Liputan6.com, Aceh Tengah - Demi mendapat bantuan, warga korban banjir bandang di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, berinisiatif membuat helipad mandiri.
Advertisement
Badri, seorang warga di Aceh Tengah mengaku sudah seminggu belum mendapat bantuan. "Kami berharap dengan adanya pembuatan helipad ini ada harapan kami untuk hidup nantinya, karena kami sudah lebih seminggu tidak mendapatkan bantuan sebutir beras pun," katanya.
Inisiatif warga tersebut karena keputusasaan menunggu datangnya bantuan dari pemerintah usai bencana banjir dan tanah longsor melanda desa mereka.
Badri menyampaikan, Kemukiman Wih Dusun Jamat terisolir sejak bencana alam terjadi. Sedangkan bantuan usai bencana yang diharapkan warga tak kunjung datang.
Menurutnya, warga desa juga membutuhkan obat-obatan. Karena itu sangat diharapkan bantuan massa darurat bencana dapat segera menjangkau desa mereka.
"Saat ini kami hanya memiliki dua harapan untuk hidup, pertama pertolongan tuhan Yang Maha Esa, kedua kepada bantuan Bapak Prabowo," ujarnya.
"Jumlah warga yang terdampak di sini ratusan, mulai dari balita, ibu hamil, hingga lansia. Kami merasa saat ini kematian sudah di depan mata," tegas Badri.
Wilayah Kecamatan Linge menjadi salah satu kawasan yang masih terisolir pasca bencana banjir bandang dan tanah longsor yang berdampak pada 75 persen wilayah Kabupaten Aceh Tengah.
Bupati Aceh Tengah Haili Yoga dalam hal ini menyampaikan terdapat 97 desa yang terisolir akibat bencana hidrometeorologi di kabupaten setempat.
Sedangkan korban bencana, hingga saat ini tercatat 22 orang meninggal dunia dan 23 jiwa dinyatakan hilang.
Warga Geruduk Kantor Bupati
Sejumlah warga Takengon korban banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tengah menggeruduk kantor bupati setempat menuntut bantuan sembako dan stok BBM.
BACA JUGA:Bantu Warga Korban Banjir, Pertamina Dirikan Posko di Fuel Terminal MedanRudi, seorang warga yang datang ke lokasi merasa marah dengan pemda yang sampai saat ini belum melakukan penanganan apapun terhadap korban banjir.
"Apa saja kerja pemerintah ini, sampai hari ini belum ada penanganan apapun. Itu Bupati kalau tidak sanggup mundur saja," kata Rudi.
Aksi tersebut dilakukan warga karena kecewa terhadap pemerintah daerah yang dinilai lambat dalam penanganan bencana di daerah tersebut.
Aksi berlangsung tertib tanpa adanya tindakan anarkis. Warga berharap pemerintah daerah dapat bergerak cepat dalam penanganan bencana banjir dan tanah longsor.
"Sudah seminggu pak, kami masyarakat belum dapat bantuan apapun. Sebutir beras pun kami belum terima," teriak warga dalam kerumunan massa.
Usai banjir dan tanah longsor, saat ini masyarakat masih mengalami krisis pangan dan air bersih. Beras, sembako, gas LPG, dan BBM hilang di pasaran. Listrik juga masih padam total dan jaringan komunikasi juga belum pulih.
Kata BPBD Aceh Tengah
Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Aceh Tengah, Andalila mengatakan bantuan pangan berupa beras baru masuk pada Senin, 1 Desember 2025.
Menurut dia, bantuan beras tersebut hanya sebanyak 6,5 ton untuk wilayah Aceh Tengah. Sedangkan untuk bahan sembako lainnya masih sangat minim.
"Sampai saat ini kita memang masih sangat kekurangan untuk sembako. Beras kemarin ada masuk 13 ton, tapi kita bagi dua dengan Kabupaten Bener Meriah, jadi kita dapat 6,5 ton," kata Andalila.
Dia menuturkan, Aceh Tengah saat ini masih terisolasi dengan akses jalan masuk ke wilayah ini banyak terputus dihantam banjir dan tanah longsor.
"Data sementara, hingga saat ini dilaporkan sebanyak 22 orang meninggal dunia dan 23 orang masih hilang," ungkap Andalila.