Iran Sampaikan Belasungkawa dan Tawarkan Bantuan untuk Korban Bencana Sumatera

Bencana banjir dan tanah longsor tidak hanya melanda Indonesia, namun juga sejumlah negara di kawasan Asia Tenggara.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 02 Desember 2025, 07:38 WIB
Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Padang, Kecamatan Koto Tangah menjadi wilayah dengan jumlah terdampak terbesar, yaitu 20.983 warga. Tampak dalam foto, warga bertahan di tepi sungai saat banjir melanda Padang, Provinsi Sumatra Barat, pada Kamis 27 November 2025. (REZAN SOLEH/AFP)

Liputan6.com, Teheran - Presiden Masoud Pezeshkian menyatakan kesiapan Iran untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada Indonesia, setelah banjir dan tanah longsor yang katastrofis menimbulkan kerusakan luas.

Dalam pesan kepada Presiden Indonesia Prabowo Subianto yang disampaikan pada hari Senin (1/12/2025), Pezeshkian mengatakan bahwa ia sangat berduka atas tragedi yang telah merenggut nyawa dan melukai banyak orang di negara muslim yang disebutnya bersahabat dan penuh rasa persaudaraan ini.

"Pemerintah Republik Islam Iran menyatakan kesiapan penuhnya untuk memberikan bantuan kemanusiaan dan pertolongan kepada masyarakat di wilayah-wilayah yang terdampak. Pemerintah juga berharap, dengan rahmat Tuhan, konsekuensi dari bencana alam ini dapat segera teratasi dan keadaan kembali normal," tambahnya seperti dikutip dari Press TV.

Pezeshkian juga menyampaikan belasungkawa atas nama pemerintah dan rakyat Iran kepada Presiden Prabowo dan bangsa Indonesia.

Ia berdoa agar mereka yang kehilangan nyawa dalam hujan badai yang dipicu siklon mendapat rahmat Ilahi dan berharap para korban luka dapat segera pulih.

Hujan deras memicu banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Indonesia, Sri Lanka, Thailand, dan Malaysia, yang menewaskan setidaknya 1.150 orang dan membuat ratusan lainnya hilang.

Badan penanggulangan bencana Indonesia menyatakan bahwa jumlah korban tewas telah meningkat menjadi 604 orang. Sebanyak 464 orang lainnya masih hilang sementara tim penyelamat terus melakukan pencarian di area-area yang hancur.

Para ahli meteorologi memperkirakan bahwa cuaca ekstrem yang melanda Asia Tenggara dipicu oleh interaksi Topan Koto di Filipina dan Siklon Senyar yang terbentuk di Selat Malaka.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya