Manchester United Pernah Ditolak Carlo Ancelotti, Ini Alasannya

Carlo Ancelotti tak mau mengambil pekerjaaan di Manchester United, padahal dia telah memimpin beberapa klub besar Eropa.

oleh Achmad Yani YustiawanDiterbitkan 29 November 2025, 20:00 WIB
Bruno Fernandes dari Manchester United menyapa setelah pertandingan Premier League Summer Series antara Manchester United dan Everton FC di Stadion Mercedes-Benz pada 3 Agustus 2025 di Atlanta, Georgia. (AJ Reynolds/Getty Images via AFP)

Liputan6.com, Jakarta - Mantan pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer, mengungkapkan bahwa Carlo Ancelotti pernah mengaku tidak ingin menerima pekerjaan di Old Trafford. Itu dikatakannya saat mereka berhadapan di lapangan.

Pelatih asal Norwegia itu baru menjalani hampir tiga tahun perannya di Old Trafford sebelum dipecat. Solskjaer adalah mantan pemain MU pertama yang ditunjuk secara penuh waktu setelah Sir Alex Ferguson pensiun. Meski tim mengalami penurunan di era pasca-Ferguson, masih ada harapan besar bagi tim Manchester untuk tampil baik.

Seperti diketahui Ancelotti telah memimpin beberapa klub besar Eropa, yang paling terkenal adalah Real Madrid. Ia juga pernah melatih Bayern Munchen, AC Milan, PSG, dan Chelsea.

Namun, Solskjaer sempat mendengar langsung bahwa ia tidak menginginkan pekerjaan di MU. Itu diucapkannya di tengah pertandingan antara Everton dan Setan Merah.

"Saya ingat satu pertandingan lawan Everton. Berdiri di sana di area teknis saya. Carlo Ancelotti datang, jadi dia kurang lebih berada di area teknis saya. Wasit keempat berkata, 'Carlo, kamu harus kembali ke area teknismu, kecuali kamu menginginkan pekerjaan Ole," kata pria berusia 52 tahun itu kepada BBC.


Pekerjaan di MU Terlalu Banyak Tekanan

Pelatih Manchester United asal Portugal, Ruben Amorim (kanan), menyaksikan penyerang Manchester United asal Belanda #11, Joshua Zirkzee (kiri), meninggalkan lapangan setelah digantikan oleh gelandang Manchester United asal Inggris #37, Kobbie Mainoo, selama pertandingan Liga Primer Inggris antara Manchester United dan Newcastle United di Old Trafford di Manchester, Inggris barat laut, Selasa dini hari WIB (31-12-2024). (Darren Staples/AFP)

"Dan dia berkata 'tidak, tidak, tidak, terlalu banyak tekanan. Pekerjaan itu terlalu banyak tekanan'. Anda tahu tekanan adalah sebuah privilese, dia juga selalu mengatakan itu. Namun saya merasa istimewa menjadi manajer MU, tetapi tentu saja, Anda adalah wajah semua orang, segala sesuatu di sekitar klub".

Solskjaer sendiri mengaku dirinya mendapat privilese karena diizinkan untuk melakukan itu dan menghadapinya dengan cara sendiri. "Sayangnya, saya menjalani enam minggu yang sangat buruk dan itu terlalu lama di klub seperti Man Utd."


Sudah Lakukan Langkah Besar di Manchester United

Pelatih kepala Besiktas asal Norwegia, Ole Gunnar Solskjaer, bereaksi di akhir pertandingan pekan ke-7 fase liga Liga Europa UEFA antara Besiktas dan Athletic Bilbao di stadion Besiktas Park di Istanbul pada 22 Januari 2025. (Yasin AKGUL/AFP)

Solskjaer telah membuat langkah besar selama masa jabatannya di MU. Tapi, gagal mempersembahkan trofi, kalah di beberapa semifinal dan final Liga Europa. Perjalanannya sangat buruk, termasuk kekalahan memalukan 0-5 dari Liverpool di kandang sendiri yang akhirnya menyebabkan pemecatannya.

Dan pelatih asal Norwegia itu mengklaim bahwa, mengingat apa yang dihadapinya, ia tidak mungkin memilih waktu yang lebih buruk untuk memimpin klub yang pernah dibelanya.


Waktu Terburuk Menjadi Manajer Manchester United

Pelatih Manchester United, Ole Gunnar Solskjaer. (c) AP Photo

"Ini bukan tentang mendapatkan pujian," katanya. "Itu adalah waktu terburuk menjadi manajer Man Utd. Ada Jurgen Klopp dengan tim Liverpool-nya dan ada Pep Guardiola dengan tim Man City-nya."

"Manajer terbaik di dunia saat itu, mungkin dua tim terbaik di dunia saat itu. Namun, kami hanya finis di posisi kedua dan ketiga. Jadi, dengan staf yang ada, kami memiliki sesuatu yang bisa dilakukan, tetapi kami tidak bisa melangkah lebih jauh."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya