Update Soal Right Issue, INET Tegaskan Tak Ada Perubahan Rencana

PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menyampaikan perkembangan terbaru terkait rencana aksi korporasi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau Right Issue.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 01 Desember 2025, 18:00 WIB
Pekerja mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di salah satu perusahaan Sekuritas, Jakarta, Rabu (14/11). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil bertahan di zona hijau pada penutupan perdagangan hari ini. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) menyampaikan perkembangan terbaru terkait rencana aksi korporasi Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) atau Right Issue senilai Rp 3,2 triliun yang saat ini tengah diproses di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Perseroan menegaskan rencana tersebut tetap berjalan sesuai agenda awal dan tidak mengalami perubahan, termasuk komitmen dari pemegang saham pengendali.

Direktur Utama INET, Muhammad Arif, menjelaskan perusahaan telah merampungkan seluruh jawaban atas pertanyaan yang diajukan regulator dan kini menunggu tindak lanjut berikutnya. Ia menyebut bahwa proses Right Issue sudah mencapai tahap Rek 2 di OJK.

Dalam pemaparannya, Arif menyampaikan bahwa selain Right Issue, perusahaan juga sedang mempersiapkan penerbitan obligasi pada awal 2026.

“Saat ini INET dari sekian banyak corporate action yang memang sudah kita sampaikan tadi, kita memang ada selain Right Issue kita juga ada rencana obligasi di awal tahun 2026. Saat ini sudah dalam proses juga di OJK untuk obligasi sendiri, rencananya sebesar Rp 1 triliun untuk obligasi an kalau untuk Right Issue saat ini kita sudah Rek 2 di OJK, kita sudah juga menyampaikan seluruh pertanyaan dari OJK juga, jadi kita masih menunggu update terbaru dari OJK sendiri,” ujarnya dalam acara Public Expose Insidentil, Senin (1/12/2025).

Arif menambahkan perusahaan telah menuntaskan seluruh dokumen yang dibutuhkan dan kini tinggal menunggu keputusan regulator.

Arif menegaskan tidak ada perubahan terhadap rencana maupun komitmen tersebut, sekaligus memastikan bahwa struktur pendanaan Right Issue tetap selaras dengan agenda ekspansi infrastruktur digital perusahaan.

 

Target Penggunaan Dana

Pengunjung melintas dilayar pergerakan saham di BEI, Jakarta, Senin (30/12/2019). Pada penutupan IHSG 2019 ditutup melemah cukup signifikan 29,78 (0,47%) ke posisi 6.194.50. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Arif, memaparkan aksi korporasi ini merupakan langkah strategis untuk mempercepat pengembangan infrastruktur digital perusahaan.

Arif menegaskan rights issue ini dirancang sebagai momentum untuk memperkuat ekspansi backbone dan jaringan fiber, termasuk proyek FTTH serta penguatan kapasitas pada jaringan kabel laut. Dalam pemaparannya, ia mengutip struktur aksi korporasi yang menekankan keberlanjutan pertumbuhan.

Arif menjelaskan penambahan modal ini juga memberikan kesempatan bagi pemegang saham lama untuk mempertahankan proporsi kepemilikan mereka, sekaligus mendukung pendanaan ekspansi infrastruktur perusahaan secara lebih cepat. Ia menggarisbawahi bahwa struktur harga dan rasio pelaksanaan rights issue telah dirancang agar menarik bagi seluruh pemegang saham.

 

Terbitkan 12,8 Miliar Saham Baru

Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Jakarta, Senin (3/1/2022). Pada pembukan perdagagangan bursa saham 2022 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung menguat 7,0 poin atau 0,11% di level Rp6.588,57. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Dalam aksi korporasi ini, INET akan menerbitkan 12,8 miliar saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 250 per saham, setara dengan potensi dilusi hingga 57,14%. Sebagian besar dana akan dialokasikan untuk pembangunan 2 juta homepasses berbasis Wi-Fi 7 di Bali dan Lombok, pembayaran IRU kabel laut, serta pengembangan FTTH di Jawa.

Komitmen Pengendali

INET memastikan aksi korporasi ini telah mendapat dukungan penuh dari pemegang saham pengendali, PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara, yang saat ini memegang 60,62% saham perusahaan. 

Pemegang saham tersebut telah menyatakan komitmen penuh menyerap seluruh haknya sebesar Rp 1,78 triliun. Abadi Kreasi Unggul Nusantara juga bertindak sebagai standby buyer hingga Rp 1,41 triliun, menjamin penyerap­an saham yang tidak dieksekusi pemegang saham lain.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya