuat nilai tukar rupiah kembali bergerak melemah pada pembukaan perdagangan Kamis pagi. Rupiah dibuka terkoreksi 2 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp 16.630 per dolar AS, turun tipis dari sehari sebelumnya di level Rp 16.628 per dolar AS.
Pergerakan ini menandai masih kuatnya tekanan dari kurs dolar di tengah sentimen global yang cenderung berhati-hati.
Advertisement
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa sikap investor masih dipenuhi kewaspadaan menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan digelar pekan depan.
“Investor tetap berhati-hati menjelang rilis data ekonomi AS dan pertemuan FOMC minggu depan,” ujarnya dikutip dari Antara, Kamis (4/12/2025).
Menurut Josua, pergerakan rupiah hari ini diperkirakan berada di rentang Rp 16.550 hingga Rp 16.650 per dolar AS. Ia menilai ruang pelemahan bisa tertahan oleh menurunnya permintaan kurs dolar setelah rilis data tenaga kerja AS yang menunjukkan perlambatan.
Data AS
Lebih lanjut, Josua menyoroti laporan ketenagakerjaan Automatic Data Processing (ADP) yang menunjukkan kontraksi cukup tajam. Pada November 2025, ADP mencatat penurunan 32 ribu pekerjaan, jauh lebih buruk dari ekspektasi pasar sebesar 10 ribu dan menukik dari 47 ribu pekerjaan pada bulan sebelumnya.
Catatan ini menjadi yang terlemah sejak Maret 2023 dan memberikan sinyal pelemahan signifikan di sektor tenaga kerja AS.
Selain itu, kinerja sektor jasa juga menunjukkan arah yang beragam. S&P Global US Services PMI tergelincir ke level 54,1 pada November 2025 dari 55,0 sebelumnya. Sementara itu, ISM Services Index justru naik tipis ke 52,6 dari 52,4.
Data-data tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika kurs dolar dan membuat investor terus memantau perkembangan ekonomi AS secara ketat.
Kemungkinan Penurunan Suku Bunga
Kombinasi data tenaga kerja dan sektor jasa tersebut mendorong meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Josua menyampaikan bahwa peluang penurunan suku bunga pada Desember 2025 kini diperkirakan mencapai 89 persen, naik dari proyeksi sebelumnya sebesar 83 persen.
Ekspektasi ini turut membentuk sentimen pelaku pasar terhadap kurs dolar dan menjadi faktor penting dalam pergerakan rupiah beberapa hari mendatang. Meski demikian, pasar diperkirakan tetap akan bersikap berhati-hati hingga FOMC memberikan sinyal yang lebih jelas terkait arah kebijakan moneter.
Dengan berbagai indikator yang menunjukkan pelemahan ekonomi AS, dinamika kurs dolar diprediksi masih fluktuatif. Rupiah pun berpotensi bergerak terbatas sambil menunggu kepastian dari bank sentral AS.