Gelombang Panas Laut Picu Kematian Massal Tiram di Jepang

Angka kematian tiram di Jepang mencapai 90 persen. Dianggap tidak wajar.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 02 Desember 2025, 10:21 WIB
Ilustrasi tiram 9Sumber: Pixabay/jsbaw7160)

Liputan6.com, Tokyo - Tiram di sejumlah wilayah produksi utama Jepang dilaporkan mati massal, dan para pejabat menduga pemanasan suhu laut menjadi penyebab utamanya.

Di kawasan pesisir Laut Pedalaman Seto di Jepang bagian barat -- yang menyuplai lebih dari tiga perempat produksi tiram budidaya nasional -- sekitar 90 persen tiram dilaporkan mati.

Angka ini jauh di atas tingkat kematian normal, dikutip dari laman Arab News, Selasa (2/12/2025).

“Saya belum pernah melihat kejadian seperti ini sepanjang karier saya,” ujar Tatsuya Morio, petani tiram yang sudah lebih dari dua dekade berkecimpung di industri ini.

Shoichi Yokouchi, pejabat wilayah Hiroshima yang berbatasan langsung dengan Laut Pedalaman Seto, mengatakan suhu air yang tinggi kemungkinan besar menjadi faktor utama di balik fenomena tersebut.

Data prefektur menunjukkan suhu rata-rata air laut di sekitar Hiroshima dari Juli hingga Oktober—periode krusial bagi pertumbuhan tiram—lebih tinggi 1,5 hingga 1,9 derajat Celsius dibanding rata-rata tahun 1991–2020.

Menurut Yokouchi, suhu yang lebih hangat dalam durasi panjang membuat tiram melemah sehingga lebih mudah terserang virus dan bakteri. Biasanya, tingkat kematian tiram berada di kisaran 30–50 persen.

Namun, survei Badan Perikanan pada pertengahan November mencatat angka kematian mencapai 60–90 persen di wilayah tengah dan timur Prefektur Hiroshima.

 

 

Faktor Lain

Faktor lain ikut memperburuk kondisi. Curah hujan rendah pada Juli menyebabkan kadar garam meningkat, membuat tiram semakin rentan, jelas Shinichiro Toi, pejabat yang menangani penelitian produk kelautan.

Pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang (MAFF) kini tengah menyelidiki penyebab pasti bersama otoritas daerah. Morio menambahkan kepada stasiun lokal Hiroshima Home Television bahwa bahkan varietas tiram yang biasanya lebih tahan panas turut terdampak.

Di Prefektur Hyogo, petani tiram Daiki Takeuchi mengaku hasil panen yang selamat pun tumbuh tidak normal.

“Ukurannya hanya sekitar setengah dari biasanya. Terus terang, sulit untuk menjualnya,” katanya.

Meski demikian, tiram di wilayah Sanriku, Jepang utara—yang menyumbang sekitar 17 persen produksi—dilaporkan tidak mengalami dampak serupa, menurut MAFF.

Pemanasan laut global terus menjadi perhatian. Panel Iklim PBB (IPCC) mencatat laju peningkatan suhu laut kini lebih dari dua kali lipat dibanding 1993. Suhu permukaan laut rata-rata bahkan memecahkan rekor pada 2023 dan 2024.

Hong Kong, Taiwan, Singapura, Vietnam, dan Thailand tercatat sebagai beberapa negara pengimpor utama tiram Jepang.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya